adplus-dvertising

Sosok Sitti Erni, Pengrajin Tenun Masalili Muna yang Karyanya Dikenakan Presiden Jokowi

Sunaryo, telisik indonesia
Kamis, 10 Februari 2022
2816 dilihat
Sosok Sitti Erni, Pengrajin Tenun Masalili Muna yang Karyanya Dikenakan Presiden Jokowi
Sitti Erni saat menenun kain yang dikenakan Presiden Joko Widodo. Foto: Ist.

" Rasa bangga dan haru dirasakan Sitti Erni, pengrajin tenun asal Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna "

MUNA, TELISIK.ID - Rasa bangga dan haru dirasakan Sitti Erni, pengrajin tenun asal Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna.

Wanita berusia 44 tahun itu tak membayangkan, kain tenun hasil karyanya bisa dikenakan oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) di puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2022 yang dipusatkan di Kota Kendari, Sultra, Rabu (9/2/2022).

"Saya tidak bisa berkata-kata Pak, hanya Tuhan yang tahu. Saya terharu dan bangga melihat foto Pak Jokowi memakai kain tenun yang kami buat," kata Erni, Kamis (10/2/2022).


Bicara menenun, bukan hal baru bagi Erni. Pemilik usaha Annisa Tenun Masalili itu mengaku mulai menenun menggunakan alat tradisional sejak 30 tahun silam. Ia belajar secara otodidak, melihat orang tuanya yang sehari-sehari bekerja sebagai pengrajin tenun.

"Awalnya hanya bantu-bantu orang tua mengangkat kain tenun yang sudah jadi, setelah itu saya belajar. Jadi pekerjaan ini (menenun) turun temurun," ujarnya.

Semenjak ibu empat anak itu pandai menenun, hasil karyanya sudah tidak bisa dihitung. Bahkan, motif-motif tenunannya yang beragam, sudah tembus hingga ke luar negeri berkat dukungan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Muna, Yanti Setiawati, yang telah mempromosikan di Moscow, Rusia dan Perancis.

"Motifnya beragam ada untuk bangsawan dan masyarakat umum yang identik dengan garis-garis serta warna terang seperti kuning, orange, dan hijau," terangnya.

Asal-usul kain tenun Masalili, menurutnya, telah ada sejak zaman Kerajaan Muna. Di mana dahulu, kainnya dibuat dari kulit kayu dan pohon kapas yang dipintal menjadi benang. Kemudian, pewarna benang menggunakan bahan alami dari tumbuhan.

"Menenun ini awalnya hanya sampingan, tetapi sekarang hampir semua wanita di Masalili menjadikan sebagai mata pencaharian," terang penenun senior itu.

Harga kain tenun ini sangat bervariasi, tergantung motif dan bahan yang digunakan. Harganya antara Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta.

"Untuk kain tenun yang dikenakan Pak Jokowi harganya Rp 600 ribu," sebutnya.

Pembuatan satu lembar kain tenun membutuhkan waktu satu minggu hingga sebulan. Semua tergantung tingkat kesulitan motif. Biasanya, motif yang lama selesai dibuat adalah motif baru, karena belum terbiasa.

"Motif baru seperti Pokandua, Bhurino Ghule, Work Liangkabori dan Benteng Kamali, kita jual mahal, karena pembuatanya sulit," ujarnya.

Saat ini, kain tenun yang laris terjual bermotif full. Karena satu lembar kain bisa dibuat menjadi satu pasang kemeja jika dibalut dengan kain tekstil.

"Kain yang laris seperti yang dikenakan Pak Jokowi, karena harganya terjangkau. Biasanya ASN yang membeli," terangnya.

Motif kain tenun yang dikenakan Jokowi adalah rebung dan bintang. Rebung bermakna salah satu jenis kuliner tradisional yang dikonsumsi masyarakat Muna sehari-hari. Sedangkan motif bintang, filosofinya, berada tinggi di atas langit sehingga tepat dikenakan oleh presiden yang merupakan kepala negara. Ide motif itu dari Dekranasda Sultra.

"Setelah diberi gambaran, saya langsung mendesain. Tiga kali saya serahkan gambar. Gambar terakhir dipilih (yang dikenakan presiden)," terangnya.

Untuk bahan tenun, awalnya istri Aswan itu diminta menggunakan katun. Namun, dengan waktu yang diberikan selama 10 hari, tidak akan keburu selesai. Karena benang katun terlebih dahulu harus diwarnai menggunakan pewarna alami. Makanya, bahannya dialihkan ke benang merk polyester warna hijau wardah dengan nomor 0777 B.

Baca Juga: Usai Lantik Anton Timbang, Ketua MPR RI Singgung Pembangunan Sirkuit Nanga-Nanga

"Ukuran kain tenun Pak Jokowi panjangnya 3,70 meter dan lebar 70 cm," sebutnya.

Ia bersama rekan-rekan pengrajin lainnya menerima pesanan kain tenun untuk presiden dan stafnya sebanyak 200 potong. Namun, dengan waktu yang diberikan hanya seminggu, mereka tidak menyanggupinya. Terpaksa yang diselesaikan hanya 25 potong kain.

"Dipesan tanggal 16 Januari dan diambil tanggal 26 Januari, itupun pembuatanya kami lembur," terangnya.

Ketua Dekranasda Muna, Yanti Setiawati Rusman sangat bangga menyaksikan kain tenun Masalili dikenakan orang nomor 1 di negara ini. Hal tersebut, membuat promosi yang mereka lakukan selama lima tahun terakhir tidak sia-sia. Tenun Masalili mulai dikenal masyarakat luas hingga kepala negara.

Istri Bupati Muna, LM Rusman Emba itu tidak meragukan lagi desain dan motif tenun yang dihasilkan Sitti Erni dan pengrajin lainnya di Desa Masalili. Karya-karya Sitti Erni dan rekan-rekannya selalu mendapatkan predikat terbaik dalam penilaian lomba desain tingkat Sultra hingga nasional.

"Ini momen bersejarah bagi tenun Masalili. Saya mengajak seluruh masyarakat Muna di mana pun berada untuk menjadi duta promosi dalam mengangkat pamor tenun Masalili menjadi kerajinan unggulan nasional," ajaknya.

Sementara itu, Zahrir Baitul, anggota DPRD Muna mengatakan, sebagai masyarakat Muna patut bersyukur dan berbangga ketika Presiden Jokowi mengenakan baju dari kain Tenun Masalili dalam puncak HPN.

Ia menyampaikan terima kasih pada para pengrajin dan para pengurus Dekranasda Muna, terkhusus Ketuanya, Yanti Setiawati Rusman yang selama ini sangat getol mempromosikan kain tenun Masalili dalam berbagai event.

Baca Juga: Yusuf Mundu Pukul Bibir Ridwan Badallah, Ali Mazi: Saya Akan Panggil Mereka

Menurut politisi Hanura itu, Sudah saatnya seluruh masyarakat membudayakan penggunaan kain tenun Masalili dalam acara-acara resmi di daerah. Upaya itu, selain untuk terus menguatkan identitas dan jati diri  sebagai masyarakat Muna, juga dapat mendorong peningkatan kesejahteraan para pengrajin tenun.

"Kita harus mulai dari sekarang. ASN dan pelajar minimal mengenakan tenun sekali dalam seminggu," katanya. (A)

Reporter: Sunaryo

Editor: Haerani Hambali 

Baca Juga