Kolaborasi Riset PT GKP Catat Temuan Spesies Baru di Pulau Wawonii
Ana Pratiwi, telisik indonesia
Selasa, 12 Mei 2026
0 dilihat
Tim peneliti biodiversitas melakukan identifikasi spesies di kawasan hutan Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, dalam program pemantauan lingkungan PT Gema Kreasi Perdana (GKP). Foto: Ist.
" Program pemantauan biodiversitas yang dilakukan PT Gema Kreasi Perdana (GKP) bersama akademisi berhasil membuka temuan ilmiah baru tentang kekayaan hayati Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara "

KENDARI, TELISIK.ID - Program pemantauan biodiversitas yang dilakukan PT Gema Kreasi Perdana (GKP) bersama akademisi berhasil membuka temuan ilmiah baru tentang kekayaan hayati Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara.
Dalam riset berkelanjutan selama 2023 hingga 2025, tim peneliti menemukan sejumlah spesies fauna yang sebelumnya belum pernah tercatat hidup di pulau kecil tersebut.
Pemantauan dilakukan di wilayah Wawonii Tenggara oleh Peneliti Biodiversitas PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Prof. Faisal Danu Tuheteru.
Hasil penelitian menunjukkan Pulau Wawonii memiliki kompleksitas ekosistem yang kaya, mulai dari mangrove, hutan dataran rendah hingga hutan ultramafik dalam satu bentang wilayah.
“Dalam konteks biodiversitas, Wawonii masih menyimpan banyak celah data. Program pemantauan yang dilakukan secara konsisten seperti ini memungkinkan kami menemukan jenis-jenis yang sebelumnya belum pernah tercatat,” ujar Prof. Danu.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Gandeng Media Perkuat Literasi dan Keberlanjutan Program JKN
Dari inventarisasi fauna, tim peneliti mencatat 27 jenis burung endemik Sulawesi. Sebanyak 16 di antaranya merupakan catatan baru (new record) yang belum pernah dilaporkan berada di Pulau Wawonii.
Temuan serupa juga ditemukan pada kelompok kelelawar. Dari 11 jenis yang teridentifikasi, enam di antaranya menjadi catatan baru dibandingkan penelitian terakhir hingga 2015 yang diterbitkan LIPI melalui buku Daftar Jenis Tumbuhan di Pulau Wawonii Sulawesi Tenggara dan Pulau Wawonii: Keanekaragaman Ekosistem, Flora, dan Fauna.
Menurut Prof. Danu, temuan tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di Wawonii selama ini masih terjaga, namun belum sepenuhnya terdokumentasi akibat keterbatasan riset jangka panjang.
“Ini bukan hanya soal menjaga atau tidak menjaga. Ini soal data. Tanpa pemantauan yang berkelanjutan, kita tidak akan tahu bahwa spesies-spesies ini ada,” jelasnya.
Meski belum ditemukan spesies yang masuk kategori terancam punah secara langsung, tim peneliti mencatat sejumlah satwa yang perlu mendapat perhatian khusus, seperti tarsius, burung maleo, dan penyu.
“Beberapa yang menjadi perhatian kami antara lain tarsius di kawasan hutan, burung maleo, dan penyu di wilayah laut. Pemantauan ini bisa menjadi langkah awal yang penting untuk upaya konservasi ke depan,” lanjut Prof. Danu.
Selain fauna, penelitian juga mendata sekitar 114 jenis tumbuhan, termasuk flora endemik dan beberapa spesies yang masuk kategori terancam punah.
Data tersebut dinilai memperkaya basis pengetahuan flora lokal yang sebelumnya masih terbatas.
Prof. Danu menegaskan, keberhasilan pencatatan spesies baru tidak terlepas dari dukungan program lingkungan PT GKP yang memungkinkan riset dilakukan secara konsisten dan sistematis.
“Kegiatan ini memang bagian dari program perusahaan. Namun, secara ilmiah, kontribusinya signifikan karena membuka data biodiversitas yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Tanpa dukungan tersebut, riset jangka panjang di pulau seperti Wawonii sangat sulit dilakukan,” katanya.
Tak hanya memantau flora dan fauna, tim peneliti juga melakukan analisis kualitas air sungai, air laut, sedimen, hingga kandungan logam berat pada biota ikan. Seluruh parameter yang diuji disebut masih memenuhi baku mutu nasional maupun standar internasional.
Baca Juga: Status Darurat Banjir Kendari Bisa Diperpanjang, Mentan Amran Sulaiman Turun Tangan
Bagi PT GKP, data biodiversitas tersebut tidak berhenti sebagai laporan ilmiah semata. Hasil pemantauan digunakan sebagai dasar pengelolaan lingkungan, terutama dalam kegiatan reklamasi pascatambang.
Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, mengatakan data hasil pemantauan menjadi acuan penting dalam menyusun pendekatan reklamasi yang lebih ekologis.
“Dengan mengetahui jenis-jenis flora dan fauna yang ada, kami bisa merancang reklamasi yang tidak sekadar menutup lahan, tetapi mendukung pemulihan fungsi ekosistem. Termasuk memilih tanaman pionir, tanaman pakan satwa, hingga jenis yang berpotensi mempercepat kembalinya keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan lingkungan di pulau kecil seperti Wawonii membutuhkan pendekatan yang sangat hati-hati dan berbasis data ilmiah.
“Pulau kecil seperti Wawonii membutuhkan pengelolaan yang sangat hati-hati. Data biodiversitas adalah pintu masuknya. Semakin lengkap datanya, semakin besar peluang kita menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan keberlanjutan ekosistem,” tutup Badrus. (D-Adv)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS