Utang Indonesia 2026 ke Amerika Meroket dan Makin Jauh dari China
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 19 Agustus 2026
0 dilihat
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bersama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tampil memberikan jempol dalam pertemuan resmi. Foto: Repro Suzanne Plunket
" Utang Indonesia ke Amerika Serikat melonjak pada Juni 2026 "

JAKARTA, TELISIK.ID - Utang Indonesia ke Amerika Serikat melonjak pada Juni 2026, sementara utang kepada China hanya bertambah tipis sehingga selisihnya melebar.
Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia atau SULNI edisi Agustus 2026, posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$453,37 miliar pada Juni 2026. Dengan asumsi kurs Rp17.830 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp8.084 triliun.
Melansir dari CNBC Indonesia, Rabu (19/8/2026), posisi utang luar negeri itu meningkat US$8,32 miliar dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar US$445,05 miliar. Angka tersebut juga menjadi posisi tertinggi setidaknya sejak 2007 berdasarkan data yang tersedia.
Jika dibandingkan dengan Juni 2025 yang berada di level US$434,17 miliar, utang luar negeri Indonesia meningkat sekitar 4,4 persen secara tahunan atau year on year.
Secara triwulanan, posisi utang luar negeri Indonesia bertambah US$18,91 miliar dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar US$434,46 miliar.
Namun, kenaikan total utang luar negeri pada Juni 2026 bukan berasal dari utang pemerintah dan sektor swasta. Kedua kelompok tersebut justru mencatatkan penurunan secara bulanan.
Baca Juga: Kabar Baru untuk Calon Pembeli Motor Listrik, Subsidi Ditarget Mulai September 2026
Posisi utang pemerintah turun US$1,03 miliar, dari US$217,33 miliar pada Mei menjadi US$216,29 miliar pada Juni 2026. Meski menurun secara bulanan, nilainya masih meningkat sekitar 2,9 persen dibandingkan Juni 2025.
Sementara itu, utang luar negeri sektor swasta menyusut US$1,96 miliar menjadi US$194,62 miliar. Secara tahunan, posisi tersebut turun sekitar 0,6 persen.
Kenaikan total utang luar negeri terutama berasal dari Bank Indonesia. Posisi utang bank sentral melonjak US$11,31 miliar dalam satu bulan, dari US$31,15 miliar pada Mei menjadi US$42,46 miliar pada Juni 2026.
Bank Indonesia menjelaskan peningkatan utang luar negeri bank sentral terutama dipengaruhi bertambahnya kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.
Utang Indonesia ke Amerika Serikat Melonjak
Data Bank Indonesia mencatat utang Indonesia kepada Amerika Serikat mencapai US$29,54 miliar pada Juni 2026. Nilai tersebut meningkat US$1,53 miliar atau 5,46 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$28,01 miliar.
Kenaikan utang dari Amerika Serikat menjadi yang terbesar secara nominal di antara negara-negara pemberi pinjaman kepada Indonesia pada Juni 2026.
Sebaliknya, utang Indonesia kepada China hanya bertambah US$90,9 juta atau sekitar 0,36 persen. Nilainya naik dari US$25,60 miliar pada Mei menjadi US$25,69 miliar pada Juni 2026.
Perbedaan kenaikan tersebut membuat selisih utang Indonesia kepada Amerika Serikat dan China semakin lebar.
Pada Mei 2026, selisih utang Indonesia kepada kedua negara tersebut sekitar US$2,41 miliar. Sebulan kemudian, selisihnya meningkat menjadi US$3,85 miliar.
Utang Indonesia kepada Amerika Serikat juga tumbuh lebih cepat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilainya meningkat US$3,11 miliar atau 11,8 persen dari US$26,42 miliar pada Juni 2025.
Sementara itu, utang Indonesia kepada China bertambah US$1,74 miliar atau 7,3 persen dibandingkan Juni 2025 yang tercatat sebesar US$23,95 miliar.
Utang dari Amerika Didominasi Swasta
Jika dilihat berdasarkan kelompok peminjam, sebagian besar utang Indonesia dari Amerika Serikat berasal dari sektor swasta.
Dari total US$29,54 miliar utang kepada Amerika Serikat pada Juni 2026, sekitar US$29,24 miliar merupakan utang sektor swasta. Adapun utang pemerintah dan bank sentral hanya sekitar US$293,6 juta.
Kenaikan utang dari Amerika Serikat juga terutama terjadi pada sektor swasta. Dalam satu bulan, nilainya bertambah sekitar US$1,53 miliar, dari US$27,71 miliar pada Mei menjadi US$29,24 miliar pada Juni 2026.
Utang Indonesia dari China juga didominasi sektor swasta. Dari total US$25,69 miliar, sebanyak US$24,29 miliar berasal dari sektor tersebut.
Sementara itu, utang pemerintah dan bank sentral dari China tercatat sebesar US$1,40 miliar pada Juni 2026.
Singapura Masih Menjadi Kreditor Terbesar
Di tengah kenaikan utang dari Amerika Serikat dan China, Singapura masih menjadi negara kreditor terbesar bagi Indonesia.
Pada Juni 2026, utang Indonesia dari Singapura tercatat sebesar US$51,07 miliar. Angka tersebut turun US$1,59 miliar dibandingkan Mei 2026 yang mencapai US$52,66 miliar.
Penurunan tersebut menjadi yang terbesar secara nominal di antara negara kreditor yang dirinci Bank Indonesia pada Juni 2026.
Jika dibandingkan dengan Juni 2025 yang mencapai US$56,88 miliar, utang Indonesia dari Singapura telah berkurang US$5,81 miliar atau sekitar 10,2 persen.
Baca Juga: Istana Beber Nasib Guru PPPK 2026 Otomatis Terangkat Pegawai Pemerintah Pusat
Setelah Singapura, Amerika Serikat menjadi kreditor terbesar kedua bagi Indonesia, disusul China di posisi ketiga.
Jepang berada di posisi keempat dengan nilai utang sebesar US$21,22 miliar. Jumlah tersebut turun sekitar US$127 juta dibandingkan Mei 2026.
Hong Kong menempati posisi kelima dengan utang Indonesia sebesar US$19,86 miliar. Nilainya menyusut sekitar US$740,8 juta dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$20,60 miliar.
Meski turun secara bulanan, posisi utang Indonesia dari Hong Kong masih meningkat sekitar US$621,1 juta dibandingkan Desember 2025 yang tercatat sebesar US$19,24 miliar. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS