Menikmati Aktivitas Seru di Desa Wisata Liya Togo Wakatobi

Wiwik Prihastiwi, telisik indonesia
Sabtu, 03 Juni 2023
0 dilihat
Menikmati Aktivitas Seru di Desa Wisata Liya Togo Wakatobi
Desa wisata Liya Togo yang berada di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Foto: Wiwik Prihastiwi/Telisik

" Desa Liya Togo merupakan salah satu destinasi wisata yang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi ketika berada di Wakatobi, Sulawesi Tenggara "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Desa Liya Togo merupakan salah satu destinasi wisata yang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi ketika berada di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Desa Liya Togo merupakan satu-satunya desa budaya di Kabupaten Wakatobi.

Mengutip official.cbtindonesia.com, Desa Liya Togo adalah desa yang terletak di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, dengan luas 4640 Ha. Sebagian besar wilayah pemukimannya adalah benteng batu yang telah berumur beberapa abad.

Perlu diketahui, Desa Liya Togo masuk dalam 50 desa wisata terbaik di Indonesia dan keluar menjadi salah satu pemenang dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, kategori toilet umum.

Baca Juga: Keunikan Pemandian Air Tawar Loka di Pulau Siompu Buton Selatan, Punya Fosil Tengkorak

Lokasi dan Cara Menuju Desa Liya Togo

Desa Liya Togo berlokasi di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, berjarak kurang lebih 15 Km dari Bandar Udara Matahora. Untuk bisa sampai ke Desa Liya Togo, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat. Akses jalan yang bagus, memudahkan kita untuk sampai di desa ini.

 

Tidak ada retribusi yang dikenakan bagi wisatawan yang ingin masuk ke desa wisata Liya Togo hingga saat ini.

Aktivitas Seru yang dapat Dilakukan di Desa Wisata Liya Togo

Pengrajin kain tenun khas Buton di Desa Liya Togo. Foto: Repro Instagram @ithajuwita

 

Di Desa Liya Togo terdapat sejumlah aktivitas seru dan menarik yang dapat dilakukan ketika berkunjung, di antaranya:

1. Belajar Sejarah di Benteng Liya Togo

Benteng Liya Togo juga dikenal sebagai benteng keraton yang merupakan peninggalan warisan Kerajaan Buton. Benteng keraton dibangun sekitar tahun 1200-an dengan sistem pertahanan tiga lapis. Dan total luasnya kurang lebih 52,9 Ha.

Banyak hal yang dapat ditemukan di sini. Mulai dari baruga yang merupakan tempat musyawarah adat Liya yang dibangun pada masa pemerintahan Laode Karuba, meantu'u (kepala adat) Liya ke-14 (1756-1767).

"Hingga saat ini, baruga masih dijadikan sebagai tempat musyawarah masyarakat Desa Liya Togo," ungkap Kepala Desa Liya Togo, Raja Ali.

Ditemukan juga makam Djilabu. Merupakan meantu'u (kepala adat Liya ke-1) dan penyiar agama Islam di Pulau Wangi-Wangi dan sekitarnya. Selain itu terdapat masjid tertua di Wakatobi dan masjid kedua yang dibangun setelah masjid pertama di Wolio, yaitu Masjid Mubarok. Masjid Mubarok dibangun pada tahun 1546 dan sudah mengalami perbaikan dan terdapat sedikit perubahan.

Baruga, tempat musyawarah adat masyarakat Liya. Foto: Wiwik Prihastiwi/Telisik

 

"Bangunan utamanya masih tetap, hanya saja di bagian depan ada sedikit perubahan," ucap Riadi, sekretaris kelompok pengelola pariwisata Liya Togo (Keppooli).

2. Bermain dengan Masyarakat di Lapangan Benteng Liya

Lapangan Benteng Liya sering digunakan anak-anak setempat untuk bermain bola dan sepeda. Lapangan ini juga sering digunakan untuk melaksanakan tradisi Liya yakni posepa'a.

Posepa'a sendiri merupakan adu tendang antara dua kubu. Yro Wawo yakni Liya Togo dan Yro Woru yakni Liya Mawi, Liya Bahari dan Liya Onemelangka. Riadi menuturkan, sebelum tahun 2003, posepa'a dilaksanakan setiap sore pada bulan Ramadan dan setelah salat Idul Fitri dan Idul Adha.

"Namun setelah tahun 2003, posepa'a tidak lagi dilakukan di bulan Ramadan, dan sekarang hanya dilakukan setelah salat Idul Fitri dan Idul Adha," ucap Riadi.

Masjid Mubarok merupakan masjid tertua di Wakatobi. Foto: Wiwik Prihastiwi/Telisik

 

3. Menyaksikan Pengrajin Tenun

Sebelum gerbang masuk Benteng Liya, akan ditemukan rumah penduduk yang semuanya merupakan penenun kain khas Buton.

"Setiap sore pasti ada pengrajin tenun yang bekerja. Hanya saja jika ada acara di desa, mereka tidak menenun," ujar Raja Ali.

4. Terapi Ikan di Uwe Kohondao

Di Liya Togo terdapat sejumlah sumber mata air. Salah satunya Uwe Kohondao. Uwe dalam bahasa Liya togo artinya air. Uwe Kohondao biasa disebut juga tangga seribu. Karena untuk mencapainya harus menuruni ratusan anak tangga.

Di sana terdapat kolam yang berisikan ikan-ikan kecil. Jadi ketika kaki dicelupkan ke dalam air, akan merasakan sensasinya saat kaki digigit Ikan.

Baca Juga: Mengenal Air Terjun Moramo, Salah Satu Wisata Unggulan Sulawesi tenggara

5. Mencicipi Jus Sampalu Khas Liya

Sampalu atau asam merupakan jus yang diracik oleh kelompok pengelola pariwisata Liya Togo (Keppooli) untuk menjamu wisatawan saat berkunjung ke desa wisata Liya Togo.

Jus sampalu ini dimanfaatkan karena banyaknya pohon sampalu yang tumbuh di Desa Liya.

"Saya sebutnya asam Liya buka asam Jawa. Karena tumbuhnya di Liya. Ini diracik oleh tim ibu-ibu pengelola sebagai jus selamat datang," ujar Riadi.

Meski dari sampalu atau asam, namun jus ini diracik dan dicampurkan dengan bahan-bahan lokal lainnya sehingga memiliki rasa yang segar.  (A)

Penulis: Wiwik Prihastiwi

Editor: Haerani Hambali

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga