Belajar dari COVID-19, Guru dan Orang Tua Harus Saling Dukung

Sumarlin, telisik indonesia
Minggu, 26 September 2021
0 dilihat
Belajar dari COVID-19, Guru dan Orang Tua Harus Saling Dukung
Proses belajar mengajar tatap muka di Kota Kendari sudah berlangsung sekira tiga pekan, para siswa senang bisa kembali ke sekolah setelah hampir 1,5 tahun belajar daring. Foto: Sumarlin/Telisik

" Dunia sekolah mengalami perubahan kebiasaan dalam proses pendidikan di masa pandemi COVID-19, baik siswa, guru, maupun orang tua siswa. "

KENDARI, TELISIK.ID - Proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di Kota Kendari sudah berlangsung selama tiga pekan. Kebijakan ini diambil setelah sekira satu tahun setengah proses belajar mengajar berlangsung secara online atau daring.

Dunia sekolah mengalami perubahan kebiasaan dalam proses pendidikan di masa pandemi COVID-19, baik siswa, guru, maupun orang tua siswa.

Perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terlihat. Pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka, lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (online) yang dijalankan sekolah saat masa pandemi.

Selama pembelajaran online banyak kendala dihadapi, baik dari sisi kuota paket internet, smartphone dan laptop.

Dari sisi orang tua siswa, mereka banyak mengeluhkan ke guru yang banyak memberikan tugas kepada siswa, tapi tanpa memberikan materi penjelasan terlebih dahulu. Hal itu yang membuat orang tua lebih banyak berpikir dalam memberikan arahan pembelajaran anak secara online di rumah.

Adapun dari sisi positifnya, orang tua bisa mengingat pelajaran kembali yang sudah diajarkan puluhan tahun silam di sekolah.

"Kita harus belajar kembali lagi, selain itu, orangtua juga bisa mengembangkan kreatifitas, agar lebih mudah memberikan pemahaman dan kesan yang menyenangkan bagi anak-anak," ujar orang tua siswa, Wahyu.

Baca juga: Dinas Pendidikan Kota Kendari Mulai Susun Jadwal Belajar Tatap Muka Normal

Sedangkan seorang guru di SMPN 17 Kendari, Suhardin menjelaskan, perubahan perilaku atau kebiasaan belajar mengajar yang sebelumnya tatap muka, kini harus belajar secara online dari rumah agar para siswa dan guru tetap sehat, tidak terpapar COVID-19.

Tentunya, perubahan kebiasaan ini memacu kreativitas para guru agar bisa mengajar dan memberikan pemahaman yang baik pada para siswa.

Selama pandemi banyak hal yang berubah dan menuntut orang semakin kreatif, termasuk guru dalam menyesuaikan diri dengan proses belajar mengajar dari rumah secara online.

Melakukan survei awal merupakan hal pertama yang dilakukan untuk memudahkan memahami kondisi siswa dan metode atau model pembelajaran yang akan digunakan.

Tingkat penguasaan teknologi dan sarana yang dimiliki orang tua maupun siswa merupakan pertimbangan mendasar agar pembelajaran lebih efektif. Kompetensi minimal guru dalam memanfaatkan teknologi komunikasi, juga menjadi hal yang penting dalam pembelajaran.

Memanfaatkan fasilitas google form salah satu fasilitas yang bisa digunakan untuk melakukan survei. Setelah informasi telah didapatkan, maka penggunaan aplikasi yang sesuai dan metode pembelajaran yang digunakan bisa diterapkan.

“Jika mengalami kendala, situasi pembelajaran dirubah lagi. Hingga kenyamanan belajar bisa ditemukan. Mencari yang terbaik bukan berarti paling canggih, tetapi hal yang bisa dikuasai dengan sangat sederhana adalah yang paling baik digunakan. Meminimalkan masalah menjadi kuncinya. Inilah mengapa WhatsApp menjadi sarana utama menjalin pembelajaran yang dianggap lebih efektif," jelasnya,

Sebenarnya seorang guru dalam mengajar memiliki metode pembelajaran yang variatif. Namun kondisinya saat ini sangat berbeda. Alur pembelajaran disesuaikan walaupun teknik pembelajaran selalu berubah-ubah, namun konteks 5 M yakni memanusiakan hubungan, memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks, diupayakan tidak hilang. Inilah langkah yang sering dilakukan.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung hampir satu setengah tahun.

Baca juga: Wisuda Tatap Muka UHO, Rektor: Kemungkinan Besar Belum Ada

Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir mengatakan, dengan pandemi orang tua bisa lebih paham dengan kondisi guru, karena sudah merasakan sulitnya mendidik siswa belajar di rumah.

"Menjadi guru tidak mudah bahkan terhadap anak sendiri, harapan saya sebisa mungkin tidak ada lagi  tuntutan terhadap guru selama itu dalam batas-batas yang orientasinya mendidik anak-anak,  kalau ada tindakan pendisiplinan saya kira jangan terlalu mudah membawanya ke kasus hukum," ungkap wali kota.

Sedangkan bagi para guru wali kota meminta, dengan pandemi ini kemampuan guru semakin terasah sehingga muncul kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan teknik pembelajaran sehingga siswa tidak cepat bosan.

Wali kota berharap para guru tetap memainkan perannya selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas utamanya memberikan sentuhan emosional sebab selama pembelajaran daring hal itu hilang. Para siswa hanya bisa memperoleh pengetahuan tapi sentuhan sosial hampir hilang.

"Begitu juga kepala sekolah bisa lebih semangat untuk meningkatkan kompetensi seluruh stakeholder pendidikan," harapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Kendari Samsuddin Rahim meminta, selama PTM berjalan Dinas Pendidikan Pemuda dan olahraga (Dikmudora) Kota Kendari tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan tetap melakukan monitoring.

Selain itu, Dikmudora juga harus mempersiapkan rencana cadangan mengantisipasi kemungkinan menyebarnya COVID-19 varian baru agar tidak mengganggu PTM yang sudah disusun.

"Para siswa sudah terlalu lama belajar di rumah sehingga bisa berpengaruh dengan tingkat pengetahuan mereka yang terus menurun, itu kurang baik dengan perkembangan pengetahuan mereka," katanya.

Untuk diketahui, saat ini sekira 200 sekolah di Kota Kendari sedang melakukan PTM terbatas dengan sistem bergiliran menyesuaikan kondisi sekolah dan jumlah siswa. (A)

Reporter: Sumarlin

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga