adplus-dvertising

3 Dongeng Legendaris Anak-Anak Wakatobi yang Perlu Kamu Tahu

Nina Nurrahmah, telisik indonesia
Minggu, 04 Juli 2021
5486 dilihat
3 Dongeng Legendaris Anak-Anak Wakatobi yang Perlu Kamu Tahu
Potret anak-anak Wakatobi. Foto: Ist.

" Kisah ini juga memberi pelajaran hidup mengenai betapa pentingnya kita berhati-hati dalam mencari kawan bergaul "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Di balik ragam tempat wisata menarik di Wakatobi, ada pula dongeng legendaris yang selalu menjadi pengantar tidur anak-anak di Wakatobi.

Dongeng legendaris tersebut juga lengkap dengan pesan moralnya masing-masing. Berikut Telisik.id merangkum tiga dongeng legendaris anak-anak Wakatobi:

1. Dongeng Wa Ina Wa Ndiu-Ndiu


Dongeng legendaris anak-anak Wakatobi pertama berjudul Wa Ina Wa Ndiu-Ndiu.

Menurut warga Desa Kahianga Kabupaten Wakatobi, Ibu Hadija (48), dongeng ini menceritakan tentang keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga orang anak.

Dimana, anak pertamanya bernama La Turungkoleo, anak kedua bernama Wa Oti, dan anak ketiga bernama Lambata-mbata.

Suatu hari La Mbata-Mbata memakan ikan yang disisahkan untuk sang ayah. Maka, murkalah sang ayah mengetahui ikan tersebut telah habis.

Untuk menebus rasa bersalahnya, sang ibu mengembara ke lautan untuk mendapatkan ikan pengganti yang dimakan Lambata-mbata. Namun, pencarian panjang sang ibu sia-sia. Lautan itu telah merubahnya.

Sekujur tubuhnya ditumbuhi sisik layaknya seekor ikan dan ia pun tidak dapat kembali lagi kepada keluarganya.

La Turungkoleo yang tidak tega melihat adiknya yang menangis mencari ibunya hingga matanya bengkak pun membawa sang adik ke pesisir pantai dan memanggil ibunya dengan satu nyanyian.

“OO..Inna Wandiu-Ndiu

Maipasusu andiku

Andiku lambata-mbata

Akaaku lacurungkoleo”

Dongeng ini juga mengajarkan agar setiap orang senantiasa berbakti kepada orang tuanya, terutama ibu yang telah melahirkan dan merawat dengan penuh kasih sayang.

Betapa besar cinta kasih seorang ibu kepada anaknya. Dongeng itu juga diajarkan untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Baca Juga: Suka Berwisata? Jangan Lewatkan Permandian Tee Wali dan Hendaopa di Wakatobi

2. Dongeng La Ndoke-Ndoke Kene La Kolo-Kolopua

Diceritakan oleh Ibu Norma (50) pada Minggu, 20 Juni 2021, “

Dongeng legendaris ini berkisah tentang sepasang sahabat bernama La Ndoke-ndoke dan La Kolo-kolopua yang menanam pohon pisang bersamaan.

Namun persahabatan mereka tidaklah bertahan lama karena Lanm Ndoke-ndoke mengkhianati atau mencurangi La Kolo-kolopua dengan memakan semua pisang Ka Kolo-kolopua.

Merasa marah, La Kolo-kolopua pun dengan cerdiknya mencari akal untuk membalas perbuatan La Ndoke-ndoke. Ia mencari bambu, kemudian diruncingkan dan ditanam namun ditutupi oleh dedauanan.

Setelah itu, La Kolo-kolopua menyuruh La Ndoke-ndoke lompat ke tempat yang telah disiapkan oleh La Kolo-kolopua. Maka matilah La Ndoke-ndoke karena terkena bambu runcing yang dibuat la Kolo-Kolopua.

“Kisah ini juga memberi pelajaran hidup mengenai betapa pentingnya kita berhati-hati dalam mencari kawan bergaul,” kata warga Desa Dete Kabupaten Wakatobi, Norma.

3. Dongeng Kikki Ngarae Na Bela La Sangatji

Dongeng legendaris anak-anak Wakatobi ketiga ini datang dari cerita Kikki Ngarae Na Bela La Sangatji.

“Dongeng ini menceritakan sebuah kisah perihal seorang anak pemalas yang tidak peduli dengan keselamatan dirinya saking malasnya bergerak," tutur warga Desa Usuku Kabupaten Wakatobi, Nuryati (45).

Baca Juga: Tak Perlu ke Paris, Wakatobi Punya Replika Menara Eiffel dari Bambu

Saking malasnya, kata Nuryati, ia begitu percaya diri tidak akan terbakar dan bahkan tidak takut terluka meski sudah ikut terbakar. Kalimat yang selalu ia lontarkan adalah Kikki Ngarae Na Bela Fa Ina, yang artinya jangan takut terluka bu.

Dongeng ini mengajarkan kepada setiap orang untuk tidak jadi seorang pemalas seperti La Sangatji. Olehnya itu, jangan sampai seseorang menjadi La Sangaatji yang tidak memperdulikan keselamatan dirinya, sebab saking malasnya bergerak.

Orang tua di sini, tambah Nuryati sering mengatakan Kenemo alaa nomate mempisi mangareakkano, atau saat ada anak-anak malas orang tua sering mengatakan Kabilanga temangare la Sangaatji, yang artinya malas seperti La Sangaatji.

Hal tersebut diibaratkan karena La Sangaatji adalah contoh orang paling malas yang meskipun api akan membakarnya ia tetap tiduran, saking malasnya bangun dan lari ke luar rumah.

"Semoga dongeng ini memberikan pelajaran hidup yang baik untuk teman-teman,” pungkasnya. (A)

Reporter: Nina Nurrahmah

Editor: Fitrah Nugraha

Artikel Terkait
Baca Juga