Jejak Sejarah Islam Benteng Awaludin Lagole di Pulau Tomia

Boy Candra Ferniawan, telisik indonesia
Sabtu, 14 Agustus 2021
0 dilihat
Jejak Sejarah Islam Benteng Awaludin Lagole di Pulau Tomia
Kondisi Benteng Awaludin Lagole di Desa Lagole/Wowotimu, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi. Foto: Boy/Telisik

" Benteng Awalaudin Lagole ini merupakan benteng terbesar dan pertama yang berdiri di atas bukit paling tinggi "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Benteng Awalaudin Lagole yang berada di Pulau Tomia, menjadi bagian dari sejarah awal mula masuknya agama Islam di pulau yang berada di Kabupaten Wakatobi tersebut.

Benteng Awalaudin Lagole ini merupakan benteng terbesar dan pertama yang berdiri di atas bukit paling tinggi.

Dimana, benteng ini diketahui didirikan berkisar pada tahun 1243 Masehi yang terdapat di Desa Wawotimu, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Meski sudah lama, namun hingga saat ini masih menampakkan kekokohannya walaupun sudah tak terawat.

Bagaimana tidak, benteng yang menandai peradaban sejarah dan cagar budaya itu, kini hanyalah benteng yang terdiri dari hutan belantara serta bangunan tua yang seolah dilupakan.

Benteng Lagole (Awaludin) ini tersusun dari batu gunung yang menyerupai dinding dengan tinggi bervariasi, dari 214 cm hingga 192 cm, dengan ketebalan 70 cm dan lebar 90 cm.

Mesjid di Benteng Awaludin Lagole yang ditumbuhi rumput liar. Foto: Boy/Telisik

 

Sedangkan pada panjang Benteng Awaludin ini sekira 215 meter dan lebar lokasi benteng 110 meter, yang menyerupai sebuah lingkaran.

Posisi benteng ini berada di titik 05°45.641? LS dan 123°57.805’BT.

Menurut penjaga Benteng Awaludin, La Abu, dahulu kala di benteng tersebut terdapat sebuah desa yang ditinggali kelompok masyarakat, dan lebih dikenal dengan lima lawa (Lima Perkampungan), yang terdiri dari Lawa Tano, Lawa Liku Umbua, Lawa Tungka, Lawa Tiroau, dan Lawa Nata.

"Benteng Awaludin ini karena Awal yang berarti permulaan dan Din yang berarti Agama. Dengan masuknya Islam pada tahun 1930 atau 1526 Masehi yang bertepatan dengan masuknya Islam di burangasi," kata La Abu, Sabtu (14/8/2021).

Kata dia, dalam kawasan benteng ini terdapat terdapat satu makam keramat Awaludin (orang Tomia dahulu menyebutnya Kawalijjini), karena sosok manusianya besar dan tinggi, serta ada pula beberapa makam peninggalan lainnya di dalam benteng.

Kemudian, lanjut dia, isi miniatur aset situs lain dalam benteng diantaranya Masjid, Meja Syawara (tempat musyawarah/berunding), Gua Haeibu (rahasia), dan Baruga Hanta Loho.

"Benteng Lagole mula-mula terbentuk dari kerajaan Sipanyong dan padatimu yang juga asal muasal penduduk Tomia. Padatimu adalah anak dari Timbarado dan Sitinya. Timbarado berasal dari Mindanao (Manila), sedangkan istrinya Sitinya dari Tobelo," ujarnya.

"Sipanyong sendiri berasal dari Maluku. Dari hasil perkawinan Sipanyong dan Padatimu ini jumlah turunannya makin banyak, sehingga dibukalah daerah untuk tempat tinggalnya di Benteng Suiya," sambungnya.

Pada masa Raja Sipanyong, kepercayaan saat itu masih menganut agama Hindu. Hingga pada suatu hari, ada satu kapitan yaitu kapitan Patipelohi (Yii Sangia Komba-Komba) menyukai salah satu putri Tomia sampai menikahinya.

Mereka dikaruniai dua anak yang bernama Wa Singku Jalima (Waja Walio) dan Wa Singku Ndea (Wa Sironga).

Meriam yang  berada di Benteng Awaludin Lagole. Foto: Boy/Telisik

 

Dari salah satu anak Kapitan Patipelohi yang bernama Wa Singku Jalima ini yang menikah dengan sebutan encik Sulaiman (Sayid Sulaiman), lahir cikal bakal masyarakat Tomia menganut Agama Islam. 

Sementara itu, warga setempat lainnya, Arupalani mengungkapkan, demi keamanan turunannya dari bajak laut, maka Sipanyong kemudian pindah lagi membuka tempat bermukim di gunung O’do yang kini menjadi Desa Lagole.

"Yarolangge karena ada lahan yang kosong, sehingga masyarakat pada saat itu diarahkan kelahan yang lebih luas. Disana ada pembagaian wilayah, di mana masyarakat benteng dahulu sebagian merupakan masyarakat Desa Lagole dan Tiroau," kata Arupalani.

Baca Juga: Pesona Atraksi Budaya 4 Desa Wisata di Pulau Wangi-Wangi

Baca Juga: Desa Wisata Palahidu Barat Binongko, Tawarkan Atraksi Wisata Unik

Uniknya lagi, kata dia, mesjid di Desa Tiroau saat ini masih menggunakan nama mesjid di benteng Tersebut. Alasannya, karena mata pencarian lebih ke pada pantai, sehingga masyarakat bermukim di sana.

Begitupun halnya masyarakat Lagole, yang memilih menetap di pegunungan karena mata pencarian sebagai petani.

Seiring berjalannya waktu, benteng ini tidak pernah difungsikan lagi selanyaknya sebagai peninggalan sejarah yang harus dijaga kelestariannya.

Sejalan dengan itu, pemerintah desa setempat berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terhadap pelestarian cagar budaya tersebut.

"Berbicara jalan rabatnya kondisinya sudah mulai rusak. Kemudian pepohonannya juga sudah kotor atau lebat, mestinya harus ada pembugaran ulang. Makanya kemarin kita dari pemerintah desa mau mengusulkan untuk membenahi kembali dan dibersihkan. Karena di sana tidak bisa ditambah ataupun dikurangi, sehingga minimal kita bersihkan saja. Karena secara mistik masih ada," ungkap anggota BPD Desa Lagole, Ahmad. (A)

Reporter: Boy Candra Ferniawan

Editor: Fitrah Nugraha

Baca Juga