adplus-dvertising

Tiga Atsar Ramadan: Refleksi di Bulan Syawal

Haidir Muhari, telisik indonesia
Minggu, 31 Mei 2020
3809 dilihat
Tiga Atsar Ramadan: Refleksi di Bulan Syawal
Atsar Ramadan seharusnya menyatu dalam perilaku. Foto: Repro buset-online.com

" Kini kerinduan Ramadan menyesak di dada. Akan ada saatnya di kelak nanti, Ramadan menyambut ramah penuh senyum sumringah di depan pintu surga, khusus (VVVIP) dimasuki bagi yang menjalankan puasa. Bagi mereka yang tetap mendekap dan memanifestasikan atsar Ramadan dalam laku, di Syawal, dan di sepanjang tahun. "

KENDARI, TELISIK.ID - Kun Rabbaniyyan, wala takun sya'baniyyan wala Ramadhaniyyan. Jadilah  kalian hamba-hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi hamba-hamba bulan Syaban atau Ramadan.

Demikian pesan ulama kepada alumni Ramadan. Kita semua, yang telah sukses melewati Ramadan dengan berbagai seperangkat gemblengannya. Mengelak bujuk lapar-haus, mendidik gerak nafsu, menekuni tapa dalam penuh integritas.

Di awal Syawal, umat muslim bergembira ria dalam perayaan salat Idul Fitri yang penuh khidmat. Walau dalam masa pandemi COVID-19, citra Syawal tetap terurai lugas dalam sebaran kata mohon maaf lahir dan batin. Muslimin-muslimat menyadari segala khilaf-lalainya sebagai manusia.


Di bulan Syawal disunnahkan untuk menggelar puasa Syawal. Tak main-main ganjaran pahalanya, seperti berpuasa sepanjang tahun.

Kehadiran Syawal bukanlah mendepak Ramadan. Ramadan dan Syawal, juga bulan-bulan setelahnya, saling berdekap dalam romansa harmoni. Seperti nasihat ulama di atas, Ramadan memang istimewa. Namun, seistimewa Ramadan, ia hanyalah momentum untuk mengantarkan kita melebur dalam sadar ketuhanan dan kemanusiaan.

Baca juga: New Normal tapi Bukan Abnormal

Ramadan tak sekadar berlalu. Ia menyusun sadar dan meninggalkan atsar bagi mereka yang melakoninya dengan dedikasi dan integritas. Atsar Ramadan diantaranya adalah integritas, literasi, dan filantropi.

1. Visi Integritas

Sejak terbit fajar, yang menampakkan perbedaan antara warna hitam dan putih, hingga terbitnya mega merah, dan bersenandung sayup adzan magrib, muslim mengelak desakan lapar, haus, 'mendekati pasangan', menahan ajak penglihatan, menyisihkan amarah, dan segala hal yang menjadi aral maksimalnya amal puasa.

Ramadan mentarbiyah muslimin untuk stop tipu-tipu. Ramadan membebaskan manusia dari apa yang disebut psikologi sebagai sikap yang menyimpangi fitrinya (baca: kesucian).

Selama 29 atau 30 hari adalah waktu yang cukup untuk menenun habit, menyikat habis kerak-kerak disintegritas, patologi. Ramadan menjalin simpul erat integritas, agar alumninya tetap kukuh dan berpegang teguh dalam simpul itu, sepanjang tahun, dan tahun-tahun selanjutnya.

Baca juga: Empat Amalan Utama di Hari Jumat

2. Aksentuasi Literasi

Wahyu yang pertama kali turun di bulan Ramadan berjumlah lima ayat tentang Iqra. Lalu di kemudian hari dikenal sebagai surat Al Alaq ayat 1 sampai ayat 5.

Iqra sebagai jawaban kegundahan Rasulullah SAW yang bertahanus di Gua Hira selang beberapa Ramadan, karena menyaksikan realitas kota Bakkah (baca: Mekkah) yang menyesakkan dada. Klasifikasi manusia atas jenis kelamin, pangkat, harta, keberanian bar-bar, kekuatan, dan patologi sosial lainnya.

Ramadan yang sering disebut juga sebagai bulan al-Quran, sejak awal menitahkan semangat literasi. Iqra menurut musafir kawakan, Quraish Shihab, tidak hanya bermakna membaca an sich, melainkan juga memahami, meneliti, mentadaburi, mengeksplorasi, dan pengertian yang semakna dengan itu.

Baca juga: Jadi Mualaf, Keturunan Tionghoa ini Jalani Puasa Ramadan Pertamanya di Kendari

Olehnya, atsar Ramadan juga adalah aksentuasi literasi. Semangat mencari ilmu tak boleh lorot. Aksentuasi literasi adalah laku alumni Ramadan.

Para pakar merumuskan, bangunan peradaban di bangun di atas ilmu. Imam Syafii pernah berpasan, "Mencari kebahagiaan dunia mesti dengan ilmu, mencari kebahagiaan di akhirat mesti dengan ilmu.

3. Gerak Filantropi

Laku yang menyertai Ramadan adalah zakat fitrah. Amal puasa hanya akan terkatung-katung tanpa kejelasan tanpa zakat fitrah.

Zakat fitrah selain sebagai tuntut syariat ia menyirat tuntun gerak filantropi. Kepedulian sosial, kebermanfaatan sosial, menjadi tirakat alumni ramadan.

Rasulullah SAW berpesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesamanya. Di kali lain beliau SAW mewanti-wanti, belum beriman seseorang sebelum mencintai saudara (muslimin lainnya/manusia umumnya), seperti mencintai dirinya sendiri.

Baca juga: Keistimewaan Menikah di Bulan Syawal yang Dilakukan Rasulullah

Ramadan telah berlalu, tapi Ramadan menitip pesan agar atsarnya menjadi laku. Ramadan akan terus seperti itu, bahkan tahun hijriah selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Hingga, alumninya meresapi, menyelami, melebur dalam harmoni atsarnya.

Sekarang kita telah di bulan Syawal. Ulama berpendapat bahwa Syawal dalam bahasa Arab diambil dari kata syalat yang artinya naik. Ini berarti bahwa amal saleh setiap alumni Ramadan meningkat. Syawal adalah atsar (jejak) Ramadan. Istiqamah dalam lajur sadar ketuhanan dan kemanusiaan.

Kini kerinduan Ramadan menyesak di dada. Akan ada saatnya di kelak nanti, Ramadan menyambut ramah penuh senyum sumringah di depan pintu surga, khusus (VVVIP) dimasuki bagi yang menjalankan puasa. Bagi mereka yang tetap mendekap dan memanifestasikan atsar Ramadan dalam laku, di Syawal, dan di sepanjang tahun.

Billahi taufiq wal hidayah, fastabiqul khairat. Wallahu a'lam.

Reporter: Haidir Muhari

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga