adplus-dvertising

Sepasang Pemulung dengan Kisah Masa Lalu yang Pahit

Nadwa Rifada, telisik indonesia
Senin, 04 April 2022
737 dilihat
Sepasang Pemulung dengan Kisah Masa Lalu yang Pahit
Herman bersama istrinya Lisa dan anaknya Nur Hayati, sedang duduk beristirahat di pinggir jalan karena kecapean memulung. Foto : Nadwa Rifada/Telisik

" Di bawah panasnya terik matahari, Herman masih tetap bisa menjalankan puasa walau sambil memulung "

KENDARI, TELISIK.ID - Ramadan telah tiba. Orang-orang mulai menjalankan puasa sebagaimana mestinya, begitu pula dilakukan Herman, seorang bapak yang kesehariannya memulung.

Di bawah panasnya terik matahari, Herman masih tetap bisa menjalankan puasa walau sambil memulung. mungkin Herman bukan orang yang berpendidikan, tetapi ia paham puasa adalah ibadah wajib yang semua umat Islam diharuskan untuk menunaikannya.

Setiap hari Herman berkeliling di tempat-tempat sampah untuk mengumpulkan botol, kardus dan barang bekas yang bisa ditimbangnya. Seperti hari ini, walau pun dahaga, Herman tetap semangat memulung.


Herman tinggal bersama istri dan anaknya di sebuah lahan tetangga yang sering mereka panggil bos. Karena bantuan bosnya, Herman beserta keluarga tidak kesusahan lagi untuk mencari tempat tinggal.

Herman mengungkapkan, dahulu ia adalah seorang nelayan di Pasar Palelangan Ikan Kendari. Namun seiring berjalannya waktu, takdir mengubah kehidupan Herman, yang tadinya ia yang berprofesi sebagai nelayan harus berganti menjadi pemulung. Meski demikian, Herman tetap bersyukur karena dari pekerjaannya memulung masih tetap bisa menghidupi istri dan anaknya.

Selama 15 tahun Herman menggeluti pekerjaannya memulung. Walau kadang hanya memperoleh Rp 500.000 per bulan, Herman tetap bisa bernapas lega karena kebutuhan hidup masih bisa tercukupi.

Baca Juga: Kisah Pedagang Sapu Lidi Jalanan jadi Guru Ngaji

Dalam kesehariannya memulung Herman sering ditemani istrinya, Lisa yang selalu membawa Nur Hayati, anak semata wayangnya yang masih berumur 1 tahun.

Lisa sama seperti suaminya, hari-harinya diisi dengan memulung. Meskipun Lisa, istri Herman hanya bersekolah sampai kelas 1 Sekolah Dasar, ia tidak ingin anaknya Nur mengalami hal serupa dengannya. Lisa berniat menyekolahkan Nur hingga selesai pendidikan.

"Nur mau sekolah, nanti bapakku yang bayarkan sekolahnya," ungkap Lisa terbata-bata, Senin (4/4/2022).

"Memang dia seperti ada gangguan begitu. Bicaranya kadang tidak jelas," kata Herman menimpali.

Herman menceritakan, istrinya Lisa memang memiliki masa lalu yang pahit. Karena masa lalunya tersebut ia harus menanggung sulitnya berbicara dan terkadang kurang bisa merespon perkataan orang lain dengan baik.

Baca Juga: Demi Bantu Ekonomi Keluarga, Pelajar Ini Jadi Buruh Pikul di Pasar

Dari penjelasan Herman, diketahui sewaktu kecil Lisa pernah dipukuli oleh bapaknya. Tak tanggung-tanggung, Lisa dipukuli menggunakan baling kipas angin. Kepala Lisa mengenai ujung baling kipas angin dan menyebabkan luka parah hingga mengucurkan darah.

Peristiwa itu terjadi karena Lisa mengambil uang ayahnya di celengan. Bukan tanpa alasan, Lisa mengambilnya karena ingin diberikan kepada sang Ibu yang ketika itu jarang diberi uang oleh bapaknya. Karena ketahuan, Lisa pun akhirnya dipukuli.

Peristiwa masa lalu yang pahit itu adalah peristiwa yang tidak pernah Lisa lupakan sampai saat ini. Lisa belum sepenuhnya bisa merespon perkataan orang lain dengan baik dan masih terbata-bata berbicara hingga sekarang.

Bisa jadi orang lain yang berada di posisi Lisa akan membenci bapaknya sendiri, mengetahui pukulan di kepala menyebabkan sakit seumur hidup, namun Lisa tetap menerimanya dengan lapang dada, sehingga hubungannya dengan orang tuanya masih tetap terjalin dengan baik. (A)

Reporter: Nadwa Rifada

Editor: Kardin

Baca Juga