Cerita Pemuda Asal Baubau Juara Napak Tilas Oputa Yi Koo hingga Kenalkan Kearifan Lokal Buton di Yogyakarta

Elfinasari, telisik indonesia
Kamis, 13 Juni 2024
0 dilihat
Cerita Pemuda Asal Baubau Juara Napak Tilas Oputa Yi Koo hingga Kenalkan Kearifan Lokal Buton di Yogyakarta
Chendy Ariswan Latief, peraih juara pertama Napak Tilas Oputa Yi Koo hingga kenalkan kearifan lokal buton di Yogyakarta. Foto: Ist

" Chendy Ariswan Latief, seorang pemuda berbakat dan berprestasi dari Baubau, berhasil meraih juara pertama dalam pementasan monolog Kahaeruna Walanda pada acara napak tilas Oputa Yi Koo "

BAUBAU, TELISIK.ID – Chendy Ariswan Latief, seorang pemuda berbakat dan berprestasi dari Baubau, berhasil meraih juara pertama dalam pementasan monolog Kahaeruna Walanda pada acara napak tilas Oputa Yi Koo.

Chendy Ariswan Latief menuturkan, monolog ini mengisahkan perlawanan Oputa Yi Koo terhadap kolonial Belanda, menegaskan dedikasinya dalam menghidupkan kembali sejarah dan budaya Buton.

"Alhamdulillah, dari banyaknya peserta saya bisa menjadi juara pertama," ungkapnya dengan bangga kepada Telisik.id, Kamis (13/6/2024).

Tak berhenti di situ, Chendy yang kini menempuh pendidikan S2 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, terus memperkenalkan dan melestarikan budaya Buton melalui karya-karya seni teater dan film eksperimental.

Sebagai pegiat teater yang berdedikasi dalam melestarikan budaya dan seni di daerah Buton, ia melihat banyak budaya Buton yang terancam punah akibat westernisasi.

Baca Juga: Update Jadwal Kapal Pelni dari Pelabuhan Murhum Baubau Periode Juni 2024

Sebagai mahasiswa S2 di Yogyakarta, Chendy menggabungkan pendidikan formalnya dengan pengabdiannya pada budaya lokal yang didukung oleh Beasiswa Pelaku Budaya (BPI).

Lahir dan besar di Baubau, Chendy melihat seni dan budaya sebagai elemen hidup yang dinamis. Ia melihat seni dan budaya bukan sekadar warisan mati. Baginya, kesenian adalah alat hidup yang melayani manusia dan masyarakat.

Selain karyanya di Baubau, Chendy juga aktif berkontribusi dalam dunia teater tradisi di Makassar. Ia sering berperan sebagai aktor, sutradara, dan penulis naskah dalam berbagai pementasan yang diadakan oleh Lembaga Terkam FSD UNM, Teater Kita Makassar, dan Dewan Kesenian Makassar. Partisipasinya dalam acara-acara besar seperti Festival Teater Mahasiswa Indonesia, Gau Maraja, dan Festival Eight (F8) menunjukkan komitmennya dalam memajukan seni tradisional Buton di panggung yang lebih luas.

Di Yogyakarta, Chendy memperluas jangkauannya dengan memperkenalkan nilai-nilai budaya Buton kepada masyarakat luar melalui karya seni. Film dokumenter eksperimentalnya yang berdurasi 10 menit berjudul Sarapatanguna.

"Pada film experimental dokumenter tersebut saya mengangkat falsafah Buton, yakni Sarapatanguna yang sudah tidak relevan dengan kondisi Buton saat ini, khususnya di Baubau. Dimana terjadi maraknya kisruh antar kelompok warga, maupun konflik horizontal antara masyarakat dengan pengambil kebijakan," ungkapnya.

Salah satu dialog kuat dalam film ini berbunyi "Mengalir dalam setiap gerakan, dan setiap helaan nafas. Bukan hanya warisan mia patamia, tetapi juga sebuah jalinan yang menghubungkan sara sara yang telah berlalu diganti demagog-demagog, seakan melupakan tentang menyayangi, merawat, tegang rasa, dan rasa hormatnya.

"Alhamdulillah, Film ini ditayangkan di Studio TV ISI Yogyakarta dan proses penciptaannya melibatkan riset, observasi, dan wawancara selama satu setengah bulan, diikuti dengan pembuatan naskah selama seminggu, latihan selama tiga hari, dan syuting selama dua hari di Baubau dan Makassar," tutur Chendy

Chendy juga mengungkapkan keresahannya terhadap budaya Patriarki melalui teater eksperimental yang terinspirasi dari tradisi "posuo" Buton, yang menggambarkan proses kurungan perempuan yang memasuki fase dewasa.

Teater ini mengangkat isu patriarki yang membatasi peran perempuan dalam urusan dapur, sumur dan kasur semata serta feminisme yang mendorong perempuan untuk hidup mandiri tanpa laki-laki. Bersama Ma’rifatul Latifah, Chendy memerankan pementasan ini di Tuwuh, Yogyakarta.

Baca Juga: Resahkan Warga, Polisi di Buton Tengah Tangkap Jaringan Pencuri Motor

Ibu Chendy, Matiati Latief, menuturkan bahwa ia sangat bangga dengan pencapaian Chendy.

"Alhamdulillah dengan melestarikan budaya Buton dan menginspirasi orang lain melalui karya-karyanya membuat kami sebagai orang tua merasa terharu dan bangga," ucapnya.

Ia berharap agar Chendy terus mengukir prestasi dan memberikan yang terbaik untuk budaya dan seni.

Teman sejawat Chendy, Alim Rawis menuturkan bahwa sejak SMA Chendy telah konsisten aktif dalam seni, sering mengikuti pentas dan kegiatan lainnya. Tidak mengherankan bahwa sekarang ia terus melanjutkan perjalanan ini dan mendapatkan juara 1 dalam lomba kesenian hingga mengenalkan budaya di luar daerah seperti di Yogyakarta.

"Kami sangat bangga dengan Chendy. Semoga ia terus menginspirasi banyak orang dengan dedikasinya dalam seni dan budaya," tuturnya. (A)

Penulis: Elfinasari

Editor: Fitrah Nugraha

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga