Mahasiswa STIKes Pelita Ibu Belajar di Klinik Bumi Sehat Bali, Perkuat Kompetensi Kebidanan Komplementer

Ana Pratiwi, telisik indonesia
Selasa, 14 April 2026
0 dilihat
Mahasiswa STIKes Pelita Ibu Belajar di Klinik Bumi Sehat Bali, Perkuat Kompetensi Kebidanan Komplementer
Mahasiswa STIKes Pelita Ibu Kendari saat studi banding di Klinik Bumi Sehat, Bali. Foto: Ist.

" STIKes Pelita Ibu Kendari memperkuat kompetensi mahasiswa melalui program pembelajaran lapangan terintegrasi di Klinik Utama Yayasan Bumi Sehat, Ubud, Bali "

KENDARI, TELISIK.ID - STIKes Pelita Ibu Kendari memperkuat kompetensi mahasiswa melalui program pembelajaran lapangan terintegrasi di Klinik Utama Yayasan Bumi Sehat, Ubud, Bali, pada Selasa (7/4/2026) pekan lalu.

Kegiatan ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman praktik nyata, guna mencetak bidan yang siap kerja, adaptif, dan mampu bersaing di bidang pelayanan kesehatan.

Sebanyak 32 mahasiswa bersama satu dosen pembimbing mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman selama satu hari penuh.

Mereka terlibat langsung dalam pengamatan, praktik, serta interaksi dengan tenaga profesional di bidang kesehatan ibu dan anak.

Klinik Utama Yayasan Bumi Sehat yang berlokasi di Ubud dikenal dengan pendekatan gentle and natural birth.

Fasilitas ini melayani persalinan 24 jam, pemeriksaan kehamilan, hingga layanan kesehatan umum dengan sistem donasi berbasis kemampuan pasien.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari berbagai aspek kebidanan komplementer, mulai dari sistem pelayanan, manajemen klinik, hingga praktik seperti prenatal yoga dan pendekatan persalinan alami.

Baca Juga: Tiga Dosen STIKes Pelita Ibu Raih Hibah Kemdikbudristek 2026, Angkat Isu Kesehatan dan Kearifan Lokal

Pembelajaran juga mencakup aspek sosial, budaya, dan psikologis dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Mahasiswa turut berinteraksi langsung dengan Bidan Robin Lim, CPM, pendiri Yayasan Bumi Sehat. Dalam sesi tersebut, ia menekankan bahwa profesi bidan memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi.

“Menjadi bidan bukan sekadar profesi, tetapi sebuah kepercayaan untuk hadir dan menolong sesama manusia,” ujarnya.

Selama kegiatan, mahasiswa juga didampingi oleh bidan Ni Nyoman Susanti, yang memberikan penguatan teknis di lapangan.

Pendampingan ini memastikan proses pembelajaran berjalan optimal dan sesuai dengan standar praktik kebidanan.

Ketua Program Studi S1 Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan STIKes Pelita Ibu, Sulfianti A. Yusuf, SST., M.H.Kes, menegaskan bahwa pembelajaran berbasis praktik menjadi kunci dalam mencetak lulusan berkualitas.

“Kami tidak menyiapkan lulusan yang hanya mengikuti standar. Yang kami bentuk adalah bidan yang siap turun ke lapangan dengan percaya diri, mampu mengambil keputusan, dan memiliki kemampuan untuk berkembang,” katanya.

Menurutnya, kurikulum disusun berbasis capaian pembelajaran dengan penguatan pada asuhan kebidanan komplementer, manajemen organisasi, serta kepemimpinan.

Asuhan kebidanan komplementer, menurut Sulfianti, memberi ruang bagi mahasiswa untuk melihat pelayanan secara lebih luas.

"Ditambah kemampuan manajerial, lulusan tidak hanya bekerja dalam sistem, tetapi mampu mengembangkan layanan dan menciptakan nilai tambah,” jelas Sulfianti.

Pengalaman langsung di lapangan dinilai mampu membentuk pola pikir mahasiswa menjadi lebih matang.

Mereka belajar memahami kebutuhan pasien serta memberikan pelayanan yang tidak hanya sesuai standar, tetapi juga mengedepankan sisi kemanusiaan.

Program ini merupakan bagian dari skema pembelajaran rutin STIKes Pelita Ibu dengan berbagai mitra praktik yang telah disesuaikan dengan capaian pembelajaran.

Baca Juga: Pelita Ibu Kendari Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru 2026, Gratis SPP dan Banjir Beasiswa

Mahasiswa diberikan fleksibilitas memilih lokasi praktik agar pengalaman yang diperoleh tetap relevan dan berkualitas.

Sebagai satu-satunya penyelenggara pendidikan terintegrasi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan di Provinsi Sulawesi Tenggara, STIKes Pelita Ibu menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu membawa perubahan dalam pelayanan kesehatan.

“Kalau kita ingin lulusan yang unggul, proses pendidikannya juga harus unggul. Mahasiswa harus dibawa ke realitas, belajar langsung dari praktik terbaik, dan dibentuk untuk berpikir maju,” tutup Sulfianti. (D-Adv)

Penulis: Ana Pratiwi

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga