RKAB Baru Nikel 2026 Resmi Diterbitkan ESDM, Kuota Produksi Dipangkas 30 Persen

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 22 Februari 2026
0 dilihat
RKAB Baru Nikel 2026 Resmi Diterbitkan ESDM, Kuota Produksi Dipangkas 30 Persen
Pemerintah menetapkan kuota baru produksi nikel 2026 turun sekitar 30 persen untuk industri. Foto: Repro Kemenkeu

" Aktivitas tambang nikel kembali bergerak terbatas setelah pemerintah menetapkan kuota produksi nasional tahun depan "

JAKARTA, TELISIK.ID - Aktivitas tambang nikel kembali bergerak terbatas setelah pemerintah menetapkan kuota produksi nasional tahun depan. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi menerbitkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB nikel periode 2026 pada Selasa, 10 Februari 2026.

Dokumen tersebut memuat penyesuaian signifikan terhadap target produksi bijih nasional, dengan kisaran 260 juta hingga 270 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan target tahun sebelumnya yang mencapai 379 juta ton, atau turun sekitar 30 persen.

Pengumuman disampaikan di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno menjelaskan kuota tersebut telah ditetapkan setelah evaluasi kebutuhan industri dan kondisi pasar global.

Ia menegaskan keputusan itu sudah berlaku efektif untuk perencanaan produksi perusahaan tambang.

“RKAB nikel sudah kita umumkan hari ini, target produksinya 260–270 juta ton, in between range-nya itu,” kata Tri kepada awak media, seperti dikutip dari Blomberg, Minggu (22/2/2026).

Baca Juga: BPK Tak Bisa Hitung Kerugian Negara dari Kasus Tambang Nikel di Konawe Utara, Begini Penjelasannya

Penurunan kuota disebut selaras dengan proyeksi pelaku usaha. Sebelumnya, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia atau APNI telah memberi kisi-kisi bahwa produksi akan ditekan untuk menjaga keseimbangan harga.

Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, menyebut angka produksi dirancang lebih terkendali agar pasokan tidak berlebih di pasar domestik maupun ekspor.

“Rencana pemerintah gitu, produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sebanyak 250 juta ton. Rencana ya. Namun, kan saya enggak tahu realisasinya. Biar harga naik dong. Kalau produksi terlalu over kan harga pasti turun ya," ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan bahan baku industri pengolahan justru meningkat. Forum Industri Nikel Indonesia memperkirakan kapasitas smelter dalam negeri terus bertambah seiring beroperasinya proyek baru, termasuk fasilitas berbasis teknologi high pressure acid leaching. Kondisi ini mendorong permintaan bijih saprolit dan limonit lebih besar dibandingkan pasokan lokal yang tersedia.

Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusuma, menyebut total kebutuhan bijih tahun ini dapat mencapai 340 hingga 350 juta ton. Jika produksi nasional hanya sekitar 250 juta ton, maka terdapat celah pasokan yang cukup lebar.

Baca Juga: PT Vale Perlihatkan Praktik Tambang Berkelanjutan di Morowali pada Aparat Desa dan Kecamatan

“FINI memprediksi bahwa impor bijih nikel sebagai mekanisme penyeimbangan utama. Diperkirakan impor berpotensi meningkat hingga ~50 juta ton basah (wmt); di mana ?30 juta ton basah [wmt] berasal dari Filipina, sisanya dari tempat lain,” kata Arif.

Ia menambahkan sebagian besar impor diproyeksikan berasal dari Filipina, yang selama ini menjadi pemasok utama bijih nikel bagi industri dalam negeri. Sekitar 80 persen arus masuk tercatat melalui pelabuhan di Maluku Utara, sementara sisanya tersebar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Sejumlah lokasi tambang dan smelter tetap beroperasi mengikuti kuota baru. Aktivitas penambangan, seperti yang terlihat di fasilitas Harita Nickel di Pulau Obi serta proses peleburan matte di smelter PT Vale Indonesia di Sorowako, berjalan dengan penyesuaian volume produksi. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga