adplus-dvertising

Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris Memulai Karir Sebagai Jurnalis

Fitrah Nugraha, telisik indonesia
Sabtu, 15 Mei 2021
1182 dilihat
Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris Memulai Karir Sebagai Jurnalis
Perdana Menteri Inggris, Alexander Boris de Pfeffel Johnson, atau lebih dikenal sebagai Boris Johnson. Foto: Repro google.com

" Gayanya yang nyentrik dengan kesan cuek, membuat Boris mudah dikenali secara fisik. "

LONDON, TELISIK.ID - Alexander Boris de Pfeffel Johnson, atau lebih dikenal sebagai Boris Johnson, adalah Perdana Menteri Inggris yang mulai menjabat sejak 2019 lalu.

Gayanya yang nyentrik dengan kesan cuek, membuat Boris mudah dikenali secara fisik.

Lantas, siapakah Boris Johnson hingga menjabat posisi Perdana Menteri di pemerintahan Inggris Raya?


Dilansir dari Tagar.id, berdasarkan penelusuran, Alexander Boris de Pfeffel Johnson sejatinya merupakan seorang warga Amerika Serikat (AS).

Johnson merupakan anak dari pasangan Stanley Johnson, seorang mantan politisi, dan Charlotte Johnson Wahl, seorang seniman. Dia merupakan sulung dari tiga bersaudara dengan adik Rachel Johnson dan Jo Johnson.

Pria bernama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson ini lahir pada tanggal 19 Juni 1964 di New York, AS.

Kelahirannya didaftarkan di otoritas Amerika Serikat dan juga Konsulat Inggris di New York, sehingga ia mendapatkan kewarganegaraan AS dan Inggris.

Baca juga: Kilas Kisah Bahlil Lahadalia: Dari Penjaja Kue hingga Menteri Investasi Pertama RI

Masuk Sekolah Elit

Dilansir dari detik.com, Johnson lahir di keluarga berada sehingga memberikan ia kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah elit. Ia berhasil masuk ke sekolah asrama elit Eton College berkat beasiswa King's Scholarship.

Saat berada di Eton, Johnson mulai memperlihatkan personanya sebagai orang Inggris kelas atas yang eksentrik.

Walau ia sering dilaporkan karena malas dan sering terlambat, Johnson merupakan murid yang populer di Eton. Di sana ia berteman dengan murid-murid yang berasal dari keluarga kaya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Oxford, tepatnya Balliol College. Selama di Oxford ia mempelajari Latin dan Yunani Kuno. Johnson hanya satu dari sekian banyak lulusan Oxford yang kemudian menguasai politik Inggris, sebut saja David Cameron, Theresa May, Michael Gove, William Hague, Jeremy Hunt dan masih banyak lagi.

Memulai Karir Sebagai Jurnalis

Setelah pendidikannya selesai, Johnson memulai karirnya sebagai jurnalis untuk harian The Times berkat koneksi keluarga. Tapi, karirnya di The Times tidak bertahan lama karena Johnson ketahuan merekayasa kutipan narasumber dan kemudian dipecat.

Tapi, ia melanjutkan karirnya sebagai jurnalis di harian The Daily Telegraph dan berhasil menjadi koresponden di Brussels, Belgia. Lagi-lagi Johnson membuat kontroversi karena artikelnya sering memuat informasi palsu yang dibuat untuk mendiskreditkan Komisi Eropa.

Setelah itu, pada tahun 1999, Johnson didapuk sebagai editor harian sayap kanan The Spectator yang masih merupakan publikasi saudara dari The Daily Telegraph.

Baca juga: Dedikasi Doktor Perempuan Entaskan Buta Al-Qur'an

Karir Politik

Karir politik Johnson dimulai pada tahun 2001 ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Partai Konservatif dan mewakili konstituensi Uxbridge dan Ruislip Selatan di parlemen Inggris. Ia kemudian terpilih lagi pada tahun 2005 dan menjabat sebagai anggota parlemen hingga tahun 2008.

Pada tahun 2008, ia terpilih menjadi Wali Kota London menggantikan Ken Livingstone dari Partai Buruh. Johson kemudian terpilih lagi untuk periode kedua pada tahun 2012 hingga 2016

Selama masa kepemimpinannya, ia membanggakan pencapaiannya yang berhasil mengurangi angka kejahatan.

Tapi, ia tetap tidak lepas dari beberapa kebijakan yang kontroversial. Sebut saja proyek water cannon dan garden bridge yang berbiaya mahal dan dibiayai menggunakan uang publik.

Setelah jabatannya sebagai Wali Kota London berakhir, Johnson memutuskan kembali ke Parlemen dan terpilih sebagai perwakilan dari Uxbridge dan South Ruislip pada tahun 2015. Setahun kemudian, ia ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri oleh Perdana Menteri Theresa May dari 2016 hingga 2018.

Melansir liputan6.com, Johnson menjadi terkenal selama kampanye Brexit. Dia juga menyuarakan wajah referendum Brexit 2016. Sikapnya yang 'hardliner' perihal langkah keluar Inggris dari Uni Eropa mendapat dukungan besar dari internal partai dan anggota parlemen pro-Brexit.

Penuh Kontroversi

Boris Johnson telah menimbulkan beberapa kontroversi selama kariernya di masa lalu. Pernyataannya tentang hak-hak homoseksual, ketidakhadirannya di kota selama kerusuhan London pada 2011 dan perubahan sikapnya atas alokasi dana Brexit ke National Health Service telah membuat orang-orang Inggris skeptis tentang dirinya.

Bahkan ketika ia dianggap lebih liberal daripada banyak anggota Partai Konservatif, pendirian Boris Johnson tentang homoseksualitas telah gagal.

Sebagai seorang jurnalis, ia mempertanyakan pencabutan undang-undang yang melarang promosi homoseksualitas oleh otoritas lokal. Namun sebagai anggota parlemen, ia mengubah taktik dan mengatakan negara seharusnya tidak ikut campur dalam kehidupan masyarakat. Dia juga memilih mendukung kemitraan sipil. (C)

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga