Wisata Sejarah: Peninggalan Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Sabtu, 03 Januari 2026
0 dilihat
Meriam Baterai Mata kaliber 3 inci digunakan Jepang, masih terpasang permanen. Foto: Ahmad Jaelani/Telisik.id
" Di jantung Kota Kendari, tepatnya di Kelurahan Jati Mekar, berdiri Water Reservoir Anno 1928, bangunan peninggalan Belanda "
TAK BANYAK yang tahu bahwa di Kota Kendari terdapat sejumlah peninggalan sejarah era kolonial Belanda dan Jepang yang masih berdiri hingga kini.
Para pegiat eksplorasi sejarah pun sulit melewatkan situs bersejarah ini, yang dapat dijangkau hanya bermodalkan motor matic dan sekitar Rp 35 ribu untuk biaya bensin. Keistimewaan lainnya, beberapa bangunan bisa dikunjungi secara gratis, meskipun ada sebagian yang kondisinya memprihatinkan.
Water Reservoir Anno 1928: Penampungan Air Peninggalan Belanda
Di bagian dalam Water Reservoir Anno 1928, kondisi bangunan sudah terbengkalai. Foto: Ahmad Jaelani
Di jantung Kota Kendari, tepatnya di Kelurahan Jati Mekar, berdiri Water Reservoir Anno 1928, bangunan peninggalan Belanda yang dulunya berfungsi sebagai bak penampungan air bersih.
Tiga bak ini mengelola dan mendistribusikan air ke seluruh kawasan, termasuk hingga Jalan RRI lama, menyediakan kebutuhan air harian warga.
Berdasarkan penuturan Iftiria, sarjana arkeologi Universitas Halu Oleo, Kamis, 20 November 2025, meski bangunan ini kini terbengkalai, nilai sejarahnya tetap tinggi. Dinding-dindingnya, kata Iftiria, usang dan ditumbuhi lumut menceritakan masa lalu Kota Kendari.
Dahulu, reservoir ini menjadi sumber air bersih utama pada era 1960-an, namun seiring perkembangan kota, fungsinya memudar. Kini, pengunjung dapat menyaksikan sisa-sisa infrastruktur kuno, termasuk potongan pipa dan keran yang membeku dalam waktu.
Letaknya yang berada di ketinggian juga memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan Teluk Kendari, menghadirkan kontras antara keindahan alam modern dan warisan masa lalu.
Bangunan Pesanggrahan Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial
Bangunan Pesanggrahan Kendari saat ini sebagian tidak terurus. Beberapa bagian kayu mulai lapuk, cat mengelupas, dan rumput liar tumbuh di sekitar halaman. Foto: Ahmad Jaelani
Bangunan Pesanggrahan Kendari terletak di Jalan Lakidende, Kelurahan Kandai, Kecamatan Kendari, menjadi saksi bisu masa Hindia Belanda abad ke-19. Luas lahannya mencapai 1.080,9 m2 dan berada di salah satu puncak bukit kawasan Kota Lama Kendari.
Lokasinya dekat Rumah Jabatan Garnizoens Batalion Detachement Kendari, menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial. Secara arsitektur, Pesanggrahan menampilkan gaya kolonial Belanda yang menyesuaikan iklim tropis Indonesia. Bangunan ini menggunakan kayu jati, batu bata, dan genteng.
Dinding tebal menjaga suhu ruangan tetap sejuk, sementara jendela besar dan ventilasi tinggi memastikan sirkulasi udara lancar. Bentuk simetris, langit-langit tinggi, serta teras luas di depan dan belakang mencerminkan ciri khas kolonial. Pemilihan kayu jati menunjukkan kualitas material tinggi.
Kompleks Makam Belanda di Kelurahan Kandai
Kondisi kompleks makam Belanda di Kelurahan Kandai kini banyak yang rusak. Beberapa nisan hilang, kijing retak, dan sebagian tertutup vegetasi liar. Foto: Ahmad Jaelani
Kompleks makam Belanda di Kelurahan Kandai, Kota Lama Kendari, menjadi jejak arkeologis penting. Kawasan ini sejak awal abad ke-20 menjadi pusat pemerintahan Belanda, mencakup pelabuhan, sekolah Tionghoa, kantor dagang, dan pemukiman pejabat Eropa. Letak kompleks makam sekitar 8,3 km dari pusat Kota Kendari.
Menurut penelitian Kiki Rukmana (2022) dalam Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi, awalnya terdapat 35 makam dengan beragam bentuk nisan, mulai dari segitiga, kubus, persegi panjang, melengkung, hingga menyerupai monumen. Material utama berupa batu bata dan semen, mencerminkan konstruksi kolonial akhir.
Orientasi makam beragam, ada yang menghadap selatan–utara, timur–barat, dan sebaliknya. Bentuk nisan juga merefleksikan status sosial, afiliasi religius, dan periode pemakaman, seperti obelisk untuk pejabat tinggi dan kubus sederhana untuk anak-anak atau keluarga menengah.
Wa Mbia, warga sekitar makam, menjelaskan bahwa beberapa kubur masih utuh. Saat pembongkaran beberapa tahun lalu, ditemukan mayat dengan emas dan jas, serta rambut yang masih utuh, menandakan nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
Kerusakan kompleks makam disebabkan faktor alamiah, seperti curah hujan tinggi, kelembaban udara tropis, serta pertumbuhan vegetasi liar. Hasil eksplorasi, Sabtu, 22 November 2025, batu bata mengalami erosi permukaan, sementara semen retak akibat perubahan suhu dan akar tanaman yang menembus struktur bangunan.
Pilboks
Pilboks berbentuk tabung beton dengan lubang segi empat sebagai akses tentara, depan kantor TVRI, Kota Kendari. Foto: Ahmad Jaelani
Pilboks merupakan salah satu sarana pertahanan yang dibangun pada masa kolonial Belanda dan Jepang, difungsikan sebagai persiapan pertahanan saat perang serta pengintaian terhadap musuh di wilayah Kota Kendari.
Bukti peninggalan Jepang dapat dijumpai di berbagai lokasi, termasuk di TVRI Sulawesi Tenggara dan kawasan Lapulu.
Salah satu pilboks terletak di Jalan Made Sabara, Kendari, berbentuk tabung dari beton yang diduga digunakan sebagai tempat pengintaian tentara Jepang. Bangunan ini memiliki lubang besar berbentuk segi empat sebagai akses masuk, dan satu lubang segi empat lain berukuran lebih kecil yang kini kondisinya sudah rusak.
Kondisi pilboks di beberapa lokasi lainnya sudah rusak atau hilang, kecuali satu yang tetap dijaga. Pilboks yang terawat baik ini berada di Mako Ditpolair Polda Sultra, Jalan Bhayangkara Bahari No 1, Kelurahan Poasia, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, menjadi saksi sejarah pertahanan militer Jepang di Sultra.
Struktur pilboks yang berbentuk tabung dan lubang akses segi empat menunjukkan desain militer yang fungsional. Bangunan ini memungkinkan pengintaian sekeliling serta perlindungan tentara dari serangan musuh, sekaligus menandai strategi pertahanan yang diterapkan di masa penjajahan.
Rumah Controleur Belanda
Rumah Controleur Belanda berada di lereng bukit, menghadap Teluk Kendari. Foto: Ahmad Jaelani
Rumah controleur Belanda yang kini menjadi rumah dinas Wakil Ketua DPRD Sultra. Bangunan ini berada di lereng bukit dengan arah menghadap Teluk Kendari. Dalam kompleks ini juga terdapat meriam peninggalan Belanda. Tidak jauh dari rumah kontroler terdapat kantor klasis atau rumah pendeta.
Bangunan lain di kawasan ini termasuk Chinese School, yang dulunya menjadi sekolah Tionghoa saat masa kolonial. Sekolah dibangun tanpa rangka besi, menggunakan balok kayu besar, dan sebelumnya sempat dialihfungsikan menjadi gedung akademik teknik Kendari.
Kompleks Cagar Budaya Meriam Peninggalan Jepang
Meriam Baterai Mata kaliber 3 inci digunakan Jepang, masih terpasang permanen. Foto: Ahmad Jaelani
Terletak di Kelurahan Mata, Kecamatan Kendari, dibangun tahun 1942–1943 pada masa penjajahan Jepang di bawah Kaisar Hirohito. Meriam atau Baterai ini berada di atas bukit menghadap Laut Banda, berukuran panjang 5,7 m, lebar 5,5 m, dengan ketebalan dinding 52 cm dan tinggi atap 2 m. Atap beton pelindung memiliki tinggi 5 m.
Di bagian sudut terdapat lubang yang menghubungkan Baterai dengan terowongan persembunyian. Lubang kiri terhubung ke lokasi Pertamina, tengah ke asrama Jepang yang kini menjadi rumah warga, sedangkan lubang kanan belum diketahui tembusannya.
Baterai digunakan untuk memantau lalu lintas kapal dan pesawat di Teluk Kendari. Meriam otomatis kaliber 3 inci berada di tengah baterai. Panjang laras 4,2 m, lingkar bagian belakang 45 cm, dengan tulisan produksi tahun 1918 dan 1939. Mesin meriam ini diproduksi Bethlehem Steel Company, Amerika Serikat, awalnya milik Belanda dan dialihfungsikan Jepang.
Restorasi dilakukan oleh Pangkalan TNI AL Kendari dan Disbudpar Kota Kendari pada Juli 2020. Restorasi menjaga bentuk asli baterai serta meriam sebagai bagian dari sejarah militer Jepang di Kendari.
Goa Jepang
Goa Jepang berupa terowongan lengkung 35 meter, sebagai sarana persembunyian. Foto: Ahmad Jaelani
Terowongan Jepang di Kelurahan Anggilowu, Kecamatan Mandonga, dibangun sekitar 1942 sebagai jalur strategis dan tempat penyimpanan senjata. Struktur tersembunyi ini mencerminkan fungsi militer saat Perang Dunia II. Kondisi saat ini memprihatinkan, dengan rerumputan liar menutupi sebagian akses.
Goa Jepang di Jalan Kampung Alo Lama, Kelurahan Anggi Lowu, mudah dijangkau dari pusat Kota Kendari. Gua ini memiliki panjang 35 m, lebar 2,6 m, dan tinggi 2 m. Terowongan berbentuk lengkungan dengan lantai tanah liat cokelat, permukaan tanah tidak rata, dan terdapat tumpukan tanah di tengah gua.
Tangga masuk gua saat ini sudah tertimbun, namun dahulu memungkinkan akses ke dalam gua. Atap gua menampilkan bekas pahatan sepanjang terowongan. Di depan mulut gua terdapat bangunan kayu tanpa dinding, dengan lantai tanah dan atap rumbia, serta rumah kayu kecil berdempetan di sekitarnya. (*)