Pemerintah China Awasi dan Tangkap Muslim Uighur dan Hui yang Puasa Ramadan

Adinda Septia Putri

reporter

Minggu, 26 Maret 2023  /  6:03 am

Muslim Uighur dan Hui di China diduga dilarang pemerintah untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan. Foto: Repro Mei.edu

XINJIANG, TELISIK.ID – Umat Muslim di China dilarang menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan. Pemerintah China diduga mencoba menghalangi dan menyerang tradisi dan budaya Muslim di wilayahnya.

Dilansir dari Internasional.sindonews.com, sebuah laporan terbaru dari kelompok hak asasi manusia mengatakan Beijing berusaha untuk menghapus budaya Muslim Hui.

11,4 juta Muslim Hui China, komunitas dekat etnis China yang telah mempertahankan keyakinan Muslim mereka selama berabad-abad, berada dalam bahaya akan terhapus seluruhnya di bawah aturan yang kejam milik Partai Komunis.

Sebuah laporan dari koalisi kelompok hak asasi manusia, termasuk jaringan Pembela Hak Asasi Manusia China, mengatakan etnis Muslim Hui telah diidentifikasi oleh Beijing sebagai ancaman yang harus diselesaikan melalui asimiliasi paksa.

Dikutip dari Kompas.com, seorang pejabat lokal dan kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan, warga Uighur di Xinjiang diperintahkan untuk tak mengizinkan anak-anaknya berpuasa. Anak-anak tersebut juga ditanyai oleh otoritas apakah orang tua mereka berpuasa atau tidak.

Baca Juga: Mengerikan, Model Asal Uighur Sebarkan Video Kehidupannya di Kamp Penahanan

“Selama Ramadan, otoritas berwenang mewajibkan 1.811 desa (di Xinjiang) untuk menerapkan sistem pemantauan sepanjang waktu, termasuk inspeksi langsung ke rumah keluarga Uighur,” kata Juru Bicara Kongres Uighur Dunia, Dilshat Rishit dikutip dari Radio Free Asia, Kamis (23/3/2023).

Sementara itu kelompok HAM mengatakan sekitar 11,4 juta Muslim Hui, juga berada dalam bahaya di bawah peraturan Partai Komunis China. Berdasarkan laporan koalisi HAM, termasuk Jaringan Pembela HAM China, Muslim Hui diidentifikasi oleh Beijing sebagai ancaman yang akan diselesaikan dengan asimilasi paksa.

Laporan itu mengatakan, hal ini sangat kontras dengan kebebasan relatif yang mereka nikmati sebelum Presiden China, Xi Jinping meluncurkan peraturan yang memaksa Muslim, orang Kristen dan Buddha untuk tunduk pada kontrol partai. Selain itu, juga penyensoran kehidupan beragama mereka di bawah program “sinisasi”.

“Anggota komunitas Hui dapat berpartisipasi secara terbuka dalam komunitas masjid, sekolah Arab, dan ibadah pribadi, meski di bawah batasan yang difasilitasi penghubung partai,” bunyi laporan itu.

Baca Juga: Bela Muslim Uighur, Ratusan Warga Sultra Kecam Rezim Cina

Pengusaha Hui didorong untuk mengembangkan hubungan bisnis dan pariwisata dengan dunia Muslim yang lebih luas sebagai bagian dari ‘Inisiatif Sabuk dan Jalan.

Namun laporan tersebut juga menegaskan urusan agama di bawah Xi Jinping telah dipengaruhi oleh retorika Islamofobia yang merasuki wacana kontraterosime global.

Hal itu menjadikan Muslim Hui juga menjadi target kampanye kontraterorisme di Xinjiang, dengan lebih dari 100.000 Muslim Hui dikirim kamp Pendidikan ulang bersama orang Uighur. (C)

Penulis: Adinda Septia Putri

Editor: Haerani Hambali

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS