adplus-dvertising

Anda Pecinta Kopi? Ketahui Sejarah Kopi Masuk di Indonesia

Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Minggu, 08 November 2020
2098 dilihat
Anda Pecinta Kopi? Ketahui Sejarah Kopi Masuk di Indonesia
Secangkir kopi dan biji kopi. Foto: Repro lifestyle.kompas.com

" Iya, karena keseringan lihat orang minum kopi, dan kelihatan begitu nikmat, akhirnya saya juga ikutan minum kopi. Bahkan kalau kumpul dengan teman-teman, kopi menjadi minuman wajib dihidangkan. "

KENDARI, TELISIK.ID - Sepuluh tahun belakangan ini, kopi sudah menjajah di setiap sudut perkotaan. Rasanya yang khas membuat peminum kopi ketagihan.

Seolah kopi sudah menjadi gaya hidup atau life style kebanyakan orang, bukan hanya mereka yang tergolong dewasa saja, akan tetapi penikmat kopi juga datang dari kalangan anak muda, seperti yang dialami Abu Fatih, pemuda berusia 28 tahun yang juga merupakan warga Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari.

Ia mengaku awalnya tidak suka minum kopi, karena ia menilai kopi itu identik dengan rasa pahit dan buat orang yang meminumnya insomnia (susah tidur).


Namun, kata Abu Fatih, begitu mengetahui kopi menjadi komoditas yang banyak dinikmati semua kalangan, ia pun juga ikut tertarik. Bahkan ia merasa kurang jika saat berkumpul dengan teman atau sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tidak ditemani dengan secangkir kopi.

"Iya, karena keseringan lihat orang minum kopi, dan kelihatan begitu nikmat, akhirnya saya juga ikutan minum kopi. Bahkan kalau kumpul dengan teman-teman, kopi menjadi minuman wajib dihidangkan," katanya, Minggu (8/11/2020).

Lantas, bagaimana sejarah kopi masuk di Indonesia, hingga menjadi komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat? Berikut sejarah singkatnya seperti yang dilansir dari sasamecoffe.com.

Banyak orang menyangka kopi adalah komoditi asli Indonesia, padahal kopi bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman kopi berasal dari Ethiopia yang kemudian disebarkan oleh orang-orang Arab hingga menembus pasar Eropa dan Asia. Kopi masuk ke Indonesia pada saat masa kolonial Belanda yang menjajah dan melancarkan Sistem Tanam Paksa.

Baca juga: Anda Penikmat Kopi? Kenali Jenis-Jenis Tanaman Kopi

1. Masuknya Belanda ke Indonesia

Sejarah kopi di Indonesia bermula pada tahun 1696. Pada saat itu, Belanda atas nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mendarat di Jawa membawa kopi dari Malabar, India. Kopi yang pertama kali dibawa itu merupakan jenis arabika.

Belanda berusaha membudidayakan tanaman kopi tersebut di Batavia, tapi gagal karena gempa dan banjir. Mereka tidak menyerah dan mendatangkan kembali bibit-bibit baru. Perkembangan budidaya yang cepat membuat Belanda membuka ladang-ladang baru di Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lainnya di Hindia Belanda yang saat ini dikenal sebagai Indonesia.

Pada tahun 1700-an, kopi menjadi komoditas andalan VOC. Penjualan biji kopi dari Hindia Belanda (Indonesia) meledak hingga melebihi ekspor dari Mocha, Yaman ke beberapa negara di Eropa. Belanda pun memonopoli pasar kopi dunia pada waktu itu.

Pada saat itu, salah satu pusat produksi kopi dunia ada di Pulau Jawa. Secangkir kopi kemudian lebih populer disebut dengan cup of Java atau secangkir Jawa.

Baca juga: Iptu Fajar Kians Berani Pacari Putri Kapolri Idham Azis, Bukan Orang Sembarangan

2. Robusta Menggantikan Arabika sebagai Komoditas Utama

Tahun 1876, hama Karat Daun menyerang hampir seluruh perkebunan kopi di Indonesia. Belanda kemudian mendatangkan jenis kopi lain, yaitu liberika. Namun, nasibnya sama, habis diserang karat daun.

Serangan hama tidak membuat Belanda kehilangan akal. Pada tahun 1900, mereka mendatangkan jenis kopi robusta yang lebih mudah perawatannya serta lebih tahan terhadap hama. Produksinya yang sangat tinggi membuat Indonesia sempat menjadi ladang pengekspor terbesar di dunia.

3. Kebangkitan Perkebunan Kopi Indonesia

Pasca kemerdekaan, setelah pemerintah Hindia Belanda meninggalkan Indonesia, laju perkebunan kopi pun sedikit terhambat. Namun, berkat komitmen serta kegigihan para petani dan nasionalisasi perkebunan eks pemerintahan Hindia Belanda, akhirnya perkebunan kopi lambat laun mulai bangkit dan berkembang.

Setidaknya ada satu novel karya Douwes Dekker berjudul Max Havelaar yang membantu mengubah opini masyarakat tentang Sistem Tanam Paksa. Novel tersebut berkisah tentang seorang pedagang kopi dan sekaligus kritik terhadap kesewenang-wenangan Pemerintahan Hindia Belanda terhadap rakyat. Oleh karena peran novel itu, maka ada salah satu produk coffee blend dari Indonesia yang menggunakan kata Havelaar sebagai nama produknya.

Tahun 2000-an, kopi Indonesia kembali melejit. Indonesia masuk dalam negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Keanekaragaman cita rasa kopi yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia diakui oleh mancanegara. (B)

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Baca Juga