Bahlil Beber 80 Persen Pemakaian BBM di Indonesia Masih Bersubsidi, Ini Penyebabnya
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 05 Agustus 2026
0 dilihat
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan paparan dalam Energy Forum di Jakarta mengenai ketahanan energi dan dinamika sektor energi nasional. Foto: Instagram@bahlillahadalia
" Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan 80 persen konsumsi bahan bakar minyak nasional masih didominasi BBM bersubsidi "

JAKARTA, TELISIK.ID - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan 80 persen konsumsi bahan bakar minyak nasional masih didominasi BBM bersubsidi, sedangkan non-subsidi hanya 20 persen.
Porsi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Indonesia masih mendominasi penggunaan energi nasional. Pemerintah mencatat sekitar 80 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari jenis bersubsidi, sementara penggunaan BBM non-subsidi baru mencapai sekitar 20 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan komposisi tersebut menunjukkan masyarakat masih bergantung pada BBM bersubsidi. Pernyataan itu disampaikannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.
"Karena total pemakaian BBM 80 persen itu subsidi, yang non-subsidi itu 20 persen," kata Bahlil, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan harga BBM non-subsidi tidak ditetapkan melalui skema subsidi pemerintah, melainkan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia. Karena itu, perubahan harga minyak global akan berdampak langsung terhadap penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri.
Baca Juga: Beralih ke BBM B50, Berikut Komponen Mobil Lawas Diesel Rutin Diperiksa
Menurut Bahlil, ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, harga BBM non-subsidi juga berpotensi turun. Sebaliknya, apabila harga minyak mentah kembali meningkat, harga jual BBM non-subsidi akan ikut mengalami penyesuaian.
"Tapi kalau naik, pasti juga akan naik dan sekarang kan lagi turun," ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat harga BBM non-subsidi sangat dipengaruhi dinamika pasar energi internasional, termasuk perkembangan situasi geopolitik yang memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku sejak 1 Agustus 2026. Penyesuaian dilakukan terhadap seluruh varian produk Pertamax.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan perubahan harga dilakukan dengan mengacu pada tren rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah sesuai ketentuan yang berlaku.
"Penyesuaian harga BBM Non-Subsidi dilakukan mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta tetap memperhatikan daya beli masyarakat," kata Kitty dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Heboh Penunggak Pajak Dilabeli Stiker dan Dilarang Isi BBM Subsidi, Begini Penjelasannya
Selain mempertimbangkan faktor ekonomi, penyesuaian harga tersebut juga dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan BBM nasional sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi.
"Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan BBM nasional agar tetap terjamin bagi masyarakat," ujarnya.
Dalam penyesuaian yang berlaku mulai awal Agustus 2026 tersebut, harga Pertamax Turbo ditetapkan menjadi Rp 18.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 turun menjadi Rp 16.600 per liter dan Pertamax atau RON 92 menjadi Rp 15.950 per liter.
Pemerintah menegaskan harga BBM non-subsidi akan terus disesuaikan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah. Dengan mekanisme tersebut, perubahan harga dapat berlangsung naik maupun turun sesuai kondisi pasar energi global, sementara penyaluran BBM bersubsidi tetap dilaksanakan sesuai kebijakan yang berlaku. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS