Indonesia Catat 706 Ribu Kasus Malaria, Baubau Perkuat Pencegahan

Elfinasari, telisik indonesia
Senin, 31 Agustus 2026
0 dilihat
Indonesia Catat 706 Ribu Kasus Malaria, Baubau Perkuat Pencegahan
Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Baubau, Yuslina. Foto: Ist.

" Kasus malaria di Indonesia mengalami peningkatan signifikan "

BAUBAU, TELISIK.ID - Kasus malaria di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Pada 2025, tercatat 706.297 kasus malaria, naik sekitar 30 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 543.965 kasus.

Kegiatan Pelatihan Penyegaran Mikroskopis Malaria Bagi Tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) kerja sama dengan Bapelkes Sulawesi Tenggara (Sultra) dilaksanakan di Hotel Mira Baubau.

Di tengah peningkatan kasus secara nasional tersebut, Kota Baubau terus melakukan berbagai upaya pencegahan untuk mempertahankan status eliminasi malaria (bebas malaria) yang telah dicapai.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Baubau, Yuslina mengatakan, sebanyak 401 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia telah mencapai status eliminasi malaria pada 2024, termasuk Kota Baubau.

"Meskipun demikian, capaian positif ditunjukkan dengan 401 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia yang telah mencapai status eliminasi (bebas malaria) pada tahun 2024, termasuk Kota Baubau," ungkap Yuslina, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Siapkan Dana Rp 8 Miliar, Listrik 24 Jam di Kepulauan Buton Selatan Rampung 2027

Menurutnya, status eliminasi malaria harus terus dipertahankan karena daerah yang telah mencapai status tersebut tetap memiliki risiko terjadinya penularan kembali.

Pemerintah telah menetapkan Peta Jalan Eliminasi Malaria dan Pencegahan Penularan Kembali di Indonesia 2025-2045 sebagai acuan bersama dalam mempertahankan capaian eliminasi malaria sekaligus mencegah terjadinya penularan kembali.

Sebagai bagian dari kebijakan pengendalian malaria nasional, setiap penderita malaria klinis yang ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) wajib menjalani pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis atau konfirmasi laboratorium secara mikroskopis.

Sementara bagi fasyankes yang belum memiliki fasilitas pemeriksaan mikroskopis, konfirmasi dilakukan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT).

Langkah tersebut penting untuk mencegah pemberian pengobatan tanpa konfirmasi laboratorium yang berpotensi memicu resistensi terhadap obat malaria.

Mengutip data SISMAL, Yuslina mengungkapkan, dari 5.628 tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) yang tersebar di 4.426 fasyankes pelapor pada 2021, sebanyak 4.122 tenaga ATLM di antaranya belum pernah mengikuti pelatihan mikroskopis malaria.

Baca Juga: Jadwal Kapal Pelni dari Balikpapan September 2026, KM Lambelu dan Bukit Siguntang Layani Sejumlah Rute

Selain itu, dari 1.241 mikroskopis yang mengikuti uji kompetensi, hanya 750 orang yang memenuhi syarat.

"Oleh karena itu, penguatan kapasitas petugas laboratorium medis melalui pelatihan penyegaran ini sangat vital dan harus dilakukan secara berkesinambungan," ujarnya.

Yuslina berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, serta meningkatkan keterampilan pemeriksaan mikroskopis secara tepat dan berkualitas.

"Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, serta mengasah keterampilan pemeriksaan mikroskopis secara tepat dan berkualitas. Ilmu yang diperoleh hendaknya langsung diterapkan di fasyankes masing-masing demi mendukung penemuan kasus secara dini," ungkapnya. (C)

Penulis: Elfinasari

Editor: Kardin

Artikel Terkait
Baca Juga