Tegas, La Ode Riago Bukan Raja Muna
Sunaryo, telisik indonesia
Kamis, 30 Juli 2026
0 dilihat
Pemerhati sejarah, adat dan budaya Muna, La Ode Muhammad Rabiali (kiri) dan La Ode Riago (kanan). Foto: Ist.
" La Ode Riago dianggap bukan sebagai Raja Muna "

MUNA, TELISIK.ID - Posisi La Ode Riago sebagai Raja Muna terus menuai polemik. La Ode Riago dianggap bukan sebagai Raja Muna.
Penegasan itu dinyatakan oleh Pemerhati sejarah, adat dan budaya Muna, La Ode Muhammad Rabiali, Kamis (30/6/2026).
Kata Rabiali, pernyataan Bhonto Bhalano Sara Wuna, Nazaruddin Saga yang menyebut La Ode Riago sebagai Raja Muna adalah sesat dan memalukan. Sebab, pernyataan Nazaruddin itu, tidak etis dan tak berdasar. Buruknya lagi, pernyataan Nazaruddin menunjukan cara berpikir dangkal terhadap adat, budaya dan sejarah Muna.
Cicit Kino Bharata Wasolangka, La Ode Hasani (Panglima Perang Wilayah terluar Kerajaan Muna) itu tegas mengatakan, jika La Ode Riago bukan Raja Muna melainkan sebagai Ketua Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MKAN) yang merupakan organisasi masyarakat (Ormas). Di mana setiap kegiatannya, tidak merepresentasikan masyarakat Muna, apalagi membawa-bawa nama Kerajaan Muna.
"Saya tegaskan, La Ode Riago itu bukan Raja Muna. Dia (Riago) hanya sebagai Ketua Majelis MAKN seperti Ormas," tegas Rabiali.
Baca Juga: Senator DPD RI Wa Ode Rabia Ridwan Komitmen Dorong Percepatan Pembangunan Muna Raya
Kandidat Doktor IPB University itu menjelaskan, masa Kerajaan Muna telah berakhir setelah Belanda membubarkan Sarano Wuna di tahun 1910. Sejak saat itu Sarano Wuna tidak lagi utuh yang dalam hal ini tidak ada lagi Bhonto Bhalano, Mintarano Bhitara dan Ghoerano di dalam Dewan Kerajaan Muna. Bahkan elemen seperti Kapitalau, Kapita dan sistem pemerintahan Bharata sebagai sistem pertahanan dibubarkan.
Di masa itu, Raja-raja Muna (sejak 1910) hingga terakhir adalah Raja La Ode Pandu (khususnya di masa Belanda) tidak lagi memiliki kuasa penuh atas wilayah dan kebijakan untuk rakyatnya. Peran mereka bukan saja dijadikan sebagai simbol adat, melainkan menjadi kepanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda. Mereka bekerja untuk Belanda, digaji oleh Belanda dan tunduk pada Belanda dengan berbagai dinamikanya (Elbert 1911).
Adapun posisi Raja Muna saat ini, hanyalah untuk kebutuhan kebudayaan semata khususnya dalam kegiatan Festival Adat Kerajaan Nusantara yang biasa diselenggarakan oleh MAKN.
"Raja Muna hari ini hanyalah sebagai simbol budaya yang menjelaskan dan mengingatkan bahwa Muna dulunya punya kerajaan," terangnya.
Ia pun mematahkan pernyataan Nazaruddin yang menyebut La Ode Riago sebagai Raja Muna. Sebab sesungguhnya, Raja Muna sebagai simbol budaya dalam kebudayaa yang sah adalah La Ode Sirad Imbo yang telah dikukuhkan sebagai pelaksana Raja Muna pada Jumat 22 Safar atau bertepatan dengan 30 Agustus 2024, yang dilakukan oleh Dewan Sara Lembaga Adat Kerajaan Muna di bawah Bhonto Bhalano Muh. Rizal Wae, S. Sos yang dihadiri dan bertanda tangan dalam berita acara adalah Bupati Muna, Bachrun Labuta, yang saat itu menjabat sebagai Plt Bupati.
Ia menganggap, pernyataan Nazaruddin yang menyebut La Ode Riago sebagai Raja Muna merupakan bagian dari ungkapan sakit hati setelah diberhentikan oleh La Ode Sirad Imbo sebagai Bhonto Bhalano, bersama La Ode Riago sebagai Kino Kasaka di Lembaga Adat Kerajaan Muna.
Baca Juga: Damkar Muna Dapat Tambahan Satu Unit Armada
Pemberhentian itu, lanjut Rabiali dilakukan setelah Nazaruddin dan kawan-kawan bersekongkol secara sembunyi-sembunyi melakukan ritual pelantikan Raja Muna pada La Ode Riago di Kotano Wuna tanpa sepengetahuan La Ode Sirad Imbo. Atas kasus itu, mereka berdua dianggap berkhianat hingga berkonsekuensi dikeluarkannya Surat Pernyataan bernomor: 02/LAKM/08/2024, yang langsung ditandatangani oleh La Ode Sirad Imbo, yang intinya adalah pemberhentian Nazaruddin Saga dan La Ode Riago, S.H dari Lembaga Adat Kerajaan Muna.
Karena status Raja Muna sudah jelas di nahkodai La Ode Sirad Imbo, maka polemik sudah berakhir. Ia sangat prihatin, selama ini masyarakat dibuat resah akibat Raja Muna sebagai simbol budaya telah menjadi bahan olok-olok, mainan dan hinaan. Sinisme muncul, sebut saja raja palsu, raja festival, raja pajangan, raja ingke ingkeho dan lainnya.
"Stop polemik, Raja Muna yang sah adalah La Ode Sirad Imbo," tegasnya.
Penulis: Sunaryo
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS