Indonesia Terus Tekan Impor Bensin, Bahlil Sebut Ada Importir Murka

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 26 Juni 2026
0 dilihat
Indonesia Terus Tekan Impor Bensin, Bahlil Sebut Ada Importir Murka
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut impor BBM turun dan memicu reaksi importir. Foto: Kementerian ESDM

" Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut sejumlah pelaku usaha impor bahan bakar minyak (BBM) tidak menyukai kebijakan pemerintah "

JAKARTA, TELISIK.ID - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut sejumlah pelaku usaha impor bahan bakar minyak (BBM) tidak menyukai kebijakan pemerintah yang terus menekan ketergantungan terhadap impor bensin.

Kebijakan tersebut dinilai berdampak pada menyusutnya volume impor yang selama ini menjadi ruang bisnis para importir.

Bahlil menjelaskan, konsumsi bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta kiloliter (KL) per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi dalam negeri telah meningkat menjadi sekitar 20 juta KL seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

“Jadi sekarang impor bensin kita tinggal 20 juta kiloliter. Nah ini memang para importir marah gue nih. Karena pikiran saya ke depan adalah enggak boleh kita impor,” ujar Bahlil dalam sebuah diskusi di Jakarta, seperti dikutip dari Kompas, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Harga Terbaru BBM di Semua SPBU Indonesia 22 Juni 2026, Berikut Rinciannya

Sebelum RDMP Balikpapan beroperasi, produksi bensin dalam negeri tercatat sekitar 14,25 juta KL, sehingga ketergantungan impor mencapai sekitar 25,75 juta KL per tahun. Setelah adanya tambahan kapasitas produksi sekitar 5,5 juta KL, porsi impor menurun menjadi sekitar 20 juta KL per tahun.

Bahlil menegaskan, pemerintah akan melanjutkan kebijakan pengurangan impor BBM melalui pengembangan energi alternatif berbasis nabati. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

“Sekalipun lifting kita katakanlah enggak mencukupi, kita harus konversi dia untuk bauran energi dengan energi nabati. Kalau B50 (campuran solar dengan minyak sawit) bisa memenuhi kebutuhan solar kita, kenapa bensin tidak?” kata Bahlil.

Pemerintah juga tengah menyiapkan program campuran etanol sebesar 20 persen pada bensin atau E20 yang direncanakan mulai diterapkan pada 2028. Kebijakan ini diproyeksikan dapat kembali menekan impor bensin hingga sekitar 4 juta KL per tahun.

Menurut Bahlil, sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Brasil telah lebih dahulu menerapkan kebijakan serupa dalam rangka mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Baca Juga: 9 Kebijakan Strategis Kemenkeu 2027, Stabilisasi Subsidi BBM hingga Efisiensi Belanja Masih Diterapkan

“Ini terjadi di Amerika, di Brasil, dan beberapa negara lain. Tujuannya apa? Agar kita bisa mengurangi impor kita. Agar kita bisa tidak terlalu besar keluar devisa,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengurangan impor BBM juga berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika geopolitik global. Berkurangnya kebutuhan dolar untuk impor energi, menurutnya, akan berdampak pada keseimbangan transaksi eksternal.

“Ketika permintaan kita kepada dolar tidak terlalu besar, maka saya yakin nilai tukar kita juga akan semakin membaik,” kata Bahlil. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga