adplus-dvertising

Ini Alasan Ilmuwan Prancis, Maurice Bucaille Jadi Mualaf Setelah Meneliti Mumi Firaun

Haerani Hambali, telisik indonesia
Kamis, 07 Oktober 2021
1764 dilihat
Ini Alasan Ilmuwan Prancis, Maurice Bucaille Jadi Mualaf Setelah Meneliti Mumi Firaun
Prof. Dr. Maurice Bucaille, ilmuwan Prancis yang menemukan kebenaran Al-Qur’an dan menjadi mualaf setelah meneliti mumi Firaun. Foto: Repro faharas.net

" Maurice Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris "

PARIS, TELISIK.ID - Banyak jalan menuju hidayah Allah SWT. Siapa sangka, ahli bedah asal Prancis, Maurice Bucaille, mendapatkan hidayah setelah melakukan penelitian atas jasad Firaun.

Dibesarkan di lingkungan agama Kristen, Maurice Bucaille mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran di salah satu Universitas Prancis, dan termasuk mahasiswa yang berprestasi.

Karirnya di bidang kedokteran yang semakin berkembang, membuatnya menjadi salah satu dokter bedah terkenal di Prancis.
   
Dilansir dari Republika.co.id, pada pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk mempelajari, meneliti, dan menganalisis mumi Firaun.


Tawaran itu  disambut baik oleh Pemerintah Mesir. Setelah direstui , mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta yang sangat meriah, untuk menyambut kedatangan mumi Firaun tersebut .

Mumi Firaun itu kemudian dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Prof Dr Maurice Bucaille adalah Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia lahir di Pont-L'Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Maurice Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Dilansir Lingkar-Kediri.com dari buku “Ila al-Huda Tina: ‘Ulama Gharbiyyun Kayfa Aslamu?”, berikut kisah Maurice Bucaille dari awal meneliti mumi Firaun hingga memutuskan menjadi mualaf.

Sisa-sisa garam yang ditemukan di tubuh mumi Firaun oleh Maurice membuktikan bahwa Firaun mati tenggelam di laut. Namun yang menjadi pertanyaan di benak Maurice adalah, bagaimana jasad Firaun tetap utuh meski sudah ribuan tahun, dan ditemukan di laut?

Salah satu rekannya berbisik, “jangan tergesa-gesa, sebenarnya umat Muslim telah berbicara mengenai tenggelamnya jasad ini.”

Saat itu Maurice mengacuhkan perkataan rekannya. Dia meyakini bahwa penemuan baru itu tidak akan terjadi kecuali melalui penelitian dengan menggunakan ilmu modern dan peralatan pendukung yang canggih.

Kemudian salah satu seorang dokter bedah mengatakan, “Sesungguhnya Al-Qur'an kitab suci umat Muslim telah menceritakan kisah tenggelamnya Firaun dan keutuhan tubuhnya setelah dia tenggelam di laut.”

Maurice Bucaille tercengang tak percaya dan heran mendengarnya. Dia bertanya-tanya, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal mumi itu belum ditemukan hingga tahun 1898 M atau ± 200 tahun yang lalu, sementara Al-Qur'an kitab suci umat Muslim sudah menginformasikan lebih dari 1400 tahun yang lalu.

Menurut Maurice, hal tersebut mustahil, tidak masuk akal. Bagaimana mungkin terjadi, padahal seluruh manusia termasuk juga bangsa Arab tidak mengetahui apapun tentang orang-orang Mesir kuno.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin berkecamuk di benak Maurice, membuat dia berpikir keras tentang Al-Qur'an.

Maurice akhirnya duduk seorang diri mengamati mumi yang berada tepat di hadapannya seraya berkata, “Apakah logis bahwa mumi di hadapanku ini adalah Firaun yang mengejar Musa as?”

Meski telah mengajukan beberapa pertanyaan sangkalan terhadap informasi Al-Qur'an, dia tetap gelisah sampai-sampai tidak dapat tidur pulas.

Dalam agamanya, kitab suci umat Kristiani (Injil Matius dan Lukas) memang menceritakan tentang tenggelamnya Firaun ketika mengejar Musa as tetapi tidak menyebutkan keutuhan jasadnya.

Esok harinya Maurice meminta kepada rekannya sesama ahli bedah untuk membawa kitab Taurat, kitab suci umat Yahudi.

Rekannya membaca Kitab Keluaran (Exodus), tetapi kitab ini tidak membahas tentang keutuhan jasad Firaun setelah tenggelam bersama bala tentaranya.

Setelah program penelitian selesai, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir.

Maurice memutuskan pergi ke Arab Saudi untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Dia menghadiri konferensi yang membahas keutuhan jasad Firaun, dan ingin bertemu secara langsung dengan para ilmuwan Muslim di bidang anatomi.

Ketika acara berlangsung, seorang ilmuwan muslim berdiri dan membaca sebuah ayat yang berbunyi:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (QS. Yunus: 92).

Tentu saja Maurice kaget dan tercengang. Dia semakin yakin kitab suci umat Muslim, Al-Qur’an berasal dari Tuhan Semesta Alam. Cahaya kebenaran Al-Qur’an merasuk ke lubuk hatinya.

QS. Yunus ayat 92 telah menuntun hati Maurice Bucaille untuk menjadi mualaf.

Maurice kemudian menulis buku (Bible, Qur’an dan Sains Modern), yang dalam pendahuluannya dia menulis, “Sejak awal, nilai-nilai ilmiah yang ada dalam Al-Qur'an telah mengherankan. Saya sama sekali tidak mengira bahwa dalam teks yang telah disusun semenjak 13 abad lalu itu, ditemukan keterangan tentang segala hal yang bermacam-macam, dan sangat cocok dengan pengetahuan ilmiah modern.”

Maurice juga berkata tentang kebenaran ilmiah yang terkandung dalam Al-Qur'an pada akhir kalimat dalam bukunya (Studi Kitab Suci dalam Konteks Ilmu Pengetahuan Modern).

“Dengan melihat kepada tingkatan pengetahuan di masa Nabi Muhammad SAW, tidak mungkin kebenaran ilmiah yang terkandung dalam Al-Qur'an itu adalah karangan manusia.” (C)

Reporter: Haerani Hambali 
Editor: Fitrah Nugraha

Baca Juga