Bulan Muharram Sering Dikaitkan dengan Anak Yatim, Ini Sejarah dan Keutamaannya
Merdiyanto , telisik indonesia
Jumat, 26 Juni 2026
0 dilihat
Tradisi menyantuni anak yatim di bulan Muharram berakar kuat dari ajaran Islam yang memuliakan anak yatim. Foto: Repro bantusesama.co
" Bulan Muharram, sebagai awal tahun baru Hijriah, tidak hanya dikenal sebagai salah satu bulan haram (suci) dalam Islam, tetapi juga sering dikaitkan dengan semangat kepedulian sosial, khususnya terhadap anak yatim "

JAKARTA, TELISIK.ID - Bulan Muharram, sebagai awal tahun baru Hijriah, tidak hanya dikenal sebagai salah satu bulan haram (suci) dalam Islam, tetapi juga sering dikaitkan dengan semangat kepedulian sosial, khususnya terhadap anak yatim.
Di Indonesia, tradisi "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama" pada 10 Muharram (Hari Asyura) menjadi momentum tahunan umat Muslim untuk menyantuni dan memuliakan anak-anak yang kehilangan orang tua.
Sejarah dan Keutamaan Bulan Muharram
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk dalam empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an bersama Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
Bulan ini memiliki keutamaan tinggi karena berbagai peristiwa bersejarah, seperti keselamatan Nabi Musa AS dan kaum Bani Israel dari Firaun pada 10 Muharram (Hari Asyura).
Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada hari tersebut, yang diyakini dapat menghapus dosa setahun yang lalu, dilansir dari baznas.go.id, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Puasa Sunnah di Bulan Muharram: Amalan Paling Utama Setelah Ramadan
Bagi umat Islam, Muharram menjadi waktu istimewa untuk memperbanyak amal saleh, termasuk puasa sunnah, sedekah, dan silaturahmi.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa di bulan Muharram khususnya Asyura adalah yang paling utama setelah Ramadhan.
Mengapa Muharram Identik dengan Anak Yatim?
Tradisi menyantuni anak yatim di bulan ini berakar kuat dari ajaran Islam yang memuliakan anak yatim.
Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW berulang kali menekankan pentingnya merawat, memberi kasih sayang, dan memperbaiki keadaan mereka. Rasulullah SAW bersabda:
“Saya dan orang yang mengurus anak yatim di surga seperti ini,” sambil merapatkan dua jari beliau (HR. Bukhari).
Di Indonesia, tradisi ini semakin menguat pada 10 Muharram. Banyak masyarakat menggelar acara santunan, pengajian, dan pembagian bantuan kepada anak yatim sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah SWT dan peneladanan akhlak Rasulullah.
Ada pula anjuran mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, yang dianggap sebagai amalan mulia, dilansir dari NU Online, Jumat (26/6/2026)
Baca Juga: Mitos Haram Menikah di Bulan Muharram, Begini Penjelasan Islam
Salah satu hadits yang sering dikaitkan menyebutkan bahwa barangsiapa yang melapangkan nafkah keluarganya termasuk menyantuni yatim pada hari Asyura, Allah SWT akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun (HR. At-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Keutamaan Menyantuni Anak Yatim di Muharram
- Pahala Berlipat: Amalan di bulan suci ini dinilai lebih besar daripada bulan biasa, bahkan disebut setara dengan sedekah satu tahun penuh.
- Dekat dengan Rasulullah SAW: Menjadi teman beliau di surga.
- Kelapangan Rezeki: Janji Allah SWT melapangkan rizki sepanjang tahun.
- Penghapus Dosa dan Keberkahan: Membantu membersihkan harta serta mendatangkan doa kebaikan.
Tradisi ini mencerminkan nilai Islam yang menggabungkan ibadah vertikal dan horizontal.
Di tengah berbagai tantangan sosial saat ini, semangat Muharram mengajak umat untuk lebih peduli terhadap anak yatim sebagai investasi pahala dan pembangunan masyarakat yang lebih baik. Wallahu a'lam bish-shawab. (C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS