Festival Kabuenga Wasinta Kapota: Tradisi Perjodohan Leluhur yang Terus Hidup dan Menguatkan Identitas Budaya di Wakatobi
Zulkifli Herman Tumangka, telisik indonesia
Selasa, 07 April 2026
0 dilihat
Tradisi Kabuenga Wasinta dengan tema "Melestarikan Tradisi, Menguatn Identitas Budaya Wakatobi" yang digelar di Pulau Kapota, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Wakatobi. Foto: Ist.
" Dalam tradisi Kabuenga, para gadis dan pria bujangan berkumpul untuk menjalani rangkaian prosesi adat sebagai ajang mencari pasangan "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Tradisi Kabuenga kembali digelar di Pulau Kapota, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, melalui tajuk “Kabuenga Wasinta” yang sarat makna cinta, budaya dan kebersamaan masyarakat adat.
Dalam tradisi Kabuenga, para gadis dan pria bujangan berkumpul untuk menjalani rangkaian prosesi adat sebagai ajang mencari pasangan. Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin ketua adat, memohon keberkahan serta perlindungan dari segala musibah.
Setelah itu, para tokoh adat yang dituakan akan mendendangkan syair Kadandio lebih dulu. Syair itu akan diiringi dengan tabuhan gendang yang berirama tenang dan damai. Syair Kadandio memiliki makna tentang petuah dan nasihat bagi para kaum muda-mudi yang sudah menginjak akil balig dalam merangkai bahtera rumah tangga nantinya.
Prosesi kemudian berlanjut ke tahap interaksi antar peserta. Para gadis mengenakan busana adat Wakatobi dan menawarkan minuman kepada pria yang mereka pilih, yang tidak boleh ditolak sebagai bentuk penghormatan.
Selanjutnya, dalam tahapan pasubui, para pria membalas dengan memberikan makanan atau barang kepada gadis yang mereka sukai. Dari proses ini, pasangan yang saling tertarik akan terlihat dan kemudian diperbolehkan naik ke ayunan sebagai simbol keterikatan dalam tradisi Kabuenga.
Baca Juga: Masyarakat Kulati Wakatobi Tegas Tolak Rekonstruksi Jalan, Diskusi Bersama Pemda Dinilai Belum Jawab Substansi
Ketua panitia kegiatan, Nasrun menjelaskan, Kabuenga secara harfiah berarti ayunan. Tradisi ini berangkat dari kisah pemilihan jodoh anak Raja Kambode/Kapota, La Lili Alamu, yang jatuh hati kepada seorang gadis dari keluarga sederhana bernama Wa Siogena.
Ia menuturkan, tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat adat Pulau Kapota. Kabuenga menjadi media pelestarian budaya yang mampu mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjadi simbol interaksi sosial dalam proses perjodohan secara adat.
"Kabuenga bukan hanya sarana hiburan akan tetapi menjadi media pelestarian budaya yang dapat mempererat tali silaturahim, meningkatkan budaya gotong royong dan menjadi simbol interaksi perjodohan dalam tradisi adat," jelas Nasrun, Senin (6/4/2026).
Festival Kabuenga Wa Sinta sendiri mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Identitas Budaya Wakatobi”. Kata “Wasinta” merujuk pada makna cinta atau kasih yang menggambarkan ketulusan perasaan dalam tradisi tersebut.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam kategori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya, melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 Batch Kedua.
Dalam pelaksanaannya, komunitas Kapota Maliga yang diketuai Nasrun dipercaya sebagai penyelenggara oleh Lembaga Adat Kadie Kapota.
Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari Lembaga Adat Kesultanan Buton Kadie Kapota, Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan Wakatobi, Taman Nasional Wakatobi, pemerintah daerah, hingga seluruh elemen masyarakat Pulau Kapota, termasuk pelajar dan pemuda.
“Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan festival,” tambahnya.
Baca Juga: Video Dugaan Wisatawan Lecehkan Tari Lariangi di Wakatobi Picu Polemik
Tingginya antusiasme masyarakat menjadi modal penting dalam pelaksanaan kegiatan. Festival berlangsung meriah dan tertata, serta mendapat apresiasi dari pengunjung, termasuk dari luar Pulau Kapota.
Selain itu, konsep kegiatan yang mengedepankan penggunaan bahan dan kerajinan lokal dinilai memberikan daya tarik tersendiri. Unsur-unsur lokal tersebut tidak hanya memperindah tampilan acara, tetapi juga memberdayakan masyarakat setempat secara langsung.
Festival Kabuenga Wasinta pun diharapkan terus menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Wakatobi di tengah arus modernisasi. (C)
Penulis: Zulkifli Herman Tumangka
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS