Jarang Disorot, UHO Kendari Punya Ahli Pembuat Alat Tangkap Ikan Skala Besar dan Ramah Lingkungan

Laode Muh. Faisal, telisik indonesia
Kamis, 09 Juli 2026
0 dilihat
Jarang Disorot, UHO Kendari Punya Ahli Pembuat Alat Tangkap Ikan Skala Besar dan Ramah Lingkungan
Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si, Ketua Jurusan Ilmu Kelautan Fakuktas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, pembuat alat tangkap Sadar Lingkungan. Foto: Laode Muh. Faisal/Telisik

" Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari punya seorang ahli yang dapat membuat alat penangkap ikan skala besar dan ramah lingkungan "

 

KENDARI, TELISIK.ID - Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari punya seorang ahli yang dapat membuat alat penangkap ikan skala besar dan ramah lingkungan.

Ia adalah Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si, Ketua Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) yang saat ini menjadi salah satu bakal calon rektor periode 2026-2030.

Alat pengkap ikan skala besar dan ramah lingkungan yang ia buat diberi nama "Sadar Lingkungan", yang terinspirasi dari namanya sendiri, Sadarun.

Alat tangkap yang identik dengan setnet yang ada di Jepang ini merupakan salah satu hasil penelitiannya untuk meraih gelar Doktor (S3) Teknologi Kelautan di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2011.

Sadarun mengungkapkan, alat Sadar Lingkungan yang ia buat terinspirasi dari tiga alat tangkap ikan tradisional di Indonesia, yaitu bubu, sero, dan bagan.

Baca Juga: Siswa SMAN 2 Kendari Rahmat Razak Lolos OSN Matematika Tingkat Provinsi

Peraih penghargaan Man of Biosphere dari UNESCO PBB ini menjelaskan, masing-masing alat tangkap tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.

Pertama, bubu atau fish trap. Pionir transplantasi karang Indonesia yang mendapat pengakuan dunia ini menjelaskan, alat ini mampu menjebak ikan hingga tidak bisa keluar, namun kekurangannya terletak pada ukurannya yang kecil sehingga hasil tangkapan terbatas pada jumlah yang sangat sedikit.

Kemudian sero, perangkap pasif semi-permanen yang dipasang di perairan dangkal. Sadarun menerangkan, alat ini memanfaatkan susunan jaring penggiring (leader net) yang menggiring ikan yang sedang bermigrasi ke bibir pantai agar masuk langsung ke dalam perangkap utama.

Meski bisa menangkap ikan dalam jumlah besar, alat ini tidak bisa terlalu lama menjebak ikan, sehingga ikan bisa keluar ketika air pasang.

"Saya sebagai seorang saintis berpikir, kenapa kita tidak buat ruang-ruang seperti sero, tapi begitu ikan dia masuk jangan sampai bisa keluar. Jadi saya gabungkan dengan kelebihan yang dimiliki bubu," jelas Sadarun, Kamis (9/7/2026).

"Jadi ukurannya saya perbesar menjadi ukuran 10 kali 10 meter, dan kotaknya itu saya buat menjadi  tiga kotak atau lebih. Jadi ikan yang masuk di kotak pertama (ruang pintu masuk) tidak bisa keluar, hanya bisa masuk ke kotak kedua (playground), dan dari kotak kedua hanya bisa ketemu di kotak ketiga, tempat panen," sambungnya.

Terakhir adalah bagan atau jaring angkat (lift net). Sadarun menerangkan, berbeda dengan bubu dan sero, bagan biasanya dilengkapi dengan lampu sebagai alat bantu penangkapan untuk mengumpulkan ikan di bawah jaring. Ketika ikan berkumpul, jaring akan ditarik atau diangkat dari dalam air.

Kelebihan yang dimiliki bagan melengkapi alat Sadar Lingkungan yang ia buat. Alat ini merupakan kotak terakhir atau tempat panen, sehingga memudahkan proses panen.

Baca Juga: Peluang Usaha: Modal Mulai Ratusan Ribuan Cocok untuk Pemula

"Dengan alat Sadar Lingkungan ini, nelayan kita tidak susah lagi pergi menangkap ikan berbulan-bulan melaut, tinggal santai-santai saja pergi cek kalau sudah banyak ikannya langsung panen. Dan ini prosesnya sangat cepat dan hasilnya sangat banyak," beber Sadarun.

Sadarun mengungkapkan, alat tangkap Sadar Lingkungan yang dia buat ini sudah pernah diuji coba di wilayah perairan lingkar perusahaan minyak Conocophillips, perusahaan asal Amerika Serikat yang aktif melakukan pengeboran minyak lepas pantai di perairan Natuna.

Ahli Transplantasi Karang Indonesia ini mengatakan, perusahaan asing tersebut mendanai uji coba alat tersebut untuk kegiatan pengabdian masyarakat di beberapa lokasi di Bali dan perairan Kepulauan Anambas.

"Saya bikin uji coba di Bali, saya baru pasang langsung penuh ikan. Terahir saya lakukan uji coba di perairan Kepulauan Anambas juga berhasil," ungkap Sadarun.

Ia berharap, alat Sadar Lingkungan ini bisa lebih dikenal lebih luas khususnya di Sultra, sehingga alat ini bisa berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan lokal. (C)

Penulis: Laode Muh. Faisal

Editor: Mustaqim

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga