adplus-dvertising

Amalan yang Disunnahkan di Bulan Muharram

Muhammad Israjab, telisik indonesia
Kamis, 20 Agustus 2020
2273 dilihat
Amalan yang Disunnahkan di Bulan Muharram
Ada beberapa amalan sunnah yang bisa kita kerjakan di bulan Muharram. Foto: Repro Google.com

" Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah di al-Muharram. "

KENDARI, TELISIK.ID - Bulan Muharram merupakan bulan istimewa sebagai bulan pembuka awal tahun dalam penanggalan Hijriah.

Dalam perhitungan Islam, 1 Muharram Tahun Baru Islam 1442 Hijriah jatuh pada 20 Agustus 2020.

Kedatangan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H, sebaiknya disambut dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta.


Bulan Muharram sendiri menjadi salah satu bulan yang paling diistimewakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharram.

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (syahrullah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu.” (HR. Muslim, no. 1982).

Dikutip dari tayangan YouTube akun Yufid.TV, amalan yang disunnahkan pada Bulan Muharram yakni memperbanyak puasa sunah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:

"Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah di al-Muharram." (HR. Muslim).

Terdapat dua amalan puasa sunnah dalam bulan Muharram. Pertama adalah puasa tasua, yang merupakan puasa sebelum 10 Muharram.

Dalam riwayat dijelaskan, di akhir hayatnya Rasulullah pernah berkeinginan jika Ia masih hidup di tahun depan maka ia akan berpuasa pada 9 dan 10 Muharrram.

Baca juga: Masjid Keraton Liya, Pusat Penyebaran Islam di Wakatobi

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata:

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).”

Tapi belum sampai di bulan Muharram tahun berikutnya, ternyata Rasulullah sudah wafat.

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasua. Pertama adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.

Kedua yaitu untuk menyambung puasa hari Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jumat saja.

Puasa Asyura yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa Asyura ini yakni dapat menggugurkan dosa setahun yang lalu.

Dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya dapat dihapuskan dengan bertaubat.

Dari Abu Qatadah ra. bahwa rasulullah saw bersabda:

"Puasa pada hari arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang berlalu dan tahun yang akan datang. dan puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu." (H.R jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

Di bulan Muharram juga diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah.

Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Rasulullah bersabda: “Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795).

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Haerani Hambali

Baca Juga