SMKN 7 Kendari Gelar Pesantren Ramadan, Integrasikan Nilai Religius dan Budaya Industri
Ana Pratiwi, telisik indonesia
Rabu, 25 Februari 2026
0 dilihat
Kegiatan pesantren Ramadan yang diikuti seluruh siswa di aula SMKN 7 Kendari. Foto: Ist.
" SMKN 7 Kendari menggelar program spiritual morning dan pesantren Ramadan selama bulan suci tahun ini dengan mengintegrasikan nilai keagamaan dan budaya kerja industri "

KENDARI, TELISIK.ID - SMKN 7 Kendari menggelar program spiritual morning dan pesantren Ramadan selama bulan suci tahun ini dengan mengintegrasikan nilai keagamaan dan budaya kerja industri.
Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari, tetap berjalan berdampingan dengan pembelajaran reguler, sebagai upaya membentuk karakter religius sekaligus kesiapan kerja siswa.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Dahniar, menjelaskan bahwa kegiatan dimulai pagi hari dengan spiritual morning yang diisi tadarus dan kultum (kuliah tujuh menit).
Proses belajar mengajar tetap berlangsung pukul 08.30–11.40 Wita, kemudian dilanjutkan salat Zuhur dan pesantren Ramadan.
Baca Juga: Konsumsi BBM Diprediksi Naik 8 Persen Jelang Idul Fitri, Pertamina Perkuat Stok dan Distribusi di Sultra
“Materinya memang keagamaan, tetapi kami kaitkan dengan pembinaan karakter dan budaya kerja yang dibutuhkan di industri,” ujar Dahniar kepada telisik.id, Selasa (24/2/2026).
Ia mencontohkan, pada hari pertama materi mengangkat tema 'kerja adalah jihad' yang menekankan bahwa bekerja bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari perjuangan dan ibadah. Materi disusun bergilir setiap hari dengan topik berbeda.
Menurut Dahniar, pendekatan ini berbeda dari Ramadan sebelumnya yang lebih berfokus pada praktik ibadah dasar. Tahun ini sekolah mulai mengintegrasikan pembinaan karakter, mental dan kesiapan industri sejalan dengan status SMKN 7 Kendari sebagai sekolah Pusat Keunggulan yang menerapkan model pembelajaran teaching factory.
“Teaching factory itu menghadirkan budaya industri di sekolah. Jadi nilai religius kami padukan dengan budaya kerja agar karakter siswa terbentuk utuh,” jelasnya.
Meski guru memiliki tanggung jawab ganda mengajar sekaligus menyiapkan materi pesantren Ramadan, Dahniar memastikan tidak ada kendala berarti.
Pembagian materi disesuaikan dengan kompetensi masing-masing guru, seperti etos kerja oleh guru agama, amanah dan integritas oleh guru PKN, adab dan komunikasi oleh guru Bahasa Indonesia, serta sejumlah tema lainnya.
Program ini juga merujuk pada surat edaran Menteri Agama RI tentang penguatan kegiatan keagamaan selama Ramadan. Sekolah kemudian mengembangkan konsep tersebut menjadi program yang lebih aplikatif dan kontekstual.
Pada pekan pertama, materi disampaikan oleh guru internal. Pekan berikutnya, sekolah berencana menghadirkan narasumber dari Dompet Dhuafa melalui program Ramadan Produktif dengan gerakan menulis Al-Qur’an.
Untuk siswa non-Muslim, sekolah menyediakan pembinaan karakter yang dibimbing guru agama Kristen dan guru BK. Materi tetap menitikberatkan pada penguatan budi pekerti dan karakter.
Sementara itu, Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Tinus Baha, yang membawakan materi 'kerja adalah jihad', menegaskan bahwa jihad tidak hanya dimaknai sebagai peperangan.
“Jihad itu semua aktivitas positif yang kita lakukan, termasuk bekerja dan menuntut ilmu. Kerja jangan dijadikan beban, tetapi dinikmati sebagai bagian dari perjuangan,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Guru Honorer Bergaji Rp 5 Ribu hingga Pimpin SMPN 2 Kendari, M Jumrin Prioritas Pendidikan Karakter
Tinus menjelaskan kepada siswa bahwa saat ini mereka berada dalam fase belajar kerja, yakni mempersiapkan diri melalui pendidikan sebelum benar-benar terjun di dunia kerja.
Dalam penyampaian materi yang berlangsung selepas Zuhur, Tinus mengakui tantangan muncul karena siswa cenderung mengantuk. Untuk itu, ia menggunakan pendekatan interaktif dan membangun semangat agar suasana tetap hidup.
“Kalau penyampaiannya monoton, pasti bosan. Jadi harus ada strategi dan kolaborasi agar anak-anak tetap antusias,” katanya.
Dari pengamatannya, respons siswa cukup positif. Materi yang dikaitkan langsung dengan dunia kerja dinilai lebih relevan dan mudah diterima.
Pihak SMKN 7 Kendari berharap program ini tidak sekadar mengisi Ramadan dengan kegiatan seremonial, tetapi menjadikannya momentum pembinaan karakter religius yang selaras dengan kebutuhan industri. (B-Adv)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS