adplus-dvertising

Kisah Nur Anugerah, Perawat Asal Wakatobi Berhasil Wujudkan Mimpi Bekerja di Makkah

Nina Nurrahmah, telisik indonesia
Selasa, 31 Agustus 2021
1862 dilihat
Kisah Nur Anugerah, Perawat Asal Wakatobi Berhasil Wujudkan Mimpi Bekerja di Makkah
Nur Anugerah saat melakukan ibadah umrah. Foto: Ist.

" Sambil menunggu wisuda profesi Ners, Ia bersama temannya mengikuti interview untuk bekerja di salah satu rumah sakit yang menjadi mitra kerja sama UNISULA semarang "

WAKATOBI, TELISIK.ID - Nur Anugerah Ali, perawat asal Wakatobi yang kini bekerja di Makkah, Arab Saudi. Bukan perjuangan yang mudah untuk bisa mewujudkan mimpinya mengunjungi kota yang menjadi impian seluruh umat muslim tersebut. Apalagi usianya waktu itu baru 24 tahun.

Setelah diuji dengan ujian terbesar dalam hidup yaitu kehilangan kedua orang tua dalam selang waktu yang relatif singkat, Nur Anugerah Ali pelan-pelan mencoba bangkit untuk menata kembali hidupnya.

Bayangkan saja, ayahnya meninggal dunia pada 29 Agustus 2014. Dua bulan kemudian giliran ibunya meninggal. Sementara Nur Anugerah kala itu tengah menjalani studi S1-nya di UNISULA Semarang.


Kisahnya bermula ketika Ia menjalani pendidikan Ners-nya di fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Islam Sultan Agung Semarang (UNISULA) dengan  Beasiswa Cerdas Sultraku.

Sambil menunggu wisuda profesi Ners, Ia bersama temannya mengikuti interview untuk bekerja di salah satu rumah sakit yang menjadi mitra kerja sama UNISULA semarang.

Ketika sedang menunggu pengumuman, Nur Anugerah mendengar kabar jika salah seorang temannya sedang mengikuti interview di Jakarta untuk bekerja di Arab Saudi sebagai seorang perawat.

Bermodal nekat dan uang pinjaman 500 ribu rupiah dari salah seorang temannya, ia berangkat ke Jakarta untuk mengikuti interview tersebut. Alhasil, Nur Anugerah Ali diterima bekerja di salah satu rumah sakit di Arab Saudi.

“Bukan Nur Anugerah kalau usahanya setengah-setengah. Ia tipe pekerja keras banget. Orangnya pantang menyerah dan selalu ingin menunjukkan ke semua orang bahwa Ia pasti bisa mewujudkan apa yang diragukan oleh orang lain akan kemampuannya,” ujar sahabatnya, Hikmah, Senin (30/8/2021).

Maka betapa bersyukurnya Nur Anugerah ketika berhasil diterima bekerja di Arab Saudi. Namun kesenangannya buyar sesaat ketika ia tahu salah satu syarat keberangkatan adalah ia harus terlebih dahulu membayar uang senilai Rp 10 juta ke agensi tempat ia mendaftarkan diri. Sementara pada waktu yang bersamaan Ia tak memiliki uang sepeserpun di sakunya.

Menepis rasa malu, Nur Anugerah mencoba menceritakan apa yang tengah dialami ke saudara-saudara kandungnya. Dan orang pertama yang menolak keberangkatan Nur Anugerah ke Arab Saudi adalah kakak sulungnya.

“Kita dari 5 bersaudara tidak langsung memberinya izin untuk dia berangkat ke Arab Saudi, terutama saya,” ujar kakak Nur Anugerah, Yeni Kusmiati (40) yang sekarang menjadi staf Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi, Senin (30/8/2021).

Kakak Nur Anugerah itu melanjutkan bahwa alasannya tidak memberinya izin adalah karena dia tahu bahwa tumbuh kembang adiknya itu kurang sehat. Sejak kecil sering sakit, mudah drop, dan alergi cuaca.

"Apalagi kami baru saja kehilangan kedua orang tua kami waktu itu. Jadi masih ada trauma. Yang saya pikirkan waktu itu adalah bagaimana kalau ia tiba-tiba sakit di sana, siapa yang akan merawat? Sedangkan Nur adalah pribadi yang pemalu dan segan sama orang,” tambahnya.

