adplus-dvertising

Ahli Virologi: Masa Karantina COVID-19 Cukup 5 Hari

Muhammad Israjab, telisik indonesia
Jumat, 04 September 2020
643 dilihat
Ahli Virologi: Masa Karantina COVID-19 Cukup 5 Hari
Menurut ahli virologi asal Jerman bahwa karantina cukup lima hari saja. Foto: Repro Google.com

" Jadi itu (lima hari) seharusnya menjadi batas masa karantina. "

JAKARTA, TELISIK.ID - Ahli di bidang virologi asal Jerman, Christian Drosten menyebut bahwa standar masa karantina COVID-19 selama dua pekan terlalu lama.

Ini merujuk pada studi yang ia lakukan, bahwa seseorang tidak lagi menularkan virus setelah lima hari karantina.

Drosten mengungkapkan dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh radio Norddeutscher Rundfunk (NDR), yaitu stasiun radio dan televisi publik. Radio ini berbasis di Hamburg.


“Jadi itu (lima hari) seharusnya menjadi batas masa karantina,” kata Christian Drosten yang juga menjabat sebagai Kepala Virologi di RS Charité Berlin. Dikutip dari Republika.co.id.

Ia menilai, masa karantina yang lebih pendek akan lebih cocok untuk masyarakat. Menurutnya, lima hari masa karantina yang dia rekomendasikan tidak boleh digunakan untuk melakukan tes COVID-19.

“Lakukan tes setelah karantina untuk melihat apakah orang tersebut memang terinfeksi, dan apakah orang tersebut masih bisa menularkan virus,” kata Drosten seperti dilansir dari laman Fortune pada Kamis (3/9/2020).

Drosten juga mengemukakan masalah lain yang berkaitan dengan pandemi COVID-19, termasuk penggunaan masker dan laporan tentang orang yang terinfeksi ulang.

Baca juga: Ketidaktahuan Orang Tua Jadi Faktor Stunting Anak

Dia mengatakan bahwa masker cukup efektif mencegah virus yang disebarkan melalui droplet, namun tidak efektif untuk mencegah virus dalam aerosol, partikel yang lebih kecil dari droplet berukuran lebih kecil dari 5 mikron.

Dia juga menepis penelitian di Hong Kong baru-baru ini yang menyatakan bahwa pria berusia 33 tahun yang kembali terinfeksi COVID-19 menjadi representasi kasus infeksi ulang pertama terhadap manusia yang terdokumentasikan.

Menurutnya, kasus seperti itu masuk kategori langka yang seharusnya tidak ditafsirkan sebagai tanda buruk untuk pengembangan vaksin.

Kemudian, belum lama ini juga Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn, menegaskan tidak akan menerapkan lockdown secara nasional untuk kedua kalinya, meski kasus COVID-19 melonjak.

Sphan berpendapat, pembatasan secara nasional tidak efektif mencegah penyebaran COVID-19.

Sebelumnya pada Maret, Jerman pernah menerapkan lockdown secara nasional.

“Kami pasti tidak perlu melakukan ini secara nasional. Otoritas regional dapat menangani wabah. Kita bisa memasuki musim gugur dan musim dingin dengan percaya diri," kata Spahn.

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga