Harga Sayur dan Bumbu Dapur Turun Tak Bisa Dongkrak Daya Beli Masyarakat Muna Barat

Aldin, telisik indonesia
Senin, 16 Februari 2026
0 dilihat
Harga Sayur dan Bumbu Dapur Turun Tak Bisa Dongkrak Daya Beli Masyarakat Muna Barat
Pedagang sayur di pasar Lawa keluhkan kurangnya minat beli masyarakat walaupun harga menurun. Foto: Aldin/Telisik

" Harga sejumlah sayur dan bumbu dapur di pasar tradisional turun, namun pembeli tetap sepi menjelang Ramadan 2026/1447 H di wilayah Kabupaten Muna Barat "

MUNA BARAT, TELISIK.ID - Harga sejumlah sayur dan bumbu dapur di pasar tradisional turun, namun pembeli tetap sepi menjelang Ramadan 2026/1447 H di wilayah Kabupaten Muna Barat.

Aktivitas jual beli di Pasar Lawa, Kecamatan Lawa, terlihat lebih lengang dibandingkan hari-hari menjelang Ramadan pada tahun sebelumnya. Lapak sayur tetap dipenuhi stok cabai, bawang, tomat, dan aneka bumbu dapur, tetapi pergerakan pembeli tidak seramai biasanya. Sejumlah pedagang menyebut kondisi ini sudah berlangsung beberapa pekan terakhir.

Penurunan harga bahan dapur justru menjadi pemandangan umum di pasar tersebut. Cabai yang sebelumnya kerap melonjak tajam saat mendekati puasa kini dijual jauh lebih murah. Begitu pula bawang dan komoditas lainnya. 

Situasi yang sama juga terpantau di Pasar Tongkoea, di mana harga relatif stabil tanpa kenaikan berarti.

Baca Juga: 2 Tahun Berturut Juara dan Borong 73 Penghargaan, Tana Toraja Antar Kalla Toyota Kuasai Toyota Dealer Convention 2026

Salah seorang pedagang sayur, Wa Mpada, mengatakan perubahan harga cukup terasa dibandingkan tahun lalu. Ia mengaku biasanya menjelang puasa harga cabai bisa menyentuh Rp 100 ribu per liter.

Namun saat ini, harga cabai hanya sekitar Rp20 ribu per liter sehingga selisihnya cukup jauh.

"Tidak ada harga bumbu dapur yang naik harganya masih seperti harga sebelumnya," kata Wa Mpada, Senin (16/2/2026).

Meski harga turun, ia menyebut minat beli masyarakat justru melemah. Menurutnya, stok sayur lebih lama terjual sehingga pendapatan harian ikut berkurang.

Kondisi itu berbeda dengan periode yang sama tahun lalu ketika pembeli datang sejak pagi dan barang cepat habis.

"Tahun lalu menjelang pembukaan puasa kadang wortel laku hingga 40 kg dalam satu kali menjual sekarang 10 kg biar setengah belum habis, begitupun dengan tomat biasanya di jam 10.00 sudah habis 30 kg sekarang sudah jam 11 lewat 10 kg belum habis," kata Wa Mpada.

Ia mengaku kesulitan memperkirakan jumlah stok karena takut banyak barang tersisa dan rusak. Sayur yang tidak terjual biasanya tidak bisa disimpan lama. Hal itu membuat pedagang harus menanggung risiko kerugian setiap hari.

"Saya juga bingung semakin turun harga semakin sepi pembeli," keluhnya.

Baca Juga: Link Video Viral 13 Menit Mahasiswi KKN Terkait Adegan Teh Pucuk, Begini Kronologi Awal Beredar hingga Klarifikasi Kampus

Walau begitu, Wa Mpada tetap membuka lapak seperti biasa. Ia menyebut berdagang sayur menjadi sumber penghasilan utama keluarga sehingga tetap bertahan meski keuntungan menipis.

"Kadang untungnya tidak seberapa, belum lagi ada barang yang rusak," jelasnya.

Dari sisi pembeli, perubahan pola belanja ikut memengaruhi kondisi pasar tradisional. Salah seorang warga, Wa Hadina, mengatakan sebagian masyarakat kini lebih memilih membeli kebutuhan melalui layanan pesan antar. Kemudahan tersebut dinilai praktis karena tidak perlu datang langsung ke pasar.

"Sekarang orang malas mi pergi di pasar karena tinggal pesan online barangnya langsung diantar di rumah," kata Wa Hadina. (B)

Penulis: Aldin

Editor: Ahmad Jaelani

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga