adplus-dvertising

Keunikan dan Filosofis Masjid Soko Tunggal

Affan Safani Adham, telisik indonesia
Jumat, 10 Juli 2020
2069 dilihat
Keunikan dan Filosofis Masjid Soko Tunggal
Masjid Soko Tunggal yang kaya akan ornamen. Foto: Ist.

" Jika tidak ada pandemi COVID-19, masjid bersejarah ini ramai dikunjungi untuk wisata religi. "

YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Di lingkungan Keraton Yogyakarta terdapat enam bangunan masjid, di antaranya adalah Masjid Soko Tunggal, Masjid Penapen, Masjid Selo, Masjid Sumur Gemuling, Masjid Rotowijayan dan Masjidil Morgoyuwono.

Dari enam masjid tersebut hanya ada dua masjid yang kaya akan ornamen, yaitu Masjid Morgoyuwono dan Masjid Soko Tunggal.

Pada interior Masjid Soko Tunggal ornamen banyak terdapat pada tiang yang berfungsi sebagai penopang atap yang memayungi bangunan masjid sehingga menyerupai payung yang sedang terbuka.


Sedangkan pada interior Masjid Margoyuwono ornamen banyak ditemukan sebagai konstruksi dan juga sebagai elemen hias saja.

Ornamen interior pada Masjid Soko Tunggal dan Masjid Margoyuwono adalah ornamen tradisional Yogyakarta yang mendapat pengaruh Islam, Hindu dan Budha. Walaupun kedua masjid merupakan perpaduan dari berbagai budaya yang berbeda, budaya yang berasal dari Indonesia dalam hal ini adalah budaya Jawa merupakan yang dominan sehingga kedua masjid tersebut merupakan ikon Jawa.

Masjid-masjid masa lampau yang dibangun di wilayah Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat, banyak memiliki keunikan dan nilai filosofis.

Salah satu di antaranya adalah masjid Keraton "Soko Tunggal" dengan arsitektur unik dan penuh nilai filosofis yang hanya memiliki satu tiang penyangga utama dari kayu.

Keraton Yogyakarta memiliki beberapa peninggalan masjid yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan salah satu masjid yang cukup unik itu adalah Masjid Keraton Soko Tunggal. Terletak di depan pintu masuk obyek wisata Tamansari, Kraton, Yogyakarta.

Masjid ini memiliki keunikan hanya memiliki satu buah soko guru (tiang penyangga utama). Biasanya, bangunan berkonsep Jawa disangga minimal empat batang soko guru.

 

 

Dulu, di wilayah ini tidak ada masjid. Jika melakukan salat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainya, masyarakat menggunakan salah satu bagian bangunan di Tamansari bernama "kedung pengantin".

Pembangunan masjid tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang ada di sekitar Tamansari yang menginginkan sebuah masjid sebagai tempat beribadah. Lalu, pembangunan masjid diketuai GBPH Prabuningrat, kakak Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Bangunan masjid yang berdiri di atas tanah seluas 900 meter persegi merupakan tanah pemberian Sri Sultan HB IX.

Bangunan masjid itu dibuat dengan arsitektur Jawa. Dan Sri Sultan HB IX menunjuk R. Ngabehi Mintobudoyo -- yang merupakan arsitek Keraton Yogyakarta -- sebagai arsitek pembangunan Masjid Keraton Soko Tunggal.

Di tanah tersebut dikuburkan 10 orang pejuang yang meninggal saat Serangan Umum 11 Maret 1949. Dan Sultan HB IX ingin masjid itu juga menjadi monumen bagi para pejuang tersebut.

Baca juga: Syaiful Adnan, Tokoh Pembaharu Seni Lukis Kaligrafi

Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. Jika para jemaah duduk di ruangan masjid akan melihat 4 batang soko bentung dan 1 batang soko guru sehingga semuanya berjumlah 5 buah.

Hal ini merupakan lambang negara Pancasila. Soko guru merupakan lambang sila yang pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung) disebut juga peniung, merupakan lambang kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.

Soko guru yang digunakan adalah kayu jati berukuran 50 cm x 50 cm yang didatangkan dari daerah Cepu, Jawa Tengah.

Saat ditebang, umur kayu jati tersebut telah mencapai 150 tahun. Sedangkan umpak (batu penyangga tiang) berasal dari petilasan Sultan Agung Hanyokrokusuma yang dahulu berkedudukan di Pleret, Bantul.

Di masjid ini juga terdapat beragam ukir-ukiran. Selain dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kewibawaaan, ukiran ini juga mengandung makna dan maksud tertentu.

Ukiran praba berarti bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran saton berarti menyendiri, sawiji. Ukiran sorot berarti sinar cahaya matahari. Tlacapan berarti panggah, yaitu tabah dan tangguh.

Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan atau nisan, berarti bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah SWT.

Ukiran tetesan embun di antara daun dan bunga yang terdapat di balok uleng berarti siapa yang salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah SWT.

Dari aspek konstruksi, bangunan masjid Soko Tunggal ini juga sarat makna. Dalam konstruksi masjid itu ada bagian yang berbentuk bahu dayung. Ini melambangkan orang-orang yang salat di masjid ini menjadi orang yang kuat menghadapi godaan iblis angkara murka yang datangnya dari empat penjuru dan lima pancer.

Sunduk berarti menjalar untuk mencapai tujuan. Santen berarti bersih suci (kejujuran).

Uleng artinya wibawa. Singup artinya keramat. Bandoga artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Tawonan berarti gana, manis, penuh.

Rangka-rangka masjid yang dibentuk sedemikian rupa juga memiliki makna. Saka brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan.

Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang bandoga.

Balok atau soko bindi lambang mencapai cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo.

Sirah gada melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, sempurna baik jasmani dan ruhani. Mustaka digunakan untuk melambangkan keluhuran dan kewibawaan.

Prasasti yang tertera pada dinding depan, Masjid Keraton Soko Tunggal diresmikan pada Rabu Pon, 28 Februari 1973 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Masjid ini selesai dibangun pada Jum'at Pon, 21 Rajab Tahun Be. Ditandai dengan Candrasengkala "Hanembah Trus Gunaning Janma" 1392 Hijriyah atau 1 September 1972 dengan suryasengkala "Nayana Resi Anggatra Gusti".

Masjid ini selalu ramai dikunjungi, baik warga sekitar maupun wisatawan. Apalagi tempatnya berada di komplek wisata Tamansari yang selalu ramai dikunjungi.

Tak hanya wisatawan lokal saja yang tertarik untuk melihat lebih dekat bangunan Masjid Soko Tunggal ini. Beberapa tour guide bahkan kerap mengantarkan turis mancanegara yang penasaran dengan keunikan dari Masjid Soko Tunggal tersebut.

"Jika tidak ada pandemi COVID-19, masjid bersejarah ini ramai dikunjungi untuk wisata religi," ungkap Agus, pemandu wisata, Kamis (9/7/2020).

Reporter: Affan Safani Adham

Editor: Haerani Hambali

TAG:
Artikel Terkait
Baca Juga