Iran Pastikan Absen Perundingan Kedua, AS Buat Ulah Pasang Blokade Laut
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Senin, 20 April 2026
0 dilihat
Iran menolak perundingan lanjutan dengan Amerika Serikat setelah blokade laut memicu ketegangan baru kawasan Timur Tengah. Foto: Xinhua/Ahmad Halabisaz
" Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) meningkat tajam. Teheran memastikan absen perundingan lanjutan "

TEHERAN, TELISIK.ID - Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) meningkat tajam. Teheran memastikan absen perundingan lanjutan, sementara Washington memperketat blokade laut yang memicu eskalasi konflik terbaru.
Pemerintah Iran menyatakan tidak akan menghadiri putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Keputusan tersebut muncul setelah langkah Washington yang memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran, yang dinilai memperburuk situasi diplomatik yang sudah rapuh.
Melansir AFP, Senin (20/4/2026), sikap Iran ini dipengaruhi oleh sejumlah perkembangan terbaru, termasuk tindakan militer Amerika Serikat yang menargetkan kapal berbendera Iran di tengah upaya penegakan blokade laut.
Kondisi tersebut menambah kompleksitas hubungan kedua negara yang sebelumnya telah memasuki fase negosiasi tanpa hasil konkret.
Stasiun penyiaran pemerintah IRIB mengutip sumber internal yang menegaskan, "saat ini tidak ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran pembicaraan Iran-AS berikutnya". Pernyataan ini memperjelas posisi Teheran yang menilai situasi belum kondusif untuk melanjutkan dialog.
Sumber lain yang dikutip kantor berita Fars dan Tasnim menyebutkan, "suasana keseluruhan tidak dapat dinilai sangat positif". Mereka juga menambahkan bahwa pencabutan blokade oleh Amerika Serikat menjadi prasyarat utama sebelum negosiasi dapat dilanjutkan.
Baca Juga: Iran Resmi Umumkan Selat Hormuz Dibuka Penuh
Sementara itu, kantor berita resmi IRNA menyoroti kebijakan Washington yang dianggap tidak realistis. Dalam laporannya disebutkan bahwa blokade serta "tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak realistis" dari Amerika Serikat menjadi penghalang utama dalam proses diplomasi.
IRNA juga menegaskan bahwa "dalam keadaan ini, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang bermanfaat".
Situasi ini terjadi menjelang berakhirnya gencatan senjata selama dua pekan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Gencatan senjata tersebut sebelumnya menghentikan konflik yang dipicu serangan mendadak pada 28 Februari, namun kini kembali berada di ujung ketidakpastian.
Sejauh ini, hanya satu sesi perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad pada 11 April. Pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan, meskipun upaya untuk melanjutkan dialog sempat direncanakan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pihaknya telah menawarkan kesepakatan kepada Iran.
Dalam unggahannya, ia mengatakan, "Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya".
Namun, ia juga mengingatkan kemungkinan tindakan lebih lanjut jika kesepakatan tidak tercapai.
Ketegangan meningkat setelah Iran sempat menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Penutupan tersebut berdampak pada distribusi minyak dan gas dunia, mengingat selat tersebut merupakan salah satu jalur utama pengiriman energi internasional.
Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan pendapatan minyak Iran, namun di sisi lain memicu reaksi keras dari Teheran.
Dalam perkembangan terbaru, Trump mengungkapkan bahwa sebuah kapal berbendera Iran mencoba menembus blokade. Ia menyatakan, "berusaha melewati blokade angkatan laut kami, dan itu tidak berjalan baik bagi mereka." Ia menambahkan bahwa kapal tersebut dihentikan setelah kapal perusak Amerika "membuat lubang di ruang mesin", dan kini telah diamankan oleh marinir AS.
Kapal tersebut diketahui bernama Touska dan disebut berada dalam daftar sanksi Departemen Keuangan Amerika Serikat karena dugaan aktivitas ilegal sebelumnya. Insiden ini semakin memperburuk hubungan kedua negara yang sudah berada dalam kondisi tegang.
Iran sebelumnya sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), sebagai respons terhadap gencatan senjata di Lebanon. Namun, selat tersebut kembali ditutup sehari kemudian sebagai bentuk reaksi terhadap blokade yang masih diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Garda Revolusi Iran juga mengeluarkan peringatan tegas terkait aktivitas di wilayah tersebut. Mereka menyatakan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas tanpa izin "akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran".
Baca Juga: India Ejek Trump Tak Bisa Buka Blokade Laut Iran, Selat Hormuz Dikira Media Sosial
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menilai langkah Washington sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dicapai. Ia menyebut blokade tersebut sebagai "pelanggaran" terhadap gencatan senjata dan sebagai bentuk hukuman kolektif yang tidak sah terhadap rakyat Iran.
Data pelacakan menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat kembali normal dalam waktu singkat. Namun, situasi kembali berubah ketika ketegangan meningkat dan jalur tersebut kembali kosong dari kapal pada Minggu (19/4/2026).
Sejumlah insiden berupa tembakan dan ancaman terhadap kapal komersial juga dilaporkan terjadi di kawasan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa jalur strategis tersebut masih berada dalam risiko tinggi, seiring belum adanya kepastian terkait kelanjutan proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS