Menerka Rencana Jokowi Keliling Indonesia

Efriza, telisik indonesia
Minggu, 31 Mei 2026
0 dilihat
Menerka Rencana Jokowi Keliling Indonesia
Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus & Owner Penerbitan. Foto: Ist.

" Rencana Jokowi ini bisa dipahami sebagai kebutuhan politik untuk menjaga eksistensi dan memastikan jejaring politik "

Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus & Owner Penerbitan

RENCANA mantan Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) untuk keliling Indonesia jelas merupakan tindakan yang dilakukan dengan rasional dan bermuatan politik. Pernyataan Projo yang mengatakan kegiatan Jokowi itu semata-mata karena undangan masyarakat, dapat dimaknai kegiatan itu dilakukan dengan kesadaran dalam sikap politik Jokowi yang tinggi dan bukanlah bentuk kegiatan sosial.

Rencana Jokowi ini bisa dipahami sebagai kebutuhan politik untuk menjaga eksistensi dan memastikan jejaring politik yang selama ini bersama Jokowi tetap memiliki ruang dalam dinamika politik nasional.

Jokowi tidak sekadar bertemu masyarakat, tetapi telah terang benderang adanya agenda politik untuk menemui struktur politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di daerah-daerah, disamping juga ditengarai bersama Projo, ini jelas menunjukkan Jokowi sedang memanaskan mesin politik dengan start lebih awal.

Narasi rakyat mengundang dan merindukan Jokowi, itu sekadar narasi membangun citra politik semata, sekaligus membungkus niatan politik agar tampak menyejukkan semata.

Menerka Motif Politik Jokowi

Rencana Jokowi keliling Indonesia ini ditengarai banyak motif politiknya, misalnya, Jokowi menyadari ia tengah mengalami krisis kepercayaan di publik, sehingga Jokowi berkemungkinan mendesain keliling Indonesia untuk memulihkan kembali nama dan citra dirinya.

Jokowi tersorot oleh isu ijazah palsu maupun nama Jokowi yang bergema dalam ruang sidang-sidang korupsi beberapa menterinya karena tersangkut korupsi, sekaligus Jokowi ingin mengingatkan kembali publik akan jasa dan legacy-nya untuk negeri ini.

Jokowi diyakini juga mencoba untuk mempertahankan kedekatan dengan publik sekaligus menjaga pengaruh politiknya. Ada kekhawatiran yang besar, jika tanpa aktivitas politik Jokowi yang intens, maka pengaruh politik Jokowi dan keluarganya, kelompok pendukungnya, sekaligus PSI akan mengalami penyusutan dalam simpatik publik.

Tak dimungkiri, Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden masih menghadapi tantangan besar untuk membangun legitimasi politik yang mandiri, bahkan ruang gerak Gibran di dalam Pemerintahan sedang dibatasi. Selama ini, kekuatan politik Gibran tidak dapat dipisahkan dari faktor Jokowi. Ketika pengaruh Jokowi melemah, maka secara otomatis daya tawar politik Gibran juga berpotensi mengalami penurunan drastis.

Jokowi juga memahami, ia perlu secepatnya mengumpulkan kekuatan dan meningkatkan citra positif dan simpatik publik, setelah isu mengaungkan Prabowo-Gibran dua periode tidak memperoleh respons positif di tingkat elit-elit politik maupun masyarakat. Bahkan, adanya isu Prabowo Subianto tidak akan lagi menggandeng anaknya Gibran untuk kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 mendatang, tentu saja ditengarai telah membuat tidur lelap Jokowi terganggu.

Baca Juga: PSI Kehilangan Arah

Jokowi diyakini sedang panik dan kecewa karena ide dua periode Prabowo-Gibran ditolak oleh koalisi pemerintahan maupun publik. Jokowi ditengarai telah berdiskusi dan menantang simpul-simpul pendukungnya baik Projo dan PSI untuk meningkatkan posisi tawar Gibran agar Pemilu 2029 mendatang Gibran dapat diperhitungkan minimal sebagai calon wakil presiden (cawapres) kembali, bila perlu menaikkan posisi Gibran sebagai calon presiden (capres) pada kontestasi Pemilu 2029.

Jokowi diyakini hatinya mulai gelisah, tidak terlepas dari keberhasilan Presiden Prabowo Subianto di pemerintahan. Sedangkan, citra Jokowi dan Keluarganya malah semakin buruk di mata masyarakat karena sejumlah kasus yang langsung terkait dirinya maupun loyalisnya.

Oleh sebab itu, Jokowi yang selalu merasa dirinya sebagai arsitek dari keberhasilan pasangan Prabowo-Gibran terpilih hingga memerintah, oleh sebab itu ia merasa perlu untuk menunjukkan dirinya belum usang, pesan politik itu ditujukan kepada Prabowo dan Gerindra secara langsung meski tersurat dalam rencana keliling Indonesia.

Bahkan, disinyalir Jokowi akan menyerap informasi langsung dari publik terhadap program-program pemerintah yang sedang berjalan. Banyak program pemerintah maupun keputusan dan kebijakan pemerintah yang mendapatkan umpan balik negatif dari masyarakat, disebabkan kekecewaan masyarakat cenderung meningkat.

Faktor kekecewaan ini yang berusaha turut diserap oleh Jokowi, pasca menyerap langsung dari rakyat yang ditengarai akan dibawa oleh Jokowi untuk mengkomunikasikan kepada Presiden Prabowo.

Kondisi tersebut disinyalir bukan sekadar sikap Jokowi sebagai pendukung pemerintah maupun membantu menguatkan kepuasan masyarakat kepada pemerintah, tetapi sekaligus menguatkan langsung dari pengaruh Gibran ke dalam pemerintahan tersebut.

Melalui sikap agresif Jokowi berkomunikasi dengan Publik maupun Presiden Prabowo ke depannya, maka diharapkan posisi tawar maupun pengaruh dari Gibran yang diharapkan akan ikut terdongkrak. Ini menunjukkan Jokowi masih terus “menggendong” Gibran dalam kancah politiknya.

Kehadiran Jokowi langsung juga dapat meningkatkan posisi tawar figur-figur politik yang selama ini berada dalam orbit kekuasaan Jokowi. Karier politik mereka sebagian besar bertumpu pada kedekatan dengan mantan presiden tersebut. PSI pun yang selama ini diasosiasikan dekat dengan keluarga Jokowi juga masih menghadapi tantangan elektoral yang tidak ringan.

Oleh sebab itu, menjaga eksistensi Jokowi di ruang publik menjadi kebutuhan politik yang sulit dihindari. Keliling Indonesia Jokowi bukan sebagai kegiatan sosial, tetapi dapat dipahami sebagai upaya menguatkan kembali pengaruh Jokowi.

Dalam tradisi politik modern, mantan pemimpin negara yang aktif turun ke masyarakat umumnya memiliki tujuan tertentu, Jokowi ditengarai sedang berjuang untuk mempertahankan pengaruhnya, menjaga jaringan politiknya, membangun kembali citra dirinya, dan membantu menguatkan simpatik publik untuk kepentingan politik keluarga Jokowi dan PSI.

Jokowi memilih tetap aktif karena menyadari bahwa politik keluarganya tidak bisa mandiri tanpa kehadiran dirinya sebagai kepala keluarga sekaligus patron dari politik kekeluargaan. Dalam perspektif Jokowi, dengan berkomunikasi politik langsung dengan masyarakat maka Jokowi dapat membangun kembali hubungan emosional dengan publik.

Baca Juga: Prabowo dan Arah Kebijakannya

Kehadiran fisik masih diyakini oleh Jokowi lebih efektif dibandingkan sekadar pernyataan melalui media, tak dimungkiri Jokowi memang terkenal karena blusukannya. Melalui kunjungan langsung ke rakyat, Jokowi sebagai mantan presiden berharap dapat mengingatkan kembali publik terhadap capaian, jasa, dan warisan politik yang pernah dibangun selama berkuasa.

Dalam kancah politik Indonesia, kehadiran fisik masih menjadi magnet besar karena rakyat akan merespons dengan begitu antusias. Kenyataan bahwa Jokowi dan keluarganya masih disambut antusias oleh masyarakat, itu juga tidak bisa diabaikan. Ketika Jokowi hadir di ruang-ruang publik secara langsung dengan berkeliling Indonesia, tentu saja narasi berikutnya adalah kecemasan para elit-elit politik akan mulai terasa.

Kehadiran Jokowi juga dapat dibaca dalam sentimen publik bahwa Jokowi sedang berusaha merecoki stabilitas politik, menguji ombak pengaruh dan kekuatan dirinya sebagai pengontrol dan penggiring opini publik, mengkonsolidasikan kekuatan para pendukungnya, bahkan ditengarai ia sedang mempersiapkan kembali panggung politik Gibran yang lebih besar pada Pemilu 2029 mendatang yakni jika tidak bisa sebagai cawapres maka memajukan sebagai capres kenapa tidak.

Diakhir tulisan ini, perlu juga disampaikan bahwa kehadiran Jokowi yang akan berkeliling di Indonesia, juga akan menantang sikap Presiden Prabowo untuk berani meninggalkan Jokowi secepatnya atau malah tetap memilih membersamai Jokowi. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga