adplus-dvertising

Lakukan 10 Cara Ini Agar Anak Rajin Salat Tanpa Disuruh

Haerani Hambali, telisik indonesia
Minggu, 10 Oktober 2021
5256 dilihat
Lakukan 10 Cara Ini Agar Anak Rajin Salat Tanpa Disuruh
Sebagai orang tua, kita adalah contoh utama bagi anak. Jadi jika kita memprioritaskan salat dan tidak pernah menunda atau melewatkannya, anak akan merekam dan tumbuh dengan memahami betapa pentingnya salat. Foto: Repro Kumparan.com

" Anak-anak memang belum diwajibkan untuk mendirikan salat, akan tetapi perlu dididik dan diajarkan sejak dini. "

KENDARI, TELISIK.ID - Salat adalah tiang agama dan termasuk dalam rukun Islam yang kedua setelah mengucap dua kalimat syahadat. Adalah kewajiban setiap muslim untuk mendirikan salat.

Salah satu syarat wajib salat adalah baligh, yakni cukup umur. Anak-anak memang belum diwajibkan untuk mendirikan salat, akan tetapi perlu dididik dan diajarkan sejak dini.

Rasulullah SAW sendiri memberi perintah supaya anak mulai dilatih untuk salat sejak usia 7 tahun. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,


Dari Abdullah bin Amr  ra, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Suruhlah anak kalian salat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan salat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak perempuan).”

Meski belum bisa melakukan gerakan-gerakan salat dengan sempurna, setidaknya ia sudah diajarkan sejak dini  apa itu salat dan mengapa umat Islam diwajibkan untuk salat. Jangan sampai terlambat untuk memberikan pemahaman kepada anak.

Mengajarkan anak salat sejak dini juga akan melatih kebiasannya. Biasanya anak-anak masih senang dengan kegiatan bermainnya, tak jarang mereka jadi lupa waktu. 

Jika salat sudah dijadikan kebiasaan dan pemahaman yang diberikan dengan baik, maka anak akan tahu tanggung jawabnya sebagai orang Islam. Orang tua tak perlu memaksanya untuk mendirikan salat.

Dikutip dari kumparan.com, berikut ini 10 cara yang bisa Anda coba untuk membiasakan anak salat sejak dini.

1. Memberi Contoh

Anak-anak suka meniru orang tua mereka. Jadi, biarkan anak melihat bagaimana kita bergegas mengambil air wudu, memakai mukena dan menggelar sajadah begitu suara azan terdengar.

Sebagai orang tua, kita adalah contoh utama bagi anak tentang apa artinya menjadi seorang Muslim. Jadi jika kita memprioritaskan salat dan tidak pernah menunda atau melewatkannya, anak akan merekam dan tumbuh dengan memahami betapa pentingnya salat.

Setiap waktu salat tiba, katakan pada anak, “Ibu punya janji dengan Allah. Jadi Ibu tidak ingin dan tidak boleh terlambat!"

2. Biasakan Salat Berjemaah

Salah satu cara mendorong sikap positif terhadap salat, adalah menjadikannya praktik kolektif. Maka selain mencontohkan anak salat, cobalah untuk salat berjemaah setidaknya sekali sehari bersama seluruh anggota keluarga. Ajak dan panggil si kecil untuk salat bersama walau ia belum hafal bacaan maupun gerakannya.

Ingatkan Ayah untuk mengajak anak-anak laki-laki salat Jumat sesering mungkin. Salat Jumat berjamaah di masjid sangat penting dan akan memberi anak rasa identitas yang kuat termasuk dorongan untuk jadi lebih rajin salat.

3. Mulai Sejak Dini

Diriwayatkan Abu Daud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan salat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Dalam hadis itu, Nabi Muhammad SAW menganjurkan orang tua untuk memukul anaknya apabila meninggalkan salat pada usia 10 tahun. Namun dalam video yang diunggah di YouTube oleh kanal “Semua Murid Semua Guru”, Ustaz Quraish Shihab menjelaskan bahwa Anda harus bijak dalam memahami arti kata memukul dalam hadis tersebut. Sebab, kata memukul atau “dharaba” dalam Bahasa Arab, memiliki tafsir yang luas.

“Orang yang berjalan itu juga dinamai “memukul” bumi. Mereka yang mendendangkan lagu di telinga anak juga dikatakan “memukul-mukul” telinga,” jelas Quraish Shihab dalam video itu.

