35 Tahun Yayasan Mandala Waluya: dari Akademi Penilik Kesehatan Jadi Universitas, Jaga Misi Pendidikan dan Kemanusiaan

Ana Pratiwi, telisik indonesia
Sabtu, 10 Januari 2026
0 dilihat
35 Tahun Yayasan Mandala Waluya: dari Akademi Penilik Kesehatan Jadi Universitas, Jaga Misi Pendidikan dan Kemanusiaan
Para pendiri Yayasan Mandala Waluya di HUT ke-35, Sabtu (10/1/2026). Foto: Ana Pratiwi/Telisik

" Yayasan Mandala Waluya menapaki usia 35 tahun dengan sederet capaian penting di bidang pendidikan, mulai dari transformasi kelembagaan hingga kontribusi nyata dalam mencetak tenaga kesehatan, akademisi, dan sumber daya manusia berkualitas di Sulawesi Tenggara "

KENDARI, TELISIK.ID - Yayasan Mandala Waluya menapaki usia 35 tahun dengan sederet capaian penting di bidang pendidikan, mulai dari transformasi kelembagaan hingga kontribusi nyata dalam mencetak tenaga kesehatan, akademisi, dan sumber daya manusia berkualitas di Sulawesi Tenggara.

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-35 Yayasan Mandala Waluya berlangsung meriah namun sarat haru, Sabtu (10/1/2026). Para pendiri yayasan yang kini telah berusia lanjut turut hadir dengan semangat yang tetap kuat dan utuh.  

Rangkaian acara diawali dengan sambutan, dilanjutkan pemotongan tumpeng, doorprize, serta penyerahan hadiah purna bakti kepada staf tata usaha, Busra.

Suasana haru memuncak saat prosesi pemotongan tumpeng, ketika istri salah seorang pendiri yayasan yang telah almarhum tampak menitikkan air mata, mengenang perjalanan panjang dan pengorbanan para perintis dalam membangun Mandala Waluya dari nol.

Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu'ti Soroti Tiga Tantangan Besar Pendidikan Nasional di HUT Ummusshabri ke-53

Yayasan ini berawal dari gagasan 16 orang generasi perintis yang berkumpul pada 14 Desember 1990, dengan keyakinan bahwa kemajuan daerah hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan secara resmi pada 4 Juli 1991 melalui pendirian Yayasan Mandala Waluya di hadapan notaris.

Foto bersama usai pemotongan tumpeng. Foto: Ana Pratiwi/Telisik

Sekretaris Yayasan Mandala Waluya, Yusuf Useng, mengatakan perjalanan yayasan sejak awal tidaklah mudah. Keterbatasan modal, sarana prasarana, hingga sumber daya manusia menjadi tantangan nyata yang dihadapi para pendiri.

“Dengan semangat gotong royong, keikhlasan, dan keberanian para pendiri, Yayasan Mandala Waluya terus tumbuh. Dari Akademi Pendidikan Kesehatan, berkembang menjadi sekolah tinggi, hingga pada 2020 resmi menaungi Universitas Mandala Waluya,” kenang Yusuf.

Ketua Pembina Yayasan Mandala Waluya, La Ode Syaafi, menuturkan gagasan mendirikan lembaga pendidikan kesehatan di Kendari telah muncul sejak 1984, ketika akses pendidikan kesehatan di daerah masih sangat terbatas.

“Waktu itu, untuk pendidikan kesehatan, bahkan D3 saja, masyarakat Sulawesi Tenggara harus ke Makassar atau Pulau Jawa,” kenangnya.

Pengalaman mengikuti pendidikan singkat di Inggris pada 1989 semakin menguatkan keyakinannya. Bersama rekan-rekan, La Ode Syaafi kemudian merintis Yayasan Mandala Waluya pada Desember 1990.  

Nama Mandala Waluya dipilih karena bermakna lingkungan yang sehat dan hilangnya penyakit.

Namun, perjuangan pendirian yayasan penuh tantangan. Modal awal Rp 15 juta jumlah besar pada era 1990-an dikumpulkan melalui gotong royong para pendiri.  

Aktivitas akademik pun sempat berpindah-pindah lokasi, mulai dari Punggolaka hingga ruko sewaan, sebelum kampus permanen mulai dibangun sekitar 1995.

“Tanah dan bangunan kami cicil pelan-pelan, sesuai kemampuan,” ujar La Ode Syaafi.

Mandala Waluya sempat menghadapi masa sulit ketika jumlah mahasiswa menurun drastis akibat kebijakan pengangkatan tenaga kesehatan. Pada satu periode, mahasiswa yang tersisa hanya lima orang.

Situasi tersebut mendorong yayasan mengambil langkah strategis dengan bertransformasi menjadi sekolah tinggi pada awal 2000-an.  

Pemotongan tumpeng HUT ke- 35 Yayasan Mandala Waluya. Foto: Ana Pratiwi/Telisik

 

Setelah melalui proses panjang dan pemenuhan berbagai persyaratan, izin operasional sekolah tinggi terbit pada 2006. Puncaknya, pada 2020, Mandala Waluya resmi berstatus universitas.

Ketua Pengurus Yayasan Mandala Waluya Kendari, Tasman, menegaskan bahwa sejak awal yayasan dibangun dengan tujuan membentuk manusia yang berguna bagi masyarakat melalui pendidikan setinggi mungkin.

“Orang tua akan berusaha apa pun agar anaknya bisa sekolah tinggi, karena pendidikan adalah harapan untuk masa depan,” ujarnya.

Memasuki usia ke-35, Yayasan Mandala Waluya tidak hanya berhasil mencetak lulusan sarjana dan magister, tetapi juga berkomitmen meningkatkan kualitas pengajarnya.  

Sebanyak 27 dosen telah difasilitasi untuk menempuh pendidikan doktor (S3), baik di berbagai universitas di Indonesia maupun di luar negeri seperti Australia, Jerman, Austria, dan Malaysia.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, sekitar 14 doktor ditargetkan menyelesaikan pendidikan. 

Selain itu, yayasan juga telah mencetak 3 guru besar, dengan potensi lahirnya sekitar 10 profesor baru dalam beberapa tahun mendatang.

Seluruh capaian tersebut diraih tanpa bantuan langsung pemerintah, karena yayasan berdiri dan berkembang secara mandiri.

Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ratna Umi Nurlila, menyampaikan bahwa peningkatan kualitas institusi, termasuk akreditasi, tidak terlepas dari dukungan kuat Yayasan Mandala Waluya terhadap pengembangan sumber daya manusia.

Baca Juga: BPMP Sultra Percepat Peningkatan Mutu Pendidikan dan Dukung Program Prioritas Kemendikdasmen

“Sejak 2009, peningkatan kualifikasi dosen S2 dan S3 sebagian besar dibiayai langsung oleh yayasan. Ini berdampak besar terhadap mutu akademik dan reputasi universitas,” jelasnya.

La Ode Syaafi menegaskan bahwa Mandala Waluya sejak awal dibangun dengan misi kemanusiaan.

“Tujuan kami sederhana, agar masyarakat Sulawesi Tenggara tidak perlu jauh-jauh keluar daerah untuk mengenyam pendidikan,” tegasnya.

Memasuki usia 35 tahun, Yayasan dan Universitas Mandala Waluya meneguhkan komitmen untuk terus bertumbuh, menjaga nilai kebersamaan, serta melanjutkan perjuangan para pendiri dalam membangun pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. (A-Adv)

Penulis: Ana Pratiwi

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga