TEL AVIV, TELISIK.ID – Perang antara Palestina dan Israel akhir-akhir ini semakin memanas setelah kelompok militan Palestina, Hamas, menyerbu Israel, dan Israel membalasnya dengan pengeboman dan menutup total jalur Gaza di Palestina.

Konflik Palestina-Isarel belum menemukan titik damai meski telah terjadi puluhan tahun lamanya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai badan perdamaian dunia, kerap kesulitan melakukan tugasnya dalam menangani krisis, termasuk perang Israel-Palestina karena badan dunia tersebut tidak bisa selalu melakukan intervensi terhadap suatu negara, kata Kepala Perwakilan PBB untuk Indonesia Valerie Julliand, dilansir dari Internasional.republika.co.id.

“PBB beranggotakan 193 negara. Apa yang kami lakukan sebagai perwakilan PBB, mandat, tindakan kami ditentukan oleh negara-negara anggota,” kata Julliand kepada wartawan di sela-sela acara Hari PBB di Jakarta, Selasa (24/10/2023)

Ia menyambung, ketika PBB tidak bisa melakukan intervensi, itu bukan karena staf PBB tidak mau, tetapi karena negara anggotanya tidak menyetujuinya. Dia lebih lanjut menyampaikan, PBB sulit melakukan tugasnya dalam situasi kritis karena Dewan Keamanan tidak dapat menyepakati resolusi yang akan memungkinkan intervensi yang lebih cepat dan lebih efektif.

Dewan Keamanan merupakan badan tertinggi PBB yang bertanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Namun, Julliand menuturkan, PBB memiliki tanggung jawab untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, meskipun terkadang tidak memiliki sumber daya yang cukup.