Ia lalu memaparkan yang perlu ditanamkan pada anak adalah kebiasaan untuk salat sejak dini. Dengan begitu, tanpa dipaksa dan tanpa harus menunggu usia 10 tahun pun, anak akan merasa butuh untuk menjalankan salat.

4. Mulai dari Langkah Kecil

Tak perlu langsung berharap anak mendirikan salat lima waktu. Mulailah dari langkah-langkah kecil. Ajak anak ikut salat bersama Anda, atau bila belum mau, biarkan anak sekadar ikut duduk dengan mukena di samping Anda.

5. Jelaskan dengan Visual

Anak-anak sulit memahami hal yang abstrak. Sebaliknya, mereka bisa merespons dengan baik gambar atau isyarat-isyarat visual.

Bantulah anak memahami dan mengingat waktu salat. Misalnya dengan menggantungkan gambar jarum jam yang menunjukkan 5 waktu salat di suatu tempat di rumah yang mudah dilihat anak atau poster yang menunjukkan gerakan-gerakan salat di kamarnya.

Bisa juga dengan membuatkan anak papan salat. Untuk setiap salat yang dilakukan anak tepat waktu, mereka bisa menempelkan stiker orang tersenyum atau mewarnai gambar bintang dengan warna kuning. Katakan pada anak, ini jadi tanda atau pengingat bahwa Allah senang ia sudah melakukan salat.

Jika salatnya terlambat atau bahkan terlewat, stikernya orang bersedih atau warna bintangnya jadi hitam sebagai pengingat bahwa Allah tidak suka kalau kita meninggalkan salat.

6. Siapkan Ruang Khusus

Siapkan ruang atau setidaknya sudut khusus untuk salat di rumah. Anak-anak akan mengerti betapa pentingnya salat yang bahkan sampai memiliki ruang khusus di rumahnya. Ajari juga anak bahwa ruangan ini adalah ruang istimewa yang hanya digunakan untuk salat dan harus dijaga kebersihan serta kerapihannya.

7. Kenalkan dan Tanamkan Rasa Cinta pada Allah SWT 

Tanpa pemahaman akan Sang Pencipta, salat menjadi sekadar ritual bagi anak yang tidak memiliki koneksi spiritual dan emosional dengan Tuhannya, Allah SWT.

Karena itu sejak dini, sampaikan pada anak Anda tentang bagaimana Allah menyayanginya, menciptakan segalanya dan bagaimana Allah menyediakan semua yang kita nikmati, dan akan melindungi mereka. Ini akan menanamkan cinta yang mendalam kepada Allah di hati anak.

8. Jadikan Nabi Muhammad SAW Idola Mereka

Tentu saja, Anda juga perlu sering bercerita tentang sosok Nabi Muhammad SAW, kepada anak. Sehari-hari, bacakan anak cerita tentang kehidupan, perjuangan dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ingatkan bagaimana kita harus meneladaninya dalam berperilaku.

Ketika anak mencintai dan mengidolakan Rasulullah, mereka akan ingin menirunya termasuk jadi rajin salat karena Rasul pun melakukannya.

9. Rayakan

Ketika anak Anda berusia tujuh tahun, buat perayaan atau pesta kecil. Undang sepupu-sepupu atau teman-teman mereka untuk berbagi kegembiraan karena ia memasuki tahap baru ini dalam hidupnya.

Beri anak sajadah, mukena atau sarung, atau jam alarm adzan sebagai hadiahnya. Anak pasti gembira dan bangga bahwa ia kini dapat mulai salat seperti Anda dan ayahnya.

10. Konsisten

Meskipun kita ingin anak-anak rajin salat, akan ada saatnya ketika mereka merasa malas dan tidak mau salat. Tak perlu marah atau memaksa, tapi teruslah konsisten dan ingatkan mereka untuk tidak melewatkan salat sebagai kewajibannya.

Dikutip dari Akurat.co, selain usaha-usaha tersebut, terdapat doa khusus yang selalu dibaca oleh Nabi Ibrahim supaya anak selalu mendirikan salat dan tidak pernah meninggalkan salat. Doa ini tercantum dalam Surat Ibrahim ayat 40.

Rabbij’alnii muqimash sholaati wa min durriyatii, rabbanaa wa taqabbal du’a.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.”

Tak hanya dibaca bagi yang sudah memiliki anak, doa ini juga sangat baik untuk diamalkan bagi yang belum memiliki anak. (C)

Reporter: Haerani Hambali 

Editor: Fitrah Nugraha 

Artikel Terkait
Baca Juga