Video Dugaan Wisatawan Lecehkan Tari Lariangi di Wakatobi Picu Polemik

Zulkifli Herman Tumangka, telisik indonesia
Sabtu, 04 April 2026
0 dilihat
Video Dugaan Wisatawan Lecehkan Tari Lariangi di Wakatobi Picu Polemik
Wisatawan yang terlibat interaksi dengan penari Lariangi di kawasan Keraton Liya Togo, Desa Liya Togo, Wakatobi. Foto: Screenshot video

" Video yang memperlihatkan interaksi wisatawan dengan pertunjukan tari di kawasan Keraton Liya Togo, Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, menjadi perbincangan di media sosial "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Video yang memperlihatkan interaksi wisatawan dengan pertunjukan tari di kawasan Keraton Liya Togo, Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, menjadi perbincangan di media sosial.

Aksi dalam video tersebut diketahui terjadi pada Jumat, 27 Maret 2026, saat wisatawan berkunjung ke Desa Liya Togo. Konten diunggah oleh akun TikTok milik wisatawan dan sempat viral sebelum akhirnya dihapus.

Penelusuran telisik.id pada Sabtu (4/4/2026), menunjukkan video tersebut sudah tidak lagi tersedia di akun pengunggah.

Meski demikian, rekaman yang terlanjur beredar memicu beragam tanggapan dari masyarakat, khususnya terkait kesesuaian pertunjukan dengan pakem tari Lariangi.

Dari video yang beredar, terlihat seorang wisatawan mengikuti salah satu gerakan dalam Tari Lariangi yang dikenal dengan sebutan ‘Ngifi’, yang secara kultural memiliki makna sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan.

Baca Juga: Sentra Meohai Kendari Bebaskan 4 ODGJ dari Pasung di Buton Tengah

Namun, dalam praktik yang terekam, gerakan dilakukan secara bebas dan disertai sorak tawa penonton, sehingga memunculkan kesan tidak sesuai dengan nilai dan makna yang terkandung dalam tarian.

Budayawan dan akademisi asal Kaledupa, Ahmad Daulani, menyampaikan bahwa reaksi masyarakat, terutama dari Kaledupa, tidak terlepas dari kuatnya keterikatan terhadap tari Lariangi sebagai bagian dari identitas budaya.

“Bagi masyarakat Kaledupa, Lariangi bukan sekadar tarian, tetapi juga identitas budaya yang memiliki nilai penting,” ujarnya kepada telisik.id, Sabtu (4/4/2026).

Ia menilai, pertunjukan yang terlihat dalam video memiliki kemiripan dengan Lariangi khas Kaledupa, baik dari gerakan maupun atribut yang digunakan. Hal inilah yang kemudian memunculkan perhatian dan diskusi di tengah masyarakat.

Menurut Daulani, meskipun terdapat tarian dengan nama serupa di wilayah Liya Togo, terdapat perbedaan pada unsur busana dan ornamen.

“Tarian Lariangi Kareke (Liya Togo) memiliki ciri yang berbeda, terutama pada pakaian dan tidak menggunakan ornamen tertentu yang dianggap penting dalam Lariangi Kaledupa,” jelasnya.

Daulani berharap seluruh pihak dapat lebih memperhatikan aspek pakem dan nilai budaya dalam menampilkan kesenian tradisional, terutama yang telah dikenal luas sebagai bagian dari warisan budaya.

Di sisi lain, pihak pengelola Desa Wisata Liya Togo melalui Keppo’oli Liya Togo telah menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf melalui media sosial.

Dalam pernyataannya, pengelola menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari atraksi wisata budaya yang juga melibatkan interaksi singkat dengan wisatawan.

“Tari Lariangi merupakan salah satu atraksi budaya yang kami tampilkan kepada wisatawan. Dalam pelaksanaannya terdapat sesi interaksi singkat sebagai bagian dari pengalaman budaya,” tulis pihak pengelola.

Mereka menjelaskan bahwa interaksi tersebut dilakukan dalam durasi terbatas dengan arahan dari pemandu lokal, serta dimaksudkan sebagai bentuk pengenalan budaya kepada pengunjung.

Pengelola juga menyampaikan bahwa tidak terdapat maksud untuk tidak menghormati nilai budaya dalam kegiatan tersebut, dan menyadari bahwa interpretasi publik dapat berbeda.

“Kami memohon maaf kepada masyarakat Wakatobi, khususnya masyarakat adat dan pelaku seni tari Lariangi, apabila kejadian tersebut menimbulkan ketidaknyamanan atau kesalahpahaman,” tulisnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Daulani menilai klarifikasi yang beredar masih lebih menekankan penjelasan dari sudut pandang penyelenggara.

Baca Juga: Ditinggal Isi BBM, HP yang Dicas Nyaris Hanguskan Kos di Wakatobi

"Yang beredar di media sosial hanya klarifikasi dari kelompok pemandu, namun terkesan sebagai pembelaan, bukan permintaan maaf,” ujarnya.

Meski demikian, Daulani menegaskan pentingnya ruang dialog dalam menyikapi perbedaan pandangan terkait praktik budaya di ruang pariwisata.

Saat ditanya mengenai kemungkinan tindak lanjut hukum, Daulani menyebutkan bahwa sejumlah organisasi pemuda saat ini melakukan komunikasi dan konsultasi dengan lembaga adat untuk menentukan langkah yang akan diambil ke depan.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kehati-hatian dalam mengemas atraksi budaya, guna menjaga keseimbangan antara promosi wisata dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal.

Diketahui, Tari Lariangi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) khas Kaledupa pada tingkat nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada November 2013, sehingga memiliki nilai penting khususnya bagi masyarakat Kaledupa yang perlu dijaga keasliannya dan kelestariannya. (C)

Penulis: Zulkifli Herman Tumangka

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga