adplus-dvertising

Dahsyatnya Keutamaan Beristighfar di Waktu Sahur

Haerani Hambali, telisik indonesia
Minggu, 05 September 2021
10323 dilihat
Dahsyatnya Keutamaan Beristighfar di Waktu Sahur
Beristighfar di waktu sahur memiliki banyak keutamaan, karena di saat itu, Allah menerima tobatnya orang yang memohon ampun. Foto: Repro INews.id

" Sepertiga malam terakhir yang dimaksud adalah waktu jelang dini hari sekitar pukul 1.30-04.00 atau waktu untuk Slsahur dan Salat Tahajud "

KENDARI, TELISIK.ID - Besarnya keutamaan membaca istighfar saat sahur tertuang dalam Al-Qur'an dan hadis sahih.

Dikutip dari tribunnews.com, dalam Al-Qur'an Surat Al Imron ayat 17, Allah menyebut keistimewaan orang yang beristighfar di waktu sahur atau sebelum fajar:

Assaabiriina wassaa diqiina walqoonitiina walmunfiqiina walmus taghfiriina bil ashaar


Artinya:

(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.

Sementara menurut hadis sahih: diriwayatkan dalam HR. Bukhari 1145 dan Muslim 758, dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW menyampaikan waktu turunnya Allah ke langit dunia:

“Pada setiap malam, Allah turun ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir dan berfirman: ’Barangsiapa berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi. Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan Kuampuni.”

Sepertiga malam terakhir yang dimaksud adalah waktu jelang dini hari sekitar pukul 1.30-04.00 atau waktu untuk Slsahur dan Salat Tahajud.

Berikut sejumlah bacaan istighfar yang bisa diamalkan:

1. Bacaan istighfar

Astaghfirullah Al Adzim

Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung.”

2. Bacaan istighfar lainnya

Astaghfirullohal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih.

Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, tiada tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat pada-Nya."

3. Sayyidul istighfar

Sayidul istighfar adalah lafal istighfar yang paling utama.

Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

Artinya, “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau,"

Selain dalam surat Ali Imran ayat 17, perintah Allah untuk beristighfar di waktu sahur juga terdapat dalam surat al-Dzariyat ayat 18: “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. al-Dzariyat/51: 18).

Dikutip dari Republika.co.id, menurut pengarang Tafsir Jalalain, yang dimaksud “di waktu sahur” itu adalah di akhir malam. Menurutnya, waktu istighfar disebutkan di dalam ayat itu secara khusus, karena pada waktu itulah orang biasa lengah dan tidur nyenyak. Dapat diduga, inilah yang membuat waktu sahur memiliki keutamaan untuk memohon ampun. 

Sedangkan ucapan istighfar yang dibaca oleh mereka yang di akhir-akhir malam memohon ampun kepada Allah SWT, menurut pengarang Tafsir Jalalain lagi, adalah “Allahummaghfir Lana” (Ya Allah ampunilah kami). Di sini terlihat etika berdoa: meminta ampun untuk bersama. Tidak dikatakan, “Allahummaghfir Li” (Ya Allah ampunilah aku).

Bagi Syaikh Nawawi Banten, seperti diungkapkannya dalam karya magnum-opus-nya, yakni Tafsir Munir, sighat istighfar itu bisa apa saja. Inilah kemurahan para ulama agar tidak membuat berat umat. Misalnya mengucapkan, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami.” (QS. Ali Imran/3: 16).

Baca Juga: Ingin Rumah Aman dari Gangguan Makhluk Halus? Ini Tips dan Doanya

Baca Juga: Ini Nasihat Rasulullah SAW Menghadapi Tetangga yang Usil dan Adab Bertetangga Menurut Islam

Terkait istighfar di waktu sahur, Nabi SAW memperkuat, “Pada setiap malam, Allah SWT turun ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir.  Allah berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku akan aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengenai berapa kali istighfar dipanjatkan, Nabi SAW menjelaskan, “Demi Allah, sesunguhnya aku beristighfar (memohon ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain, “…Sesungguhnya aku bertaubat sebanyak seratus kali dalam satu hari.” (HR. Muslim). 

Kedua hadis ini memberi pelajaran agar kita beristighfar lebih banyak dari yang Nabi SAW lakukan. Dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim).

Aisyah berkata, “Rasulullah SAW biasa salat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa Engkau melakukan hal ini padahal Engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah Engkau suka aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Muslim).

Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Hadits mengutip hadis Nabi SAW mengenai buah memohon ampun.

Pertama, “Istighfar itu dapat memakan dosa-dosa, seperti halnya api dapat memakan kayu bakar kering”.

Kedua, banyak istighfar itu dapat mendatangkan rezeki.

Ketiga, “Setiap sesuatu itu memiliki perhiasan, dan perhiasan dosa adalah istighfar”. 

Dalam konteks kekinian, kita yakin istighfar juga akan melenyapkan Corona. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa istighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kesedihan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya, dan Allah memberinya rezeki yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud). (C)

Reporter: Haerani Hambali

Editor: Fitrah Nugraha

Artikel Terkait
Baca Juga