adplus-dvertising

Kopi Kahianga, Surga Wakatobi yang Kerap Luput Perhatian

Eka Putri Puisi M, telisik indonesia
Sabtu, 03 Oktober 2020
2574 dilihat
Kopi Kahianga, Surga Wakatobi yang Kerap Luput Perhatian
Ukuran daunnya lebar memanjang, dengan lekukan lancip di ujung daun. Buahnya berwarna hijau, kuning didominasi merah. Kopi Kahianga adalah jenis robusta. Foto: Ist.

" Iya, benar, kopi Kahianga adalah jenis robusta. "

Oleh: Eka Putri Puisi

Redaktur Media Perempuan Wa To'ombuti

JIKA ada yang pernah mendengar frasa "surga nyata bawah laut Wakatobi" jangan percaya. Sebab di Wakatobi, surga ada di laut maupun di darat. Bahkan dari balik rerimbunan pohon bambu di salah satu pulaunya, yang tumbuh subur pohon kopi.


Hawa sejuk menelisik, dari balik rerimbunan pohon, ketika memasuki desa di puncak pulau Tomia ini. Selain pohon bambu, rindang pohon kopi, coklat dan tanaman lainnya memberi kesan hijau. Rumah warga Nampak berderet-deret berdempetan. Dua, tiga rumah masih berbentuk rumah panggung. Selebihnya merupakan rumah batu minimalis.

Desa Kahianga merupakan salah satu desa di Pulau Tomia, Kecamatan Tomia Timur. Kondisi fisik jalanan yang sudah bagus, mempermudah dan mempersingkat jarak tempuh.

Jika menggunakan sepeda motor ke desa yang berjarak 7 Km ini. Hanya memakan waktu 23 menit saja dari pelabuhan Usuku, yang merupakan salah satu pintu masuk ke Pulau Tomia. Jika ada yang belum tau keberadaaan Pulau Tomia, buka peta! nah, di Propinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Wakatobi itulah tempatnya.

Di depan rumah warga, nampak biji kopi  yang mulai coklat kehitaman, digelar di bawah sinar matahari. Beberapa pemiliknya sedang asyik memilahnya. Wajar saja menyaksikan pemandangan seperti ini. Mengingat sekarang adalah rentang waktu panen, yang telah berlangsung, sejak Agustus hingga November nanti.

Tujuan perjalanan kali ini menyambangi Desa Kahianga, adalah untuk menjumpai dan mengajak membincang kopi, pak Jaharu, salah satu petani kopi di desa ini.

Di bawah pepohonan kopi yang diapit pepohonan yang lain, kami menemui pak Jaharu. Wangi kembang kopi meruap, membelai penciuman ketika baru saja sampai.

Baca juga: Sepenggal Kisah Benteng Tua Takimpo di Buton

Pohon kopi di sini nampak rindang. Ukuran daunnyapun lebar memanjang. Dengan lekukan lancip di ujung daun. Buahnya  berwarna hijau, kuning didominasi merah, menandakan waktu petik yang sudah dekat. Kami menduga sekilas, pohon kopi ini adalah jenis robusta. Pak Jaharu membenarkannya.

"Iya, benar, kopi Kahianga adalah jenis robusta".

 

Ukuran daunnya lebar memanjang, dengan lekukan lancip di ujung daun. Buahnya berwarna hijau, kuning didominasi merah. Kopi Kahianga adalah jenis robusta. Foto: Ist.

 

Meskipun daerah kami merupakan daerah pesisir. Namun letak Desa Kahianga di puncak ulau Tomia, didukung oleh banyaknya pohon di daerah ini. Menjadikan suhu di Desa dengan ketinggian kurang lebih 300 MDPL ini, tetap sejuk. Ditambah pula dengan jenis tanahnya yang gembur. Kondisi seperti ini, tentu akan turut mendukung benih kopi, untuk melangsungkan kehidupan.

Pak Jaharu sedikit banyak tahu tentang asal muasal kopi Kahianga. Kata beliau, bibit kopi Kahianga berasal dari Maluku. Benih kopi tersebut tiba bersama para perantau yang pulang dari Maluku. Jauh sebelum kemerdekaan RI.

Setelahnya, di tiap rumah warga, tumbuh tiga atau bahkan lebih pohon kopi. Ribuan pohon kopi hidup di Desa Kahianga kala itu. Berdampingan dengan kehidupan para petani. Menjelma sebagai tanaman pagar di hampir setiap rumah warga.

Jika dulu pohon kopi Kahianga mencapai angka ribuan, kini seiring waktu angka tersebut mulai berkurang hingga menjadi ratusan.

"Peluang pasar sulit," terang pak Jaharu. Ada sekitar 500 pohon kopi yang tersisa kini. Warga yang kerap menanamnya kemudian beralih ke tanaman lain. Yang lebih menjanjikan jika dipasarkan, sebagian yang lain lebih memilih beralih ke pekerjaan lain, atau merantau demi menghidupi keluarganya. (*)

Baca Juga