Disperindag Sultra Genjot Ekspor dan Hilirisasi, Dorong Komoditas Berkelanjutan
Ana Pratiwi, telisik indonesia
Selasa, 31 Maret 2026
0 dilihat
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tenggara, Sukanto Toding. Foto: Ana Pratiwi/Telisik
" Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tenggara mendorong peningkatan ekspor dan hilirisasi sektor unggulan sebagai bagian dari implementasi visi Gubernur dan Wakil Gubernur, yakni mewujudkan masyarakat yang aman, sejahtera, dan religius "


KENDARI, TELISIK.ID - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tenggara mendorong peningkatan ekspor dan hilirisasi sektor unggulan sebagai bagian dari implementasi visi Gubernur dan Wakil Gubernur, yakni mewujudkan masyarakat yang aman, sejahtera, dan religius.
Upaya ini difokuskan pada stabilisasi harga, penguatan industri, serta pengembangan komoditas berkelanjutan.
Kepala Disperindag Sultra, Sukanto Toding, mengatakan seluruh program pihaknya mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai turunan visi-misi kepala daerah.
“Visi itu kami terjemahkan dalam program yang menyentuh perlindungan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, dan tata kelola yang akuntabel,” ujar Sukanto, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, aspek “aman” diwujudkan melalui perlindungan sosial, termasuk menjaga stabilitas harga dan pasokan barang. Sementara aspek “sejahtera” berfokus pada penguatan ekonomi, dan “religius” diarahkan pada tata kelola pemerintahan yang transparan.
Baca Juga: Bank Sultra Kucurkan Kredit Daerah untuk 39 Proyek Infrastruktur Konawe Utara
Di sektor perdagangan dalam negeri, Disperindag aktif mengendalikan inflasi melalui operasi pasar, pasar murah, dan inspeksi lapangan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga harga tetap terjangkau tanpa merugikan produsen.
“Kalau harga terlalu tinggi, konsumen terbebani. Tapi kalau terlalu rendah, petani yang dirugikan. Di situ peran pemerintah menjaga keseimbangan,” jelasnya.
Sementara di sektor perdagangan luar negeri, pemerintah mendorong ekspor langsung melalui pelabuhan Kendari.
Kebijakan ini dinilai mampu memangkas waktu distribusi hingga 30 hari dan menekan biaya logistik hingga 50 persen dibandingkan harus melalui kota lain seperti Makassar atau Surabaya.
Namun, Sukanto mengakui masih ada tantangan dalam menjaga kesinambungan ekspor akibat produksi yang belum stabil. Karena itu, pemerintah mulai mendorong pergeseran dari ekspor berbasis tambang ke sektor pertanian dan perikanan.
“Pertambangan itu terbatas, sementara pertanian bisa diperbarui. Ini yang kita dorong agar lebih berkelanjutan,” katanya.
Pemerintah Provinsi Sultra kini mulai fokus mengembangkan komoditas unggulan yang berkelanjutan, seperti kakao, mete, rumput laut, produk perikanan olahan, serta berbagai hasil pertanian lainnya.
“Komoditas ini punya potensi besar untuk ekspor dan bisa terus dikembangkan dalam jangka panjang,” tambahnya.
Sukanto juga mencontohkan keberhasilan ekspor oleh pelaku usaha lokal. Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Awunio di Konawe Selatan berhasil mengekspor 50 ton arang tempurung kelapa ke Xiamen, Tiongkok, pada 21 Februari 2026.
“Ini bukti bahwa ekspor tidak harus dari perusahaan besar. Pelaku usaha kecil dan anak muda juga bisa,” ujarnya.
Di sektor industri, Disperindag mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk. Fokusnya mencakup sektor pertanian, industri, dan pariwisata.
Sebagai contoh, kakao yang diolah melalui proses fermentasi dapat meningkatkan nilai jual secara signifikan dibandingkan dijual mentah. Begitu pula dengan kelapa yang memiliki banyak produk turunan seperti kopra, minyak, hingga nata de coco.
Selain itu, limbah industri juga didorong untuk dimanfaatkan menjadi produk bernilai, seperti bahan bangunan. Sementara di sektor pariwisata, pengembangan destinasi diharapkan mampu memicu pertumbuhan UMKM lokal, mulai dari kuliner hingga kerajinan.
Baca Juga: Catat Jam Tayangnya, Ini Jadwal Film Bioskop Hollywood dan The Park Kendari
Untuk memperkuat hilirisasi, Disperindag melakukan pembinaan terhadap Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui pelatihan, peningkatan kualitas produk, serta pemanfaatan teknologi.
Program makan bergizi gratis juga dinilai berpotensi menjadi bagian dari pengembangan IKM, khususnya dalam pengelolaan dapur yang memenuhi standar kesehatan dan gizi.
“Dapur-dapur itu bisa menjadi penggerak ekonomi lokal jika terhubung dengan petani dan pemasok di sekitar,” ujar Sukanto.
Tahun ini Disperindag Sultra menargetkan peningkatan nilai ekspor, pertumbuhan jumlah IKM, serta menjaga stabilitas harga.
Target tersebut diharapkan mampu memperkuat perekonomian daerah sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan. (C-Adv)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS