adplus-dvertising

Gempa di Manggarai Rupanya Terjadi 89 Kali, Warga Reok Tetap Aktivitas Biasa

Berto Davids, telisik indonesia
Selasa, 22 Februari 2022
804 dilihat
Gempa di Manggarai Rupanya Terjadi 89 Kali, Warga Reok Tetap Aktivitas Biasa
Warga di pesisir pantai Kecamatan Reok beraktivitas seperti biasa pasca gempa. Foto: Berto Davids/Telisik

" Dari 89 gempa susulan itu hanya 3 kali yang dirasakan dengan magnitudo 5.8, 5.1 dan 4.6 "

MANGGARAI, TELISIK.ID - Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) Kupang, NTT merilis data terbaru terkait gempa susulan yang terjadi di Timur Laut Manggarai, Senin (21/2/2022) malam hingga Selasa (22/2/2022) pagi.

Kepala BMKG Kupang, Margiono dalam releasenya mengatakan bahwa gempa susulan tersebut terjadi berturut-turut selama 89 kali, baik yang dirasakan maupun yang tidak dirasakan.

Menurutnya, dari 89 gempa susulan itu hanya 3 kali yang dirasakan dengan magnitudo 5.8, 5.1 dan 4.6.


Hingga saat ini pihaknya terus merilis data terbaru terkait gempa susulan.

Sementara itu pasca gempa, warga di pesisir pantai Kecamatan Reok tetap beraktivitas seperti biasa, baik yang berprofesi sebagai pegawai, TNI Polri, petani, nelayan, swasta, dokter, perawat, BUMN, BUMD, hingga tukang ojek dan buruh.

Seperti dipantau Telisik.id, Selasa (22/2/2022), pegawai di Kantor Kecamatan Reok melakukan aktivitas seperti biasa pasca gempa. Mereka pun terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Tak hanya itu, para petani, nelayan hingga tukang ojek dan buruh juga terlihat melakukan aktivitas seperti biasanya.

Sekcam Reok, Theobaldus Junaidin mengaku, pihaknya belum mendapat laporan dari Desa maupun Kelurahan terkait kerusakan yang terjadi akibat gempa.

"Belum ada laporan yang masuk terkait data kerusakan sehingga pada hari ini kami beraktivitas seperti biasa. Warga di pesisir pantai juga sampai saat ini terpantau aman," kata Theobaldus.

Pasca gempa, kata dia, pihaknya terus melakukan kesiapsiagaan dengan tetap mengimbau warga Kecamatan Reok agar selalu waspada dengan gempa susulan.

Sementara itu, Jamil Sarijal salah seorang nelayan di Kecamatan Reok juga mengaku masih beraktivitas seperti biasa pasca gempa, karena memang tidak terjadi gelombang tsunami berdasarkan data BMKG yang ia dapat.

"Gempa susulan memang terjadi terus sepanjang malam, tetapi hari ini saya tetap berani melaut dan melakukan aktivitas seperti biasa di atas perahu karena sudah ada imbauan katanya tidak terjadi tsunami," tutur Jamil.

Hal serupa juga disampaikan seorang penjual ikan, Elfridus Adi Gunawan. Ia mengatakan bahwa dirinya masih melakukan aktivitas seperti biasanya pasca gempa.

"Waspada sih waspada tapi aktivitas menjual ikan tetap saya lakukan demi kebutuhan hidup," ujar Elfridus.

Ia juga mengaku sempat panik dengan gempa yang terjadi semalam. Pasalnya, ada tiga kali yang guncangannya cukup besar hingga membuat ia dan keluarganya berlari keluar rumah.

Pasca BMKG mengeluarkan imbauan tak ada gelombang tsunami, Elfridus pun melanjutkan aktivitas membeli ikan di pantai dan menjualnya ke kampung-kampung.

Untuk diketahui, gempa itu tak hanya diwaspadai oleh masyarakat di pesisir pantai tetapi juga masyarakat di pegunungan.

Baca Juga: Dihantam Gelombang Tinggi, 2 Mobil Terbalik Dalam Feri

Sekretaris Desa Ruis, Stanislaus Sensi dihubungi Selasa dini hari mengaku panik dengan situasi gempa yang terjadi berturut-turut.

Ia mengatakan, saat ini warga Desa Ruis yang berada di daerah pegunungan sangat waspada dengan situasi gempa tersebut.

"Yang diwaspadai adalah gempa susulan yang lebih besar lagi. Kami takut tanah longsor, tanah terkikis dan pohon tumbang, apalagi Desa Ruis terletak di lereng gunung," ungkap Sensi via gawainya.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengimbau kepada masyarakat Desa Ruis agar waspada dengan gempa susulan yang berikutnya.

"Sebagai pemerintah kami akan mengimbau supaya warga selalu siaga dan waspada terhadap kemungkinan yang terjadi, baik itu waspada terhadap bencana gempa maupun bencana yang lainnya," ungkap Sensi.

Warga Desa Ruis juga diminta untuk melalukan pencegahan terhadap bencana dengan memotong kayu atau jenis lainnya yang berada dekat pemukiman penduduk.

Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan 5.8 Magnitudo (M) juga terjadi di Timur Laut Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (21/2/2022), pukul 20.45 Wita. Gempa susulan pun sempat terjadi pada pukul 21.06 Wita.

Baca Juga: Dianggap Ilegal, PDAM Muna Hentikan Distribusi Air

Pantauan Telisik.id, guncangan gempa tersebut membuat warga di Kabupaten Manggarai dan sekitarnya lari berhamburan keluar rumah.

Berdasarkan release BMKG, gempa tersebut berkedalaman 10 km. Lokasinya berada pada 8.12 LS dan 120.70 BT. Sedangkan gempa susulan berkekuatan 5.1 Magnitudo.

Gempa tersebut memang tak berpotensi tsunami. Namun masyarakat diminta tetap mewaspadai gempa susulan. (A)

Reporter: Berto Davids

Editor: Haerani HambaliĀ 

Artikel Terkait
Baca Juga