Dampak Badai Matahari Ekstrim Hantam Bumi, Listrik Mati hingga Kemunculan Aurora

Merdiyanto , telisik indonesia
Minggu, 12 Mei 2024
0 dilihat
Dampak Badai Matahari Ekstrim Hantam Bumi, Listrik Mati hingga Kemunculan Aurora
Bumi akan dihantam badai matahari ekstrim yang mengakibatkan listrik mati dan kemunculan Aurora. Foto: Repro Cnnindonesia.com

" Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) NOAA, mengeluarkan peringatan badai matahari ekstrim terdahsyat dalam 20 tahun terakhir yang melanda bumi "

KENDARI, TELISIK.ID - Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) NOAA, mengeluarkan peringatan badai matahari ekstrim terdahsyat dalam 20 tahun terakhir yang melanda bumi.

Dilansir dari Sindonews.com, peringatan ini dikeluarkan karena badai matahari yang ekstrim akan menghantam bumi yang menyebabkan aurora terlihat di seluruh Amerika dan sebagian Eropa.

Badai matahari merupakan ejeksi massa koronal (CME) yang kuat yang dikeluarkan dari Matahari. CME ini dapat membawa miliaran ton partikel bermuatan ke luar angkasa.

Ketika menabrak Bumi, mereka dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem teknologi dan infrastruktur kita.

Menurut keterangan NOAA, "Peristiwa ekstrem (G5) terakhir terjadi saat Badai Halloween pada Oktober 2003."

Berikut daftar fenomena badai matahari ekstrim baik positif maupun negatif seperti dilansir dari Cnnindonesia.com:

Baca Juga: Tips Mengurangi Dampak Cuaca Panas

Aurora Borealis

Badai matahari ini memunculkan fenomena cahaya utara atau aurora borealis di belahan Bumi utara dan cahaya selatan atau aurora australis di belahan Bumi selatan.

Hal itu diakibatkan partikel energik yang diarahkan ke kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom oksigen dan nitrogen di atmosfer bumi.

Janna Levin ahli astrofisika mengatakan partikel energi yang menyebabkan gelombang aurora saat ini bergerak jauh lebih lambat, sehingga menyebabkan fenomena tersebut berlangsung selama akhir pekan ini.

"Beberapa dari lontaran massal ini mencapai triliunan kilogram," katanya. "Mereka lebih lambat. Jadi lebih lama, tapi masih berjam-jam, mungkin puluhan jam."

Listrik padam

Menurut NOAA fenomena  badai matahari akan menyebabkan padam listrik di Swedia dan merusak infrastruktur listrik di Afrika Selatan dan diprediksi lebih banyak melanda Bumi dalam beberapa hari ke depan.

Padamnya listrik ini terkait dengan fluktuasi medan magnet yang terkait dengan badai geomagnetik menyebabkan arus pada kabel panjang, termasuk saluran listrik.

Pendidik dari the Science Guy, Bill Nye, mengungkap badai matahari yang sangat besar dapat menghadirkan "bahaya yang nyata" terutama karena dunia modern sangat bergantung pada listrik.

"Hal lainnya, semuanya, yang merupakan bahaya nyata bagi masyarakat teknologi kita, berbeda dengan tahun 1859, adalah seberapa besar kita bergantung pada listrik dan elektronik dan sebagainya," kata Nye.

Ganggu komunikasi

Ilmuwan dunia memberi peringatan peningkatan jilatan api Matahari dan CME yang berpotensi mengganggu komunikasi di Bumi hingga akhir pekan karena mengganggu ionosfer atau bagian atas atmosfer Bumi.

Pada 1859, badai matahari memicu kelebihan arus pada jalur telegraf hingga menyebabkan sengatan listrik pada teknisi bahkan membakar beberapa peralatan telegraf.

Baca Juga: Masyarakat Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem Hingga 18 Maret 2024

Matinya jaringan radio disebabkan oleh kuatnya sinar X-ray dan radiasi ultraviolet ekstrem yang dipancarkan selama CME.

Gelombang radio yang berinteraksi dengan elektron di lapisan terionisasi kehilangan energi karena tumbukan yang lebih sering. NOAA menyebut hal ini dapat menyebabkan sinyal radio terdegradasi atau terserap seluruhnya.

Teknologi antariksa

Partikel energik yang dilepaskan Matahari dapat mengganggu perangkat elektronik di pesawat ruang angkasa dan mempengaruhi astronaut tanpa perlindungan yang tepat dalam waktu 20 menit hingga beberapa jam.

Pesawat luar angkasa berisiko terkena radiasi tinggi, yang tak bisa mencapai Bumi imbas perlindungan dari atmosfer.

Untuk mengatasi itu, NASA sudah menyiapkan  tim khusus untuk mengawasi keselamatan astronaut, dan dapat meminta mereka yang ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk pindah ke tempat-tempat di dalam pos terdepan yang memiliki perlindungan lebih baik.

Konstelasi satelit Starlink tidak luput dari dampak insiden kali ini. Pimpinan SpaceX, yang mengendalikan Starlink, Elon Musk mengaku Badai Matahari kali ini membuat "satelit-satelit Starlink di bawah banyak tekanan meski masih bisa bertahan." (C)

Penulis: Merdiyanto

Editor: Fitrah Nugraha

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga