Ternyata Ini Alasan Pengungsi Rohingya Ramai-Ramai ke Indonesia

Nur Khumairah Sholeha Hasan, telisik indonesia
Kamis, 14 Desember 2023
0 dilihat
Ternyata Ini Alasan Pengungsi Rohingya Ramai-Ramai ke Indonesia
Kedatangan ribuan pengungsi Rohingya ke Indonesia rupanya memiliki alasan tersendiri. Foto: Repro BBC.com

" Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah akan menampung sementara pengungsi Rohingya atas dasar kemanusiaan "

JAKARTA, TELISIK.ID - Kedatangan pengungsi Rohingya ke Indonesia rupanya memiliki alasan tersendiri. Gelombang kedatangan pengungsi Rohingya masih terus terjadi di pesisir pantai Aceh.

Melihat banyaknya pengungsi yang datang, mendapat beragam penolakan dari warga setempat. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah akan menampung sementara pengungsi Rohingya atas dasar kemanusiaan.

Muhadjir berharap, kebaikan yang dilakukan pemerintah Indonesia tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Jika pelanggaran itu terjadi, maka pemerintah akan bertindak keras untuk menolaknya.

Selain itu, Muhadjir juga mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki ikatan dengan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Sehingga, para pengungsi tersebut akan dikembalikan ke lembaga yang bersangkutan untuk penanganan, seperti dilansir dari Tempo.co.

Mengutip Dw.com, saat ini semakin banyak pengungsi Rohingya meninggalkan kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazar, pantai tenggara Bangladesh, dan menyeberangi lautan sejauh 1.800 kilometer menuju Indonesia dengan perahu reyot.

Baca Juga: UNHCR Minta Rohingya Ditampung dalam Satu Lokasi

Pekan lalu, polisi dan nelayan Indonesia mulai berpatroli di beberapa wilayah di Aceh untuk mencegah pendaratan perahu para pengungsi. Lebih dari 1.000 warga Rohingya tiba di Indonesia bulan ini, jumlah terbesar sejak tahun 2015.

Sekitar satu juta muslim Rohingya tinggal di kamp pengungsian kumuh di Cox's Bazar. Pada 2017, militer Myanmar memulai aksi brutalnya terhadap warga Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine dan menghancurkan desa-desa serta menewaskan ribuan orang.

Ratusan ribu lainnya menyelamatkan diri dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh. PBB menyebut tragedi itu sebagai "contoh nyata pembasmian etnis".

Peneliti Rohingnya yang berbasis di Cox’s Bazar Rezaur Rahman, Lenin mengatakan bahwa tidak adanya mata pencaharian yang layak menjadi penyebab utama para penyintas genosida ini melarikan diri dari kamp-kamp pengungsian. Mereka akhirnya melakukan perjalanan ke negara-negara muslim, seperti Malaysia dan Indonesia.

Ada komunitas warga Rohingya yang cukup besar di Indonesia dan Malaysia. Selain itu, para pengungsi juga percaya bahwa mereka bisa mendapatkan penghasilan dan pekerjaan di negara tersebut.

“Selain itu, kekerasan geng, kebrutalan aparat penegak hukum, tindakan kriminal seperti pemerasan, penculikan, serangan fisik, dan kurangnya kesejahteraan psikologis juga jadi penyebabnya,” tambahnya.

Seorang pengungsi Rohingya berusia 19 tahun yang baru-baru ini tiba di Aceh bersama keluarganya mengatakan, para penjahat di Cox's Bazar itu mengancam dia dan keluarganya setiap hari. Dia bahkan membayar lebih dari $1.800 (sekitar Rp 27,8 juta) untuk melakukan perjalanan menggunakan kapal usang menuju Indonesia.

Baca Juga: Ratusan Pengungsi Rohingya Kembali Mendarat di Aceh

Menurut kepolisian Bangladesh, sedikitnya 60 orang Rohingya telah terbunuh di kamp Cox's Bazar tahun ini. Nay San Lwin, salah satu pendiri jaringan aktivis Free Rohingya Coalition, mengatakan kepada DW bahwa banyak pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari aksi kekerasan di kamp-kamp tersebut.

"Geng-geng kriminal menguasai kamp pengungsi di malam hari sehingga tidak ada seorang pun di sana yang merasa aman. Hal ini menjadi tantangan yang signifikan bagi semua pengungsi," tutup Lwin.

Saat ini, para pengungsi Rohingya tersebut tersebar di beberapa wilayah seperti Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Pidie, dan Kabupaten Bireuen. (C)

Penulis: Nur Khumairah Sholeha Hasan

Editor: Haerani Hambali

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Baca Juga