Dua Ekor Gajah Sumatera Ditemukan Mati, Diduga Ini Penyebabnya

Reza Fahlefy, telisik indonesia
Jumat, 15 April 2022
0 dilihat
Dua Ekor Gajah Sumatera Ditemukan Mati, Diduga Ini Penyebabnya
Tim BBKSDA Sumut mengubur gajah yang ditemukan mati. Foto: Humas BBKSDA Sumut

" Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menemukan dua ekor gajah (Elephas Maximus Sumatrae) dalam kondisi mati "

MEDAN, TELISIK.ID - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menemukan dua ekor gajah (Elephas Maximus Sumatrae) dalam kondisi mati.

Dua ekor bangkai itu ditemukan di Dusun Aras Napal Kanan, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Kepala BBKSDA Sumut, Ir Irzal Azhar membenarkan ketika dikonfirmasi sejumlah awak media, Jumat (15/4/2022).

"Temuan bangkai gajah itu didapatkan dari warga, saat itu warga sedang memancing di seputaran lokasi," kata Irzal Azhar.

Bangkai gajah dewasa berjenis kelamin betina dengan kondisi sudah mulai membusuk. Pada tubuhnya ditemukan banyak luka bekas tusukan dengan usus terburai.

"Dari hasil ploting koordinat yang dilakukan petugas, bangkai gajah tersebut posisinya berada di hutan produksi terbatas yang berbatasan dengan TN Gunung Leuser dan jarak terdekat dari TN Gunung Leuser sekitar 150 meter. Untuk lebih detailnya silahkan berkomunikasi dengan bidang humas," tambahnya.

Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Lapangan dan Kehumasan, Andoko Hidayat menambahkan, kondisi tulang gajah itu berceceran.

“Kondisinya tinggal tulang belulang yang berceceran, terdapat juga sisa-sisa bangkai yang sudah mencair. Kondisi tulang belulang pun tidak lengkap. Diperkirakan sudah mati lebih dari 6 bulan," sambungnya.

Petugas ke lokasi Rabu 13 April 2022, mereka juga sudah melakukan penanganan tindak lanjut laporan adanya gajah yang mati di perkebunan jeruk milik masyarakat itu

Di mana, penanganan dengan melakukan pengumpulan data dan informasi di tempat kejadian, serta melakukan nekropsi atas cadaver gajah.

Baca Juga: Ada Anak Bawah Umur Disiksa di Kerangkeng Milik Mantan Bupati Langkat

"Penanganan dilakukan oleh tim dari Seksi Konservasi Wilayah II Stabat bersama dengan lembaga mitra Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, dengan tim medis dari Balai Besar KSDA Sumatera Utaraserta dari YOSL-OIC," ungkapnya.

Menurut Andoko, di lokasi itu terdapat alur sungai yang menjadi batas alam antara TN Gunung Leuser dengan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Alur sungai tersebut menjadi jalur gajah untuk keluar masuk ke areal perladangan masyarakat yang berada di dalam HPT.

Kemudian, kebun milik warga itu ditanami dengan tanaman Jeruk dan beberapa jenis tanaman buah termasuk pisang yang sering menjadi pakan gajah.

Di sekitar lokasi cadaver gajah terdapat bekas-bekas tapak gajah yang cukup banyak, berbentuk tidak wajar, terlihat bekas tapak gajah seperti bekas perkelahian.

Petugas juga sudah mengambil keterangan salah seorang saksi yang berkebun di lokasi yang berdampingan. Mereka mendengar suara raungan gajah dari lokasi kejadian.

"Suara raungan gajah terdengar tidak seperti suara biasa tapi cukup riuh. Hingga akhirnya warga menemukan bangkai gajah itu," tambahnya.

Berdasarkan hasil pengamatan tim medis pada saat dilakukan nekropsi, ditemukan hal-hal seperti ditemukan luka tusukan benda tumpul dithorax dan abdomen, vulnusscissum (luka sayatan) benda tajam di caling, memar pada otot (rusuk kanan), luka pada kaki kanan.

Lalu luka benda tumpul pada abdomen yang mengakibatkan pendarahan pada organ bagian dalam sehingga menyebabkan kehilangan banyak darah sampai akhirnya mati.

Baca Juga: Soal Pengisian DRH 56 CASN, BKPSDM Muna Disarankan Langsung ke BKN Pusat

"Sedangkan dari hasil pengumpulan data di lokasi dan laporan nekropsi tim medis, dapat disampaikan hipotesa yaitu lokasi merupakan jalur jelajah satwa gajah dengan status HPT tapi telah dikonversi menjadi perkebunan masyarakat," tuturnya.

Bekas tusukan itu seperti tusukan gading jantan dewasa. Gajah betina didatangi oleh gajah jantan yang sedang masa musth, kemudian menyerang dan memaksa untuk kawin.

Namun, gajah betina yang tidak dalam periode estrus atau belum siap untuk kawin melakukan perlawanan sehingga akhirnya menyebabkan kematian gajah betina.

"Sehari setelah mati, ada masyarakat yang menemukannya," ujarnya.

Pengakuan Andoko, gajah itu sudah dikubur dan dilakukan pengambilan sampel isi lambung untuk di uji ke laboratorium.

"Iya, kuburan digali sedalam 2 meter yang dibantu oleh masyarakat setempat. Selain itu, dilakukan pengambilan sample berupa isi lambung dan bagian lambung untuk dilakukan uji toksik ke laboratorium. Untuk hasilnya akan kami sampaikan kembali kepada rekan rekan," terangnya. (B)

Reporter: Reza Fahlefy

Editor: Kardin

Baca Juga