Pria Kaya Raya Ateis Asal Inggris Memilih Mualaf Usai Dapat Hidayah saat Pesta Minuman

Merdiyanto , telisik indonesia
Sabtu, 22 Maret 2025
0 dilihat
Pria Kaya Raya Ateis Asal Inggris Memilih Mualaf Usai Dapat Hidayah saat Pesta Minuman
Abdurahman Afia mendapat hidayah saat pesta minuman. Foto: Repro Arab News.

" Seorang pria asal Inggris bernama Abdurahman Afia memutuskan menjadi mualaf di usia 18 tahun setelah dirinya mendapat hidayah saat pesta minuman "

INGGRIS, TELSIK.ID - Seorang pria asal Inggris bernama Abdurahman Afia memutuskan menjadi mualaf di usia 18 tahun setelah dirinya mendapat hidayah saat pesta minuman.

Sebelum Abdurahman Afia menjadi mualaf, ia tidak mempercayai keberadaan tuhan atau atheis dan mengganggap agama merupakan tipu muslihat manusia.

Namun, perubahan pandangan di usia mudanya membuat Abdurahman Afia mendapat hidayah Allah SWT dan mantap masuk kedalam agama Islam.

Abdurahman Afia sendiri lahir dari keluarga kaya raya membuat masa kecilnya dilalui dengan sesuka hati. Dia melakukan apa yang diinginkan tanpa perlu menghiraukan apa pun. Semua yang ia mau dengan mudah didapat.

Abdurahman Afia menjalani kehidupan yang tergambar dari ketidakpeduliannya terhadap pendidikan dan orang lain. Satu-satunya hal yang ada di benaknya saat itu adalah "Saya akan mengambil alih bisnis ayah saya." Pasalnya waktu itu ayahnya mempunyai perusahaan desain interior yang sukses.

Namun, titik balik kehidupannya terjadi saat ia berusia 16 tahun, ketika sedang berpesta bersama teman-temannya dilansir dari okezone.com.

Baca Juga: Kisah Rosie Gabrielle, Biker Cantik Asal Kanada Mantap Mualaf Usai Traveling

"Pernahkah kamu bertanya kenapa kita hidup di dunia ini?" Ujar Abdurahman Afia menirukan pertanyaan temannya Simon yang dilontarkan saat mereka sedang berpesta minuman bersama rekan-rekan mereka.

Abdurahman Afia, yang sedang menikmati suasana pesta, merasa kesal kepada Simon dan mengabaikan pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang awalnya diabaikan itu ternyata melekat di benak Abdurahman. Hingga suatu ketika, saat berada di perpustakaan, ia pun terdorong untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan Simon tersebut.

Selama berbulan-bulan, ia mempelajari buku-buku agama Yudaisme, Kristen, Hindu, hingga Buddha, namun tidak menemukan jawaban yang dicari.

Sayangnya, perpustakaan itu tidak memiliki buku tentang Islam, karena stigma negatif yang melekat padanya akibat aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam.

"Penggambaran Islam atau orang Arab waktu itu sangat mengerikan," papar Abdurahman Afia, seperti dikutip dari kanal YouTube Ayatuna Ambassador.

Suatu hari, ia pergi ke Hyde Park, di mana ia menemukan orang-orang yang berdiskusi tentang berbagai agama, termasuk Buddha, Yahudi, Kristen, dan Islam.

Di sana, ia mendengarkan narasi dari penganut Buddha, Yahudi dan Kristen, namun Abdurahman Afia merasa bahwa jawaban yang ia cari tidak ditemukan di sana.

"Sejujurnya setiap orang yang saya dengar tidak ada yang nyambung dengan saya. Apa yang mereka sampaikan tidak memiliki kaitan dengan kehidupan nyata yang saya jalani," paparnya saat menceritakan pengalaman saat itu.

Baca Juga: Heboh Bobon Santoso Mualaf, Ucap Syahadat Dipandu Ustaz Derry Sulaiman dan Posting Ayat Ini

Ketika ia mencoba mendengarkan seorang Muslim berbicara, kata-katanya sangat menyentuh hatinya. Bahkan, Abdurahman Afia kembali ke sana selama enam bulan untuk terus mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya.

Akhirnya, ia memberanikan diri untuk berbicara dengan orang tersebut, mengungkapkan niatnya untuk memeluk Islam, meskipun pengetahuannya masih terbatas.

Pada momen itu, Abdurahman Afia mendapatkan bimbingan tentang Islam, termasuk pemahaman tentang Tuhan, malaikat, nabi-nabi, dan Alquran. Setelah itu, ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Ia sempat terkejut ketika langsung dipeluk oleh beberapa Muslim lain. Namun, Abdurahman Afia tetap merasa bersyukur karena telah menjadi seorang Muslim. (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

TAG:
Baca Juga