adplus-dvertising

Diam-Diam Lakukan Riset, Ustadz Adi Hidayat Temukan Obat COVID-19 dari Hadits Nabi

Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Selasa, 22 September 2020
10403 dilihat
Diam-Diam Lakukan Riset, Ustadz Adi Hidayat Temukan Obat COVID-19 dari Hadits Nabi
Dai kondang tanah air, Ustadz Adi Hidayat. Foto: Repro google.com

" Jadi sikap apa yang pertama perlu dibangun dalam menghadapi corona ini, yakni spiritualnya, banyak dzikir dan bersikap optimis, seperti dzikirnya Nabi Ibrahim kalau saya sakit pasti disembuhkan. Itu indah sekali. "

KENDARI, TELISIK.ID – Dai kondang tanah air, Ustadz Adi Hidayat diam-diam mengamati dan melakukan riset terkait COVID-19.

Dari riset tersebut, ia mengaku telah menemukan obat atau herbal yang bisa menyembuhkan pasien yang terpapar virus tersebut.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, hal utama yang perlu ditekankan ketika ada gejala COVID-19 adalah dibutuhkan sikap optimisme dalam diri, bahwa sakit itu ada obatnya dan Allah SWT Maha Menyembuhkan. Ia menyebut, banyak ayat Al-Quran yang mengajarkan kepada manusia untuk bersikap optimis.


“Jadi sikap apa yang pertama perlu dibangun dalam menghadapi corona ini, yakni spiritualnya, banyak dzikir dan bersikap optimis, seperti dzikirnya Nabi Ibrahim kalau saya sakit pasti disembuhkan. Itu indah sekali,” ujar UAH dalam tayangan video di Youtube yang diterima Telisik.id.

Termasuk, kata dia, zikir Nabi Ayyub di Al-Quran surah ke-21 ayat 83-84 yang ketika beliau divonis oleh orang-orang tak mungkin sembuh.

“Jadi sekali lagi, optimistisme yang dibangun. Kalimat-kalimat positif yang bisa menaikkan imun,” katanya.

Baca juga: Jokowi Dorong Percepatan Pembangunan Pelabuhan Patimban di Jabar

Namun disayangkan, Dai yang juga disapa UAH ini melanjutkan, selama ini opini atau berita yang dibangun tentang COVID-19 ini kebanyakan adalah berita negatif, berita yang menyebar rasa ketakutan di masyarakat. Yang membuat banyak orang menjadi pesimis. Bukan hanya berita di Indonesia, di luar negeri pun sama.

Seharusnya, berita yang ditampilkan di publik adalah rasa optimisme, mengajak orang untuk bersikap optimis dalam menghadapi musibah. Dikuatkan bukan dilemahkan. Ustadz Adi pun sudah mengamati perkembangan isu-isu COVID-19 jauh-jauh hari dan bagaimana sikap para negara dalam menangani virus tersebut.

Misalnya bagaimana China menghadapi virus ini. Dalam buku laporan yang ia terima, UAH sudah membaca bagaimana upaya China menyelesaikan wabah ini dengan baik. Patut diapresiasi, China justru mengadopsi cara-cara yang dilakukan Nabi dalam konteks hubungan muamalah.

“Mereka sudah mempraktekkan apa yang menjadi rujukan Nabi. Hanya saja bukan dalam konteks ibadah, tapi konteks muamalah baik dari sisi sosial, ekonomi dan sebagainya. Saat terjadi, saya baca bahwa pemerintah Tiongkok sudah mengumpulkan seluruh ahli medis dan herbal tuk berkumpul mengatasi,” imbuhnya.

Dari pertemuan itu, lanjut UAH, mereka mengumpulkan semua alternatif dan yang paling dahsyat bahwa yang diisyaratkan Nabi yang berlaku pada konteks muamalah.

Mereka riset apa yang dibutuhkan wabah ini, lalu mereka minta dari dunia luar bantuan APD dan sebagainya. Mereka tahu dari sisi ekonominya, mereka pun sudah menentukan untuk memanfaatkan kondisi seperti ini dari sisi ekonomi, mulai pengadaan APD sampai puncaknya yaitu membuat vaksin.

“Cara itu berhasil, China lebih siap dan bahkan sudah bisa membantu negara lain,” katanya.

Baca juga: Pimpinan DPR Soroti Normalisasi Hubungan UAE dan Bahrain dengan Israel

Dari semua itu yang menarik, UAH menemukan hadits Nabi berkaitan dengan herbal yang gejalanya bisa digunakan untuk obat COVID-19. Karena ciri dan gejalanya sama. Namun belum banyak yang merespons herbal itu. Apalagi, bahan herbal tersebut hanya didapatkan di dua tempat, yaitu Himalaya dan Saudi bagian timur.

UAH pun kemudian mencoba membeli obat herbal itu melalui stafnya yang ada di daerah Himalaya. Anehnya obat itu kata UAH harus transit dulu ke China. Ketika sampai di Indonesia ternyata alamat pengirim tertulis dari Wuhan.

Setelah itu, UAH langsung mencoba herbal tersebut kepada koleganya yang terpapar COVID-19 yang diisolasi mandiri. Setelah enam bulan percobaan sampai sekarang, hasilnya 100 persen dan tiga hari paling lama hasilnya sudah ada.

"Ini saya tidak katakan obat, tapi saya katakan ada pendampingan," tandasnya.

Selain itu, UAH juga meminta kepada dokter untuk menguji herbal ini. Kalau ada manfaatnya ia mempersilakan ambil untuk kepentingan negara dan ia menjaminkan tidak akan mengambil keuntungannya.

“Jika ini terbukti bisa menyembuhkan virus corona, saya hanya minta tolong sebutkan referensinya bahwa ini berasal dari Hadits Nabi,” jelasnya.

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Kardin

TAG:
Baca Juga