Nur Anugerah (paling kiri) bersama tenaga medis dari India, Mesir, Pakistan, Saudi, di Saudi Natonal Hospital, Makkah. Foto: Ist.

 

“Namun meskipun kami sudah memberi bayangan akan kemungkinan negatif selama bekerja di sana, itu tidak lantas membuatnya menyerah. Ia tetap memilki tekad yang bulat untuk berangkat dan mau tidak mau kami memberinya restu sambil terus berdoa agar segalanya dilancarkan dan selalu dalam lindungan Allah SWT,” tambah Yeni Kusmiati.

Untuk membayar uang Rp 10 juta ke agensi, Nur dan beberapa temannya dibantu oleh kampus UNISULA. Sisanya ia meminjam kepada saudara-saudaranya dan juga bibi-bibinya di Wakatobi dengan jaminan akan dikembalikan ketika ia sudah bekerja di Makkah nanti.

Setelah mengurus segala dokumen yang diperlukan untuk keberangkatan, Nur lalu terbang ke kota Mekkah, Arab Saudi untuk bekerja sebagai seorang perawat di sana pada Juni 2018.

“Pertama kali ke Arab saya mengalami Culture Shock. Mulai dari bahasa, makanan, suhu, dan budaya di sana yang sangat berbeda dengan di Indonesia,” ujar Nur Anugerah Ali.

“Bahasa Arab yang digunakan di sana berbeda dengan bahasa Arab di pesantren. Kemudian dari segi makanan awalnya saya hanya makan nugget dan nasi saja. Lalu di Saudi, suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius dan itu panas banget. Kemudian sebagai perawat kita dilarang untuk senyum kepada pasien karena itu berarti menggoda kalau di sana,” tambahnya.

“Alhamdulillah sekarang hampir semua sudut Kota Makkah sudah pernah saya jelajahi. Termasuk melaksanakan ibadah Haji dan Umroh di usia yang terbilang masih sangat muda yaitu 24 tahun,” kata Nur Anugerah.

Baca Juga: Kisah Prof. Havidz Aima, Anak Desa yang Gapai Mimpi Menjadi Akademisi, Birokrat dan Entrepreneur Sukses

Baca Juga: Sarah Salleh: Kiprahnya di Tengah Status Calon Ratu Brunei Darussalam

Gadis asal Wakatobi itu menambahkan bahwa niat untuk mengunjungi Makkah memang sudah muncul sejak 2 atau 3 tahun sebelumnya. Namun ia tidak menyangka jika Tuhan mengabulkan impiannya secepat itu.

Ia berpikir bahwa impian mengunjungi Kakbah itu mungkin saja baru akan terwujud ketika ia sudah tua karena dibayangannya, di umur segitu ia sudah akan memiliki tabungan dan telah matang secara finansial. Ternyata Allah mengabulkan impiannya di usianya yang ke-24 tahun, saat dimana ia belum memiliki tabungan dan belum matang secara finansial.

“Waktu pertama kali saya ke Masjidil Haram, saya merasa itu seperti mimpi. Saya menangis terharu di situ. Ya Allah Engkau kabulkan harapan saya pengen kesini, pengen berdoa. Saya menangis sejadi-jadinya dan tidak henti-hentinya mengucap syukur,” ujar Nur Angerah membagikan cerita inspiratifnya pada Telisik.id.

“Jangan pernah takut untuk bermimpi. Bermimpilah selagi mimpi itu gratis walau dalam pandanganmu itu sesuatu yang tidak mungkin. Tapi kita tidak tahu bagi Allah itu mudah. Selalulah berprasangka baik sama Allah. Mimpikanlah hal-hal yang baik. Tetaplah jadi orang yang baik. Jangan takut bermimpi dan tetap libatkan Allah dalam segala hal,” pesan Nur Anugerah kepada seluruh anak muda, khususnya di Wakatobi.

Setelah 2 tahun bekerja di Kota Makkah, kini Nur Anugerah Ali bekerja di Kota Jeddah Arab Saudi dan baru akan kembali ke Indonesia pada 2023 mendatang. (A)

Reporter: Nina Nurrahmah

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga