Kalahkan Peramal, Begini Sistem Kerja Peringatan Dini Gempa di Jepang
Merdiyanto , telisik indonesia
Sabtu, 30 Mei 2026
0 dilihat
Jepang memiliki teknologi yang bisa mengetau kapan terjadinya gempa dengan menggunakan sistem peringatan dini gempa yang dikenal sebagai Earthquake Early Warning (EEW). Foto: Repro BBC
" Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling siap menghadapi gempa bumi di dunia. Setiap kali ada peringatan dini yang muncul di layar ponsel, televisi, atau radio "

TOKYO, TELISIK.ID - Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling siap menghadapi gempa bumi di dunia. Setiap kali ada peringatan dini yang muncul di layar ponsel, televisi, atau radio.
Sistem ini murni berbasis sains dan teknologi, bukan prediksi masa depan, melainkan deteksi cepat sesaat setelah gempa terjadi.
Sistem yang dikenal sebagai Earthquake Early Warning (EEW) atau Kinkyu Jishin Sokuho ini dikelola oleh Japan Meteorological Agency (JMA) sejak diluncurkan pada 1 Oktober 2007.
Ia memanfaatkan perbedaan kecepatan gelombang gempa untuk memberikan waktu berharga bagi masyarakat, dilansir dari time.com, Sabtu (30/5/2026).
Baca Juga: Unik: Sapi Albino Mirip Donald Trump Bikin Geger Jelang Idul Adha
Mekanisme Kerja
Ketika gempa terjadi, ia menghasilkan dua jenis gelombang utama:
- Gelombang P (Primary): Gelombang awal yang lebih cepat, lemah, dan tidak terlalu merusak. Ia bergerak lebih dulu.
- Gelombang S (Secondary): Gelombang utama yang lebih lambat tapi jauh lebih kuat dan berbahaya, menyebabkan guncangan hebat.
Jepang memiliki ribuan sensor seismograf yang tersebar luas. Begitu sensor mendeteksi Gelombang P di dua atau lebih lokasi, sistem langsung memproses data secara real-time:
1. Menentukan lokasi episenter (pusat gempa), kedalaman, dan estimasi magnitudo.
2. Menghitung intensitas guncangan yang diperkirakan di berbagai wilayah.
3. Mengirimkan peringatan sebelum Gelombang S tiba.
Karena sinyal komunikasi bergerak mendekati kecepatan cahaya jauh lebih cepat daripada gelombang gempa yang merambat di dalam tanah peringatan bisa sampai ke masyarakat dalam hitungan detik.
Waktu peringatan bisa beberapa detik hingga puluhan detik, tergantung jarak dari episenter.
Peringatan dikeluarkan untuk publik jika intensitas gempa diperkirakan mencapai level 5 atau lebih di area yang diprediksi mengalami intensitas 4 atau lebih.
Sistem ini terus memperbarui informasi saat data baru masuk, sehingga akurasinya meningkat seiring waktu.
Pada gempa Tohoku 2011, jutaan orang mendapat peringatan 15–20 detik sebelum guncangan kuat, yang membantu banyak nyawa terselamatkan, dilansir dari validnews.id, Sabtu (30/5/2026).
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Ditutup 70 Hari, Cadangan Minyak Global Terkuras 1 Miliar Barel
Bukan Ramalan, Tapi Mitigasi Risiko
EEW bukan sistem prediksi gempa sebelum terjadi. Ia baru aktif setelah gempa mulai terjadi dan mendeteksi gelombang awal. Jepang juga memiliki sistem pendukung seperti J-Alert untuk ancaman yang lebih luas, termasuk tsunami.
Keberhasilan sistem ini didukung oleh edukasi masyarakat yang kuat sejak sekolah, sehingga orang tahu harus segera berlindung di bawah meja, menjauhi jendela, atau berpegangan saat alarm berbunyi.
Teknologi Jepang ini menjadi acuan banyak negara, termasuk upaya Indonesia mengembangkan sistem serupa melalui BMKG.
Meski tidak bisa mencegah gempa, detik-detik peringatan dini ini bisa sangat menentukan keselamatan. (C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS