Jelang Ramadan Harga Cabai di Kolaka Utara Semakin Pedas

Muh. Risal H

Reporter Kolaka Utara

Rabu, 15 Maret 2023  /  8:11 pm

Jelang ramadan sejumlah harga kebutuhan pokok di pasar sentral Lacaria Lasusua perlahan naik. Foto: Muh Risal H/Telisik

KOLAKA UTARA, TELISIK.ID - Menjelang bulan suci Ramadan 1444 Hijriah sejumlah kebutuhan pokok di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara merangkak naik. Cabai merupakan salah satu komoditas yang mengalami lonjakan signifikan dalam sepekan terakhir.

Salah satu pedagang sembako di pasar Sentral Lacaria Lasusua, Syamsiah mengatakan, semua kebutuhan pokok alami kenaikan. Lonjakan itu berlangsung setiap tahun baik jelang puasa atau lebaran hari raya idul fitri.

"Semua naik. Minyak goreng, bawang, cabai hingga beras. Karena itu, saya naikan harga juga biar tidak rugi," terangnya, Rabu (15/3/2023).

Baca Juga: Status Kepemilikan Aset Daerah di Tanjung Tobaku Kolaka Utara Bakal Ditelusuri

Harga cabai alami lonjakan tinggi. Sebelumnya cabai jenis rawit dan keriting seharga Rp35.000 per kilogram, saat ini naik Rp50.000 per kilogram.

"Sementara, cabai merah besar dari harga Rp40.000 menjadi Rp50.000 per kilogram," rincinya.

Kata dia, rata-rata kebutuhan pokok yang ia jual dipasok dari Sulawesi Selatan dan beberapa di antaranya daerah lain di Sulawesi Tenggara.

Selain cabai, harga beras juga ikut naik. Pedagang beras di pasar Sentral Lacaria, Mariah menuturkan, semua jenis beras alami kenaikan.

Tidak hanya itu, stok di lapaknya kian menipis karena tidak menerima pasokan dari distributor dalam sepekan terakhir.

"Stoknya hanya ini saja. Tidak ada beras masuk sudah satu Minggu," ujarnya.

Baca Juga: Penyidikan Dugaan Korupsi Pematangan Lahan Bandara Sebesar Rp 7,7 Miliar Lamban, Kejari Kolaka Utara Didemo

Menurut Mariah, jenis beras lokal 50 kilogram merek tiga telur harganya naik secara bertahap dari Rp580.000 hingga saat ini menyentuh angka Rp630.000 per karung. Untuk beras ketan hitam per kilogramnya naik dari harga Rp24.000 menjadi Rp30.000.

"Semua jenis beras naik dan kita pasrah saja karena tidak bisa berbuat apa-apa," imbuhnya.

Agar tidak merugi, ia memilih menjual beras yang dikemas dalam wadah karung dan plastik secara eceran. Hal itu dilakukan agar bisa bertahan melapak karena pasokan dari distributor tidak ada. (B)

Penulis: Muh. Risal H

Editor: Kardin 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS