Tanpa Toko dan Modal, Rumah Kuee di Kendari Tembus Perputaran Transaksi Rp 100 Juta dalam 3 Bulan
Erni Yanti, telisik indonesia
Rabu, 05 Agustus 2026
0 dilihat
Pemilik Rumah Kuee, Mey, menunjukkan produk snack kiloan yang sudah diberi label brand miliknya. Foto: Dok. Rumah Kuee
" Tidak memiliki toko fisik bukan menjadi penghalang bagi Mey, perempuan 32 tahun, untuk mengembangkan bisnis snack kiloan "

KENDARI, TELISIK.ID - Tidak memiliki toko fisik bukan menjadi penghalang bagi Mey, perempuan 32 tahun, untuk mengembangkan bisnis snack kiloan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Lewat merek Rumah Kuee, Mey membangun bisnis dari rumah dengan mengandalkan pemasaran digital, sistem pre-order (PO), serta jaringan reseller.
Menariknya, sejak mulai aktif pada Mei 2026 hingga Agustus 2026, bisnis rumahan tersebut telah mencatat perputaran transaksi sekitar Rp 100 juta.
Angka tersebut merupakan akumulasi transaksi Rumah Kuee selama sekitar tiga bulan menjalankan usaha. Sementara itu, omzet sekitar Rp 30 juta merupakan pencapaian pada PO pertama yang dilakukan bertepatan dengan momentum Idul Adha pada Mei 2026.
Mey mengatakan, Rumah Kuee merupakan usaha penjualan berbagai jenis snack kiloan dan kue kering yang dikemas ulang (repacking), kemudian diberi identitas dan branding sendiri.
Produk yang ditawarkan di antaranya stik keju, kuping gajah dan berbagai jajanan kering lainnya yang memiliki pasar cukup luas.
Menurut Mey, ide membangun Rumah Kuee berangkat dari peluang sederhana. Ia tidak memulai bisnis dengan modal besar maupun menyewa tempat usaha. Sebaliknya, ia memanfaatkan sistem PO.
Ketika ada pelanggan yang memesan, pembayaran dari pelanggan digunakan untuk membeli produk yang dibutuhkan.
“Awalnya benar-benar tanpa modal. Ada orang yang mencari snack, kemudian dia kirim uang, baru saya pergi belanja. Dari situ pecah telur pertama,” kata Mey saat diwawancarai telisik.id, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga: Bisnis Digital Menjamur di Sultra, BPS Bongkar Wajah Ekonomi 2026
Dari transaksi pertama sekitar Rp 30 juta pada momentum Idul Adha, Rumah Kuee terus memperluas pasar hingga perputaran transaksi secara akumulatif mencapai sekitar Rp 100 juta sampai Agustus 2026.
Mey mengatakan, margin atau laba bersih yang diperoleh berada di kisaran 10 persen. Karena itu, strategi bisnis Rumah Kuee bukan mengandalkan keuntungan besar dari satu produk, melainkan memperbesar volume penjualan.
“Untungnya sedikit, tapi kali banyak. Itu melalui reseller,” ujarnya.
Untuk menjangkau konsumen, Mey memanfaatkan media sosial sebagai etalase utama Rumah Kuee.
TikTok, Facebook dan WhatsApp digunakan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun komunikasi dengan calon pelanggan. Jejak digital Rumah Kuee dapat ditemukan melalui akun Facebook: Rumah Kuee dan TikTok: Rumah Kuee.
Mey menyadari konsumen saat ini tidak hanya melihat produk dari sisi harga, tetapi juga tertarik pada tampilan visual, cerita dan identitas sebuah brand.
Karena itu, snack yang sebelumnya tidak memiliki merek dikemas ulang dengan identitas Rumah Kuee agar lebih mudah dikenali.
“Zaman sekarang itu orang tertarik melihat visual. Jadi beda kalau jualan yang tidak bermerek dengan yang sudah bermerek. Orang lebih tertarik melihat yang bermerek,” ujarnya.
TikTok menjadi salah satu kanal untuk menjangkau calon pembeli. Sementara Facebook digunakan untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan audiens.
Dari konten tersebut, sejumlah konsumen kemudian datang langsung ke rumah untuk membeli atau melakukan pemesanan melalui media sosial.
Bagi Mey, strategi digital memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk tanpa harus terlebih dahulu memiliki toko fisik.
Selain konten digital, jaringan reseller menjadi bagian penting dalam perkembangan Rumah Kuee.
Mey mulai membangun jaringan tersebut sejak awal usaha berjalan. Sejumlah reseller bahkan berasal dari luar daerah, termasuk Maluku.
Pola reseller membuat penjualan dapat berkembang lebih luas tanpa harus membuka cabang atau toko di setiap daerah.
Dengan margin yang relatif terbatas, volume penjualan menjadi strategi utama untuk menjaga perputaran bisnis.
“Untungnya sedikit, tapi kali banyak,” kata Mey.
Selain mengandalkan konten dan reseller, Mey menilai pelayanan menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan.
Menurutnya, konten merupakan pintu pertama untuk menarik perhatian calon pembeli. Namun, pelayanan setelah transaksi menentukan apakah pelanggan akan kembali melakukan pembelian.
Ia membangun hubungan dengan konsumen melalui komunikasi di media sosial, pelayanan yang baik hingga pemberian bonus tertentu.
“Orang percaya pertama karena konten. Setelah itu pelayanan. Kalau pelayanan bagus, akhirnya mereka percaya,” tuturnya.
Mey juga menilai personal branding memiliki peran penting dalam bisnis berbasis digital.
Menurutnya, pelanggan tidak hanya membeli produk, tetapi juga kepercayaan terhadap orang di balik produk tersebut.
Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, Mey telah menyiapkan target yang lebih besar untuk Rumah Kuee. Ia ingin Rumah Kuee berkembang menjadi pusat grosir snack kiloan di Sulawesi Tenggara, khususnya Kota Kendari.
Target tersebut diarahkan untuk memperkuat jaringan reseller sekaligus memberikan harga yang lebih kompetitif bagi pelaku usaha yang ingin menjual kembali produk Rumah Kuee.
“Harapannya Rumah Kuee bisa menjadi pusat grosir snack kiloan tangan pertama di Sultra, khususnya Kendari, agar reseller bisa mendapatkan harga lebih murah,” ungkapnya.
Dengan strategi konten digital, sistem PO dan jaringan reseller, Mey berharap Rumah Kuee tidak hanya menjadi bisnis rumahan, tetapi berkembang menjadi pemasok snack kiloan yang mampu menjangkau lebih banyak pelaku usaha di Sulawesi Tenggara.
Baca Juga: UMKM Wajib Kuasai Skill Ini agar Bisnis Melesat di 2026
Perjalanan Rumah Kuee juga memperlihatkan bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dengan toko fisik dan modal besar.
Dengan sistem PO, pelaku usaha dapat menguji pasar terlebih dahulu. Ketika permintaan mulai terbentuk, bisnis kemudian diperluas melalui pemasaran digital dan jaringan reseller.
Dari PO pertama sekitar Rp 30 juta saat momentum Idul Adha pada Mei 2026, Rumah Kuee kini telah membukukan perputaran transaksi sekitar Rp 100 juta hingga Agustus 2026.
Dengan margin bersih sekitar 10 persen, Mey memilih membangun bisnis melalui perputaran volume penjualan dan memperluas jaringan pasar secara bertahap.
Di balik perjalanan Rumah Kuee, Mey mendapat dukungan penuh dari suaminya, Erlan.
Erlan menilai istrinya memang memiliki ketertarikan pada dunia bisnis sejak lama, terlebih merupakan alumni ekonomi yang memiliki dasar pengetahuan terkait usaha dan pengelolaan bisnis.
Ia melihat usaha tersebut sebagai peluang yang layak dikembangkan secara bertahap, terlebih Mey mampu memanfaatkan media digital dan jaringan reseller untuk memperluas pasar.
“Memang dari awal Mey suka berbisnis. Dia juga alumni ekonomi, jadi saya melihat ini memang bidang yang dia suka. Selama itu positif dan bisa dikembangkan saya sebagai suami tetap mendukung,” ujar Erlan. (B)
Penulis: Erni Yanti
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS