Mistik: Cerita Soekarno Disebut Punya Kekuatan Gaib Pawang Hujan dengan Kipasan Uang hingga Orang Rela Berebut Sisa Makanannya

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Kamis, 22 Januari 2026
0 dilihat
Mistik: Cerita Soekarno Disebut Punya Kekuatan Gaib Pawang Hujan dengan Kipasan Uang hingga Orang Rela Berebut Sisa Makanannya
Kharisma Soekarno melahirkan beragam kisah mistik, mulai pawang hujan hingga sisa makanan dipercaya bertuah. Foto: Repro Wikipedia.

" Di balik kharisma politik Soekarno, beredar kisah mistik tentang pawang hujan, sugesti kekuatan gaib, hingga sisa makanan presiden yang diperebutkan publik "

JAKARTA, TELISIK.ID - Di balik kharisma politik Soekarno, beredar kisah mistik tentang pawang hujan, sugesti kekuatan gaib, hingga sisa makanan presiden yang diperebutkan publik.

Tepat setiap 1 Juni, publik Indonesia kembali mengingat pidato bersejarah Soekarno tentang lahirnya Pancasila dalam sidang BPUPKI tahun 1945. Pidato tersebut menandai fondasi ideologis negara dan meneguhkan posisi Soekarno sebagai tokoh sentral dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Namun, selain dikenang sebagai proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno juga kerap dilekati berbagai cerita di luar ranah politik, termasuk kisah-kisah yang bernuansa mistik.

Cerita tersebut salah satunya datang dari Yurike Sanger, mantan istri Soekarno, yang mengungkap pengalamannya mendampingi sang presiden.

Dalam sebuah tayangan video di kanal YouTube Bucek Lie, Yurike menuturkan bagaimana sebagian masyarakat pada masa itu memandang Soekarno sebagai sosok yang seolah memiliki kekuatan di luar nalar manusia. Pandangan tersebut, menurutnya, muncul seiring besarnya rasa cinta, hormat, dan kekaguman publik terhadap Bung Karno.

“Kayak sugesti karena saking mereka cinta, respek, dan memuja Bung Karno, sampai mereka merasa ada sesuatu di balik Soekarno,” ujar Yurike Sanger dalam tayangan tersebut, seperti dikutip dari tvOnews, Kamis (22/1/2026).

Baca Juga: Dulu Benci Islam, Joram Van Klaveren Dapat 2000 Ancaman Pembunuhan Usai Mualaf

Pernyataan ini menggambarkan bagaimana kharisma politik dan personal Soekarno berkembang menjadi keyakinan tertentu di tengah masyarakat.

Yurike menceritakan, fenomena paling sering ia saksikan adalah orang-orang yang berebut sisa makanan Soekarno. Sisa nasi atau lauk yang ditinggalkan presiden kerap dianggap membawa pengaruh tertentu bagi mereka yang memakannya.

“Mereka itu sampai merasakan sendiri seperti ada kekuatan gaib bahwa dengan makan sisa itu bisa merasakan sesuatu,” kata Yurike. Fenomena tersebut terjadi bukan hanya sekali, melainkan berulang dalam berbagai kesempatan.

Meski demikian, Yurike menegaskan bahwa peristiwa itu tidak berkaitan dengan praktik mistik yang dilakukan Soekarno. Ia menilai, sugesti massal menjadi faktor utama yang mendorong keyakinan tersebut.

Dalam pandangannya, kharisma Soekarno yang kuat memengaruhi cara masyarakat memaknai kehadiran dan tindakan sang presiden, termasuk hal-hal yang bersifat sepele seperti sisa makanan.

Isu lain yang juga sempat beredar adalah kabar bahwa Soekarno memiliki kemampuan menghentikan hujan dengan cara mengipas-ngipaskan uang. Cerita ini beredar luas dan kerap dikaitkan dengan sebutan Soekarno sebagai pawang hujan. Yurike menanggapi kabar tersebut dengan nada ringan.

“Mungkin pawang hujan yang kipas-kipas. Kalau di Indonesia ada kan pawang hujan. Itu mungkin lucu-lucu atau pawang hujan,” ucapnya.

Yurike juga membantah rumor yang menyebut Soekarno memiliki benda-benda keramat atau kerap melakukan ritual tertentu. Ia menegaskan bahwa selama mendampingi Soekarno, ia tidak pernah melihat sang presiden melakukan praktik spiritual seperti semedi.

“Yang saya selalu tahu beliau itu selalu salat, bukan meditasi atau seperti semedi. Itu sama sekali belum pernah melihat,” tuturnya.

Baca Juga: Kerap Lihat Penampakan Hantu Belum Tentu Mistik, Begini Fakta Medisnya

Menurut Yurike, Soekarno dikenal sebagai pribadi yang religius dan menjalankan ibadah secara konsisten. Pandangan ini memperkuat penjelasannya bahwa cerita-cerita mistik yang berkembang lebih banyak bersumber dari persepsi masyarakat, bukan dari tindakan Soekarno sendiri. Dalam kesehariannya, Soekarno tetap menjalani peran sebagai kepala negara dengan rutinitas yang wajar.

Kharisma Soekarno juga tercermin dari cara publik merespons pidato-pidatonya. Yurike mengingat bagaimana masyarakat rela menghentikan aktivitas demi mendengarkan suara presiden melalui radio.

“Kalau pidato meski di radio, orang itu sampai ada yang berhenti kerja hanya untuk mendengar pidato Soekarno. Sebegitu kharismanya beliau sebagai seorang presiden,” kata Yurike. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

TAG:
Baca Juga