adplus-dvertising

Aditya Prayoga: Pedagang Sabun Pemilik 5 Rumah Makan Gratis dan ATM Beras

Haidir Muhari, telisik indonesia
Selasa, 10 Agustus 2021
3705 dilihat
Aditya Prayoga: Pedagang Sabun Pemilik 5 Rumah Makan Gratis dan ATM Beras
Aditya Prayoga. Foto: Repro News.detik.com

" Perkembangan RMG cukup membanggakan. Hingga telah tersebar di Cilangkap, Depok, Pasar Minggu, dan Jatisampurna "

BOGOR, TELISIK.ID - Kehidupan hanyalah lakon, manusia menjadi berarti saat bisa menebar manfaat ke sesamanya.

Aditya Prayoga namanya, pemilik Rumah Makan Gratis (RMG) Ciangsana. Sapaannya, Adit. Rumah makan cuma-cuma ini untuk siapa saja, setiap hari.

Tak perlu syarat apapun. Fotokopi dokumen kependudukan atau surat keterangan tidak mampu, tidak! Itu tidak perlu.


Makanan dan minuman di rumah makan itu boleh dilahap dan diteguk siapa saja. Sajian di rumah makan ini beraneka ragam. Sebut saja ada nasi, telur balado, ayam, teh, dan kopi, selazimnya rumah makan.

Sebelum membuka rumah makan gratis ini, ia bekerja sebagai penjual parfum dan pedagang sabun. Adit juga berdagang kaset murotal, rekaman lantunan ayat suci Al-Qur’an. Tahulah kita, penghasilannya tak berkepastian.

Ia lalu mencoba peruntungan lain dengan membuka rumah makan. Untuk membuka rumah makan, ia jual motor matic kesayangannya untuk modal.

"Awalnya untuk buka, dana saya pribadi. Saya jualan, dari hasil saya jualan. Saya kembangkan, saya sedekahin sebagian, sebagian untuk anak dan istri saya," kenang Adit yang dilansir dari detikNews.com.

Rumah makan gratis ini beralamat di Jalan Raya Ciangsana Nomor 01, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Karena itu disebut RMG Ciangsana.

Perkembangan RMG cukup membanggakan. Hingga telah tersebar di Cilangkap, Depok, Pasar Minggu, dan Jatisampurna.

Ada pernyataan umum, usaha akan menjadi lebih maju (baca: berkah) jika diiringi dengan kebermanfaatan (baca: amal saleh). Untuk ini tak perlu menunggu menjadi kaya raya. Tidak! Keberkahan selalu dijemput, saat lapang maupun sempit.

Adit terinspirasi dari pertemuannya dengan nenek tua. Saat itu Adit pulang dari salat subuh di Masjid. Di perjalanan pulang dirinya bertemu dengan seorang nenek yang tengah memulung sampah.

Nenek itu sebenarnya sedang sakit. Orang kecil selalu tak punya pilihan. Istirahat atau tidak makan. Nenek itu memilih tetap memulung.

Mengetahui itu, Adit lalu cerita ke istrinya. Mereka lalu menemui nenek itu di tempatnya. Meraka komitmen untuk membantu si nenek.

"Dek mulai hari ini kamu masak yang banyak dan mulai hari ini kita anterin ke rumah si nenek biar tidak usah merongsok lagi," kata Aditya kepada istrinya, dilansir dari Merdeka.com.

Ia selalu mengantarkan makanan, hingga nenek tersebut meninggal. Hatta, satu persatu keajaiban dirasakannya. Rezekinya perlahan makin lancar.

Kisah ajaib lainnya, Adit divonis dokter tidak bisa memiliki keturunan. Lalu, hadiah mengejutkan didapatnya, sang istri mengandung anak pertama mereka.

Semangat kebermanfaatannya terus meningkat. Selain rumah makan gratis, ada juga ATM beras untuk kaum papa (mustadh'afin).

“Sekarang bisa 300 porsi makan per hari dan tersedia ATM beras untuk para pemulung, dhuafa, ojek online dan warga tidak mampu,” kata Aditya.

Untuk mencapai semua itu bukan tanpa ujian. Kebaikan selalu menuntut komitmen. Setiap manusia yang mencoba menjadi baik, akan disepuh sehingga menjadi murni niat dan tujuannya.

Begitu juga dengan Aditya. Upayanya membantu warga yang membutuhkan tak selalu berjalan mulus.

Baca Juga: Profil Mendiang Wakil Bupati Konawe Gusli Topan Sabara

Baca Juga: Kupas Politisi: Rezita Meylani Yopi, Bupati Termuda di Indonesia

Ia sempat difitnah tetangga saat rumah makan itu ramai dikunjungi pemulung, tukang becak hingga ojek online. Tetangganya mengaku kehilangan sepeda saat kawasan tersebut ramai dikunjungi.

Karena kejadian serupa dan tantangan lainnya, ia sampai harus pindah berkali-kali. Pernah juga ia ditimpa musibah. Rumah makannya dirampok kawanan bersenjata pada dini hari.

"Apalah artinya kalau hidup ini tak bermanfaat?" tambahnya.

Nilai kebermanfaatan akan terus tumbuh. Tidak hanya materialnya, tetapi spirit, akar, hingga buahnya. Buah kebermanfaatan tidak hanya di dunia, tetapi juga di hari kemudian.

Orang bermanfaat akan menjadi tutur baik, terkenal di bumi, dikenal di langit. Lalu apa yang kita tunggu? (C)

